Sekolah Sarekat Islam Semarang: Pendidikan Yang Humanis

Where is Revolutions black white

Tan Malaka sebagai penggagas pendirian sekolah Sarekat Islam Semarang dan Sekolah Sarekat Islam Bandung memberikan penjelasan mengenai sistem pengajaran yang akan dilaksanakan bagi sekolah ini. Ada tiga tujuan yang hendak dicapai dengan didirikannya sekolah Sarekat Islam Semarang ini:

  1. Memberi coekoep banjak djalan (kepada para moerid) oentoek mendapatkan mata pencaharian di dunia jang kapitalistis (berhitoeng, menoelis, ilmoe boemi, bahasa Belanda, Melaju, Djawa).
  2. Memberi hak kepada para moerid oentoek mengikoeti kegemaran (hobi) mereka dengan membentoek perkoempoelan-perkoempoelan.
  3. Mengarahkan perhatian para moerid pada kewadjiban mereka jang akan datang terhadap djutaan keloearga Pak Kromo.[1]

Tujuan pertama sama seperti sekolah-sekolah lain, tetapi di sini rasa kemerdekaan harus dibangkitkan, ini dapat dilakukan dengan bergantung kepada kebudayaan tradisional, seperti tembang Jawa dan wayang. Murid-murid di sekolah Sarekat Islam Semarang diberi kebebasan untuk menyalurkan hobi mereka sehingga bakat mereka yang tersembunyi dapat keluar dari tekanan-tekanan sistem kapitalis.

Mata pelajaran tidak diberikan menurut suatu skema tertentu seperti di HIS, juga tidak ada buku yang menerangkan dengan cara apa para murid harus melakukan sesuatu, tetapi setiap murid harus mencari dan menggunakan metodenya sendiri dan mengikuti tempo pelajarannya sendiri sesuai dengan kemampuannya.[2] Pelajaran tidak diberikan dengan memakai bahasa Belanda sebagai bahasa pengantar, ini merupakan rintangan berat dalam belajar berhitung dan menulis tetapi penting juga untuk menguasai bahasa Belanda karena bahasa itulah yang digunakan oleh kaum kapitalis.

Artinya di sini bahwa pendidikan yang diajarkan oleh sekolah Sarekat Islam Semarang memberi sebuah kebebasan mutlak dan tanggung jawab yang besar kepada murid untuk mengenal dirinya sendiri dan lingkungannya. Dengan pendidikan yang tidak tertekan oleh peraturan, murid memiliki kebebasan untuk berpikir dan mengembangkan bakatnya.[3]

Bagi sekolah SI penting artinya untuk mencoba menarik anak-anak yang belajar di Sekolah Pemerintah Kelas Dua, tempat pendidikan diberikan dalam bahasa pribumi, supaya mereka mau sekolah SI. Anak-anak itu baru berumur lebih kurang tiga belas tahun dan terlalu muda untuk bekerja, tetapi mereka sering tidak punya uang untuk masuk sekolah lain, di samping menghadapi kesulitan tidak bisa berbicara dalam bahasa Belanda.

“karena itoe, mereka merasa mendjadi korban kapitalisme jang hanja memberi pendidikan kepada orang kaja dan kepada mereka jang mampoe membajar oeang sekolah. Anak-anak itoe moedah tertarik dan dapat menangkap rasa kemerdikaan karena mereka ingin naik lebih tinggi tetapi tidak mampoe. Kaoem moeda seperti itoelah di Roesia jang berdiri di depan sekali di medan pertempoeran dan menerima peloeroe-peloeroe kaoem kapitalist dan tetap berpegang pada peratoeran-peratoeran komoenis; jang memberi kesempatan kepada setiap orang oentoek mengembangkan pikiran dan perasaannja. Anak-anak kita jang masoek sekolah SI dan jang tadinja belajar di sekolah Kelas Doea sama seperti kaoem moeda Roesia itoe. Mereka rajin dan ingin mentjapai sesoeatoe, dan bila menjanji lagoe Internationale (lagoe oran-orang jang tertindas di doenia), soeara mereka mendjadi keras dan mata mereka berapi-api karena benar-benar menjadari arti lagoe itoe”.[4]

Maksud tujuan kedua adalah mengembangkan sifat anak-anak. Tidak baik bagi anak-anak untuk belajar berhari-hari, bermain harus mendapatkan tempat yang penting. Bila sedang bermain-main, anak-anak bergaul dan saling mengenal, dan bila mereka sering bermain bersama maka pemikiran mereka tidak hanya tertuju pada kepentingan individual.[5] Selain itu, di dalam permainan anak-anak mengikuti peraturan yang dibuat sendiri dan dilaksanakan oleh mereka, sehingga hal ini membawa mereka kepada disiplin diri yang baik. Pada tingkatan yang lebih serius para murid didorong untuk membentuk perkumpulan-perkumpulan. Demikianlah telah didirikan sebuah “komite perpustakaan” yang pengurusnya terdiri dari murid-murid semua. Untuk itu mereka membuat peraturan sendiri. Untuk mengisi kas mereka dengan uang dan lemari perpustakaan dengan buku-buku, mereka dengan memakai selendang merah, mengadakan pidato dirapat-rapat SI dan menyanyikan lagu Internasionale.[6]

Segala sesuatu harus mereka selenggarakan sendiri, mereka harus berpikir dan bertindak sendiri, dan Tan Malaka berharap akan berdirinya perkumpulan-perkumpulan untuk bermain sandiwara, pertunjukan wayang, mengeluarkan surat kabar dan seterusnya.[7] Hal ini jelas menggambarkan bahwa perkumpulan-perkumpulan akan membawa kepada kemandirian para murid dalam berusaha menghadapi rintangan hidup.

Tujuan yang ketiga adalah sesuatu yang sangat sulit diwujudkan. Betapa mudahnya anak-anak menjadi terasing dari orang tua bila memasuki neraka kapitalis…, di sekolah HIS, murid-murid belajar tentang kebersihan, tetapi tidak diterangkan bahwa Pak Kromo tidak tahu apa itu kebersihan dan tidak tahu pula bahaya yang timbul dari kotoran, keluar dari sekolah, mereka memarahinya karena kotornya. Dengan begitu, sekolah HIS memisahkan murid-muridnya dari rakyat.[8] Dan juga tidak membangkitkan rasa kasihan dan rasa mempunyai kewajiban untuk memperbaiki kaum Kromo. Di sana pun para murid belajar merasa jijik terhadap pekerjaan tangan yang secara otomatis dihubungkannya dengan rakyat yang kotor, bodoh, dan tidak tahu rasa hormat dan karenannya menganggap dirinya termasuk orde yang lebih rendah. Pekerjaan tangan itu merendahkan gengsinya sebagai orang yang bersekolah.[9]

Di sekolah SI sikap ini didobrak. Telah dibentuk suatu “komite kebersihan”. Dan sekalipun, ketika sekolah baru dibuka, murid-murid menolak tawaran Tan Malaka untuk membantunya membersihkan papan tulis dengan menyatakan bahwa itu pekerjaan seorang pelayan, tiga bulan kemudian tampak para murid setiap pagi bekerja dengan ember dan kain pel untuk membersihkan ruang sekolah. Jika para murid menyadari setiap pekerjaan tingkatannya sama, maka lebih lebih cepat mereka akan merasa mempunyai hubungan erat dengan rakyat. Dan mereka juga akan mempunyai keberanian berbicara di rapat-rapat SI. Ini dapat mereka pelajari di perkumpulan-perkumpulan mereka sendiri, sungguh aneh sekali betapa tertibnya rapat-rapat di sini berlangsung.

Perkumpulan-perkumpulan mereka merupakan sekolah penting bagi mereka tempat mereka belajar mengembnagkan rasa kemerdekaan, di sini mereka belajar berbicara di muka umum, dan semua ini apakah tidak lebih penting daripada bisa menyebut sungai-sungai di Kalimantan?[10] Tan Malaka meringkaskan sekali lagi programnya dalam empat pokok:

  1. Di sekolah, anak-anak SI mendirikan sendiri berbagai perkoempoelan, di bawah pimpinan mereka sendiri, jang penting artinja dari segi djasmani dan rohani. Dalam mengoeroes perkoempoelan-perkoempoelan itoe, mereka belajar bersatoe, menjadari bahwa persatoean itoe perloe dan mereka merasa senang dalam pergaoelan.
  2. Di sekolah ditjeritakan nasib kaoem proletar di Hindia dan negara-negara lain, dan djuga mengapa nasib mereka begitoe boeroek.[11] Selain itoe, kita membangkitkan rasa kasihan di dalam diri mereka terhadap orang-orang hina dan kita toenjoek pada kewadjiban jang haroes mereka pikoel pada masa mendatang, setelah mereka mendjadi dewasa, oentoek membela berdjoeta-djoeta kaoem proletar.
  3. Di rapat-rapat SI dan gerakan boeroeh, para moerid jang soedah banjak mengerti dodorong soepaja dapat mengikoeti soeara kaoem Pak Kromo dan mengeloearkan pikiran ataoe perasaan kaoem miskin itoe, sesoeai dengan oesia mereka, pendeknja, mereka didorong oentoek berbitjara.
  4. Sehingga pada waktoe mendjadi dewasa dengan pendidikan di sekolah SI, mereka tidak hanja lebih soeka membela rakjat dengan mengeloearkan boekoe-boekoe ataoe pikiran-pikiran, tetapi akan mendjadi sifatnja dan kebiasaannja oentoek selaloe berlakoe demikian.[12]

Keterangan Tan Malaka memperjelas bahwa sekolah SI yang didirikan memberikan sebuah perasaan yang merdeka bagi murid-muridnya ditengah-tengah kehidupan pemerintahan Belanda yang kapitalistik. Selain itu juga ditanamkannya nilai-nilai kemanusiaan sehingga pendidikan yang dilakukan oleh sekolah SI adalah menanamkan nilai-nilai humanisme bukan sebagai calon penggerak roda sistem kapitalisme.


[1] Soeara Ra’jat, tanggal 1 Oktober 1921 dan tanggal 1 November 1921. Koleksi Perpusnas RI Jakarta.

[2] Ibid.

[3] Pendidikan yang diberikan di sekolah-sekolah pemerintah kolonial Belanda memiliki aturan yang ketat dengan standar Eropa, sehingga murid hanya dijadikan sebuah mesin untuk mencapai tujuan kolonial.

[4] Ibid.

[5] Kepentingan individual sangat diunggulkan dalam paham kapitalistik sehingga si lemah akan terus menjadi lemah dan si kuat akan bertambah kuat.

[6] Soeara Ra’jat, Op. Cit.

[7] ibid.

[8] Menurut Karl Marx, sistem kapititalisme membuat sebuah alienasi bagi masyarakatnya, sehingga masyarakat dijauhkan dari realitas penindasan yang dilakukan oleh sistem kapitalisme. V.I. Lenin, The State and Revolution, terjemahan dalam indomarxist.com.

[9] Soeara Ra’jat, Op. Cit.

[10] Ibid.

[11] Menurut Mestika Zed, pemerintah kolonial Belanda memang telah merancang kurikulum yang meniadakan sejarah bangsa Indonesia sendiri bagi pendidikan di sekolah-sekolah semacam HIS, dan sekolah pemerintah lainnya. Selain itu untuk mata pelajaran yang lain dan pengetahuan lainnya serta ketrampilan teknis yang pada gilirannya semakin menjauhkan muroid-murid dari lingkungan tradisionalnya, Mestika Zed, Loc. Cit., hal. 24-25.

[12] Ibid.

About these ads

3 comments on “Sekolah Sarekat Islam Semarang: Pendidikan Yang Humanis

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s