Apakah Pabrik Gula Itu Racun Buat Bangsa Kita?!

Oleh: Marco

Sinar Djawa, 26 Maret 1918.

 Tuan H.E.B. SCHMALHAUSEN, pensiunan Assistent Resident di tanah Jawa bukunya yang dikasih nama OVER JAVA EN DE  JAVANEN, betapakah sangsaranya bangsa kita orang desa yang tanahnya sama disewa pabrik. Di sini kami tidak perlu lagi  menerangkan lebih panjang tentang isinya buku yang tersebut di atas, tetapi kami hendak membuka aduan beberapa orang desa yang sawahnya disewa oleh pabrik gula. Sampai sekalian pembaca telah menaksikan sendiri, di tanah kita inilah penuh dengan pabrik-pabrik gula dan berjuta-juta rupiah pabrik itu bisa tarik keuntungan. Kalau hal itu dipikir dengan hati yang suci, orang tentu bisa berkata, bila kauntungan sebesar itu kakayaan bangsa kita orang desa yang mempunyai sawah disewa pabrik. Dari itu tidak salah lagi kalau ada yang berkata: Di mana ada pabrik gula, tembako, nila enz, enz. di situlah orangnya desa ronkang-rangkang! Meskipun kami mengerti bahwa kapitalisme dan regeering itu sasungguhnya jadi satu badan, tetapi di sini kami hendak menguraikan dengan cara yang baik, juga dengan sangat pengharapan kita supaya pamerintah sudi memperhatikan tulisan kami ini, agar supaya bangsa kita saudara desa tidak terlalu sangat mendapat tindesan dari pabrik-pabrik gula.

Caranya pabrik gula hendak menyewa sawah orang-orang desa itu yang sudah kejadian lantaran dari politie desa: Lurah, Carik enz, enz, jadi pabrik tidak usah rewel-rewel masuk keluar di rumah-rumah orang desa yang sawahnya hendak disewa pabrik. Apakah perkara ini sudah mestinya pegawai desa atau Gupermen: Asistent Wedono, Wedono dan Regent mesti menolong kaperluan pabrik buat mencari tanah yang akan ditanami tebu? Kalau menurut adilnya, seharusnya pabrik mesti datang di rumah masing-masing orang desa dan lain-lainnya sama sekali tidak boleh turut campur tentang perkara sewa menyewa itu sudah kejadian dan hendak teken perjanjian. Banyak   orang-orang desa bilangan pabrik Cepiring dan Gemuh afdeling Kandal, Semarang, bahwa mereka itu merasa terlalu menyesal sekali, karena sawahnya disewa oleh pabrik, sebab uang sewaan tanahnya dari pabrik itu lebih sedikit daripada hasil kalau itu tanahnya dikerjakan sendiri. Apakah sebabnya itu pabrik bisa menyewa tanah orang desa dengan harga murah sekali? Tidak lalu tentu dari rupa-rupa akal yang tidak baik buat orang desa itu, tetapi baik buat lurahnya enz enz. Begitu orang memberi kabar kepada kami. Kalau kabar itu nyata, kami berseru kepada pemerintah harus menyelidiki, apakah priyayi-priyayi dan lurah yang memegang pemerintahan di pabrik situ tidak terima presen dari pabrik, sudah tentu akalnya pabrik menyewa tanah orang-orang desa dengan laku yang tidak baik. Hal ini kami telah mendapat keterangan dari beberapa orang desa yang sawahnya disewa pabrik. Dibawah ini kami bisa kasih keterangan dengan pendek, supaya jadi timbangan sekalian orang yang sehat
pikirannya: “Sebahu sawah oleh pabrik tidak lebih f 66,-(enam puluh enam rupiah) di dalam 18 bulan, yaitu seumurnya tebu; sawah sebahu kalau ditanami padi bisa tiga dalam 18 bulan, dan itu padi kalau dijual tidak kurang dari f 300 (tiga ratus rupiah), jadi tiap-tiap sebahu sawah yang disewa pabrik, orang desa rugi f 234,- (dua ratus tiga puluh empat rupiah). Cobalah pembaca pikir sendiri bukankah sudah terang sekali kalau menurut keterangan di atas itu, semua orang desa yang sawahnya disewakan pabrik cuma f 66,- (enam puluh enam rupiah) sebahu dalam 18 bulan lamanya, dia orang mendapat kerugian f 234,- (dua ratus tiga puluh empat rupiah). Lagi pula semua sawah yang luas ditanami tebu itu tidak bisa baik lagi ditanami padi. Kalau menilik hal itu terang sekali orang-
orang desa yang sawahnya disewakan pabrik itu tentu dengan akalan yang tidak baik, sebab kalau tidak begitu, kami berani berkata, tentu orang desa tidak nanti sawahnya boleh disewa pabrik tebu.

Apakah tidak lebih baik pemerintah menentukan harga tanah yang sama disewa pabrik tebu, misalnya: pabrik
tidak boleh menyewa tanah orang desa kurang dari f 200,- sebahu di dalam 18 bulan. Kalau hal ini dilakukan, tentu bangsa kita orang desa tidak bakal sengsara lantaran adanya pabrik-pabrik gula.

Keterangan-keterangan ini masih pendek sekali, sebab hanya kami ambil yang perlu saja, tetapi kalau ini usikan tidak berguna, yaitu tidak bisa mengubah haluan pabrik tentang sewa menyewa tanah kepada orang-orang desa, di belakang hari hendak kami terangkan dengan panjang lebar juga semua perkara yang gelap-gelap, supaya bangsa kita orang desa tidak menderita kesusahan. Ingatlah ini waktu mahal makanan, seharusnya pemerintah berdaya upaya supaya semua sawah ditanami padi, tetapi tidak ditanami tebu seperti sekarang.

ooo0ooo

Iklan

4 comments on “Apakah Pabrik Gula Itu Racun Buat Bangsa Kita?!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s