Jangan Takut

Oleh: Marco
Sinar Djawa, 11 April 1918.

Sungguhpun amat berat orang bergerak memihak kepada orang yang lemah (orang yang tertindas), lihatlah adanya pemogokan yang berulang-ulang diwartakan dalam Sinar ini. Di situ sudah menunjukkan bilangannya berpuluh-puluh korban itu pemogokan, inilah memang sudah seharusnya. Sebab melawan kaum yang mempunyai pabrik-pabrik itu sama artinya dengan melawan pemerintah yang tidak adil. Kalau kami menilai hal itu saya lalu ingat bunyinya buku: Om leven en vrijheid dan Zes maanden onder de commando’s. Buku-buku itu menunjukkan betapa haibatnya peperangan antara orang Inggris dan orang Belanda (booren) ada di Zuid-Afrika. Karena pada masa itu orang-orang yang ada di Zuid-Afrika (Kaapstad, Bloemfontein enz) merasa dihinakan oleh pemerintah Inggris. Lantaran hal ini, maka di situ timbullah peperangan suara (surat kabar), yaitu fihaknya Pemerintah dan fihaknya rakyat. Tidak jarang lagi kalau pada itu
waktu Pemerintah Inggris memberi bantuan beberapa surat kabar yang terbit di Zuid Afrika, supaya surat-surat kabar itu bisa memihak kepada Pemerintah Inggris. Barangkali Pemerintah sendiri juga membikin surat kabar, sengaja dibuat melawan suara rakyat, inilah sudah boleh ditentukan. Tuan pembaca kami kira bisa mengira sendiri, seberapa beratkah pikulan redacteur-redacteur itu yang memihak kepada rakyat di dalam itu jaman peperangan suara di Zuid Afrika? Walaupun begitu, banyak anak anak muda yang dengan sukanya sendiri turut membantu itu surat kabarnya rakyat, meskipun dia tahu juga, bahwa bantuannya itu hanya kekuatan yang kecil sekali. Tetapi kekuatan kecil itu kalau bertimbun-timbun jadi kekuatan yang besar!

Apakah sebabnya itu peperangan? Begitu barangkali seorang tuan pembaca bertanya. Ya, tidak lain itu peperangan juga rebutan makan, hidup, kekayaan, kemanusiaan enz. enz. Adapun yang membikin besar itu peperangan, sebab rebutan parit mas (goudmijmen). Itu waktu banyak bangsa Inggris yang lebih suka memihak kepada bangsa Belanda (booeren), karena perbuatan Inggris itu masa dipandang tidak adil oleh bangsanya sendiri. Begitu juga waktu pecah perang, banyak bangsa Inggris yang turut perang mati-matian memihak kepada booren. Begitulah orang yang tebal kemanusiaannya, dia tidak pandang bangsa, tetapi memandang kebaikan dan kejahatan! Meskipun bangsa sendiri kalau sudah terang jahat juga dibinasakan, begitu sebaliknya. Tidak saja pada itu waktu bangsa Inggris sama melawan bangsanya sendiri, tetapi bangsa Duitsch dan Franch juga ada yang membalas kepada orang Belanda (booren).

Sekarang kami hendak membicarakan tentang peperangan suara di tanah kita Hindia yang seperti zambrut ini. Apakah peperangan mencari makan di Hindia sini akhirnya juga seperti peperangan mencari makan di Zuid Afrika? Inilah masih jadi pertanyaan yang tidak mudah dijawab! Kami tahu ada juga bangsa kita anak Hindia yang lebih suka memihak kaum uang dari pada memihak bangsanya yang sudah tertindas setengah mati, maar . . . jangan putus pengharapan pembaca! Di sini ada banyak sekali anak-anak muda yang berani membela kepada rakyat, dan kalau perlu sampai berbatas yang penghabisan. Dari itu kita orang tidak usah takut dengan bangsa kita makhluk yang lidahnya panjang, lidah mana yang hanya perlu dibuat menjilat makanan yang tidak banyak, dan dia bekerja dibuat mesin melawan bangsanya sendiri yang ini waktu masih jadi injak-injakan. Bangsa apakah orang semacam ini?! Itulah tuan pembaca bisa kasih nama sendiri! Sekarang ada lagi pertanyaan, yaitu tidak saban orang bisa menjawab itu pertanyaan: Apakah di Hindia sini ada surat kabar yang dibantu oleh kaum uang, supaya itu surat kabar bisa melawan surat kabarnya rakyat? Ada! Tetapi nama surat kabar itu pembaca bisa mencari sendiri.

Dari itu saudara-saudara dan sekalian pembaca, sungguhpun berat sekali kita bertanding buat menghela bangsa kita yang amat tertindas, sebab kecuali kita mesti berani bertanding dengan kaum uang, juga dengan bangsa kita sendiri yang lidahnya panjang. Jadi sesungguhnya pada ini waktu kita orang tidak bisa cuma memegangi kebangsaan (nationalisme saja, sebab bangsa kita masih ada yang jadi perkakas, melawan kepada kita sendiri. Jadi seharusnya kita juga mesti mempunyai hati kemanusiaan (socialisme). Ingatlah siapa yang menindas kita? [. . .]

Tetapi [. . .]

Lain dari itu, kita memberi ingat kepada saudara-saudara, janganlah suka membaca sembarang surat kabar, pilihlah surat kabar yang betul-betul memihak kepada kamu orang, tetapi yang tidak memihak kepada kaum uang. Sebab kalau tidak begitu, sudah boleh ditentukan, akhirnya kita orang Hindia tentu akan terjerumus di dalam lobang kesengsaraan yang amat hina sekali.

Achir kalam, kami berkata: NGANDEL, KANDEL, BANDEL, itulah gambar hatinya manusia yang tidak memanjangkan lidahnya, tetapi menunjukkan giginya yang amat tajam, dan kalau perlu . . .
ooo0ooo

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s