SNEEVLIET DIBUANG!!!

Oleh: Marco

Sinar Hindia, 10 Desember 1918.

Seperti yang telah kita kabarkan kemarin, bahwa saudara Sneevliet betul jadi dibuang. Sesungguhnya tidak nama jarang kalau saya mesti memberhentikan diri tidak turut di dalam pergerakan Hindia, terutama Sarekat Islam. Sebab kalau saya hitung, adalah 8 tahun lamanya saya bergerak di lapangan jurnalistik, yaitu mulai tahun 1914 nama saya sudah tercetak di halaman surat kabar Medan Prijaji di Bandung, surat kabar mana yang saya jadi Mede Redacteur-nya. Waktu Sarekat Islam belum lahir di dunia saya sudah berteriak
ada di Medan Prijaji tentang tidak adilnya Pemerintah di Hindia sini dan rendahnya bangsa kita. Teriakan-teriakan itu sekarang sudah menjadi umum, dan asal orang yang mempunyai kemanusiaan dan tidak jilat-jilat kepada orang yang kuat tentu berani berteriak!

Waktu jaman De Indische Partij dan orang-orang yang memimpin sama di buang, hanya seorang dua orang saja yang berani membela kepada Douwes Dekker, Tjipto dan Soewardi, tetapi sebagian besar dari bangsa kita sama takut campur hal itu, karena mareka itu dikatakan oleh fihaknya pemerintah orang yang merusak keamanan negeri! Tiga orang itu yang dulu dikatakan berbahaya oleh pemerintah sekarang sudah tidak dipandang begitu lagi, tandanyasudah sama diizinkan pulang kembali di tanah airnya, Hindia.

Sekarang jaman I.S.D.V., jaman mana yang kita harusberkata terus terang kepada publik, mengertinya: bangsa bangsat harus kita katakan bangsat juga, dan bangsa baik pun kita katakan baik. Tetapi! . . . ya, pembaca, selalu ada tetapinya saja, tetapi berapa orang bangsa kitakah yang berani membela kepada bangsa kita seperti Sneevliet yang dibuang lantaran membela kita orang itu? Ya! Tidak! Buat saya sendiri, hati saya tidak berubah lantaran Sneevliet dibuang itu, mengertinya tidak senang dan tidak susah, cuma saja kita mesti memikirkan kesusahannya Sneevliet. Lantaran Sneevliet dibuang itu . . . barangkali semua pemerintahan . . . ada di dalam perintahnya kapitalisme. Sneevliet berani sampai dibuang! Apakah pemimpin pergerakan kita juga berani dibuang di Ambon atau
Menado atau kalau perlu juga di pulau yang tidak ada orangnya sama sekali? Bangsa apakah yang tertindas di Hindia sini? Yaitu bangsa kita. Mengapakah seorang Belanda seperti Sneevliet yang mesti membela tindasan-tindasan itu, dan sampai dia berani dibuang, sedang bangsa kita yang mengaku jadi pemimpin rupa-rupanya jarang yang berani bergerak seperti Sneevliet. Apakah orang  Hindia bukan manusia seperti Sneevliet. Sesungguhnya keadaan itu, keadaan yang terbaik! Kalau menilik kesusahannya bangsa kita pada ini waktu, seharusnya kita sendiri mesti bergerak dua kali lebih keras daripada pergerakannya Sneevliet dan konco-konconya. Orang tidak usah takut apa yang akan menyerang badan kita . . . Ingat! Kita tidak bisa hidup lebih dari seratus tahun! Apakah mengertinya pembuangan dan pembualan yang diadakan oleh pemerintahan seperti sekarang ini? Kalau saja ada kekuatan dan ada perkakas buat membunuh manusia, sudah tentu saja bisa mengadakan pembualan danpembuangan. Siapa orang yang tidak menurut kehendaknya tentu saja masukkan bui dan kalau perlu saja buang. Walaupun semua kelakuan saya itu merugikan orang-orang itu. Pendeknya kalau saya kuat, saya bisa merampok membunuh sesuka saya, dan orang banyak juga tidak mengatakan perbuatan saya itu: rampok-rampokan, grajak-grajakan dan bunuh-bunuhan. Sebab . . .  ya! Sebab saya punya kekuatan! Tetapi apakah perbuatan saya semacam itu tidak dikatakan BAJINGAN oleh orang yang punya pikiran waras? Tidak tahu!

Pembaca tentu sudah tahu, bahwa ini waktu di Eropa tengah banyak  raja yang sama NGRONTOKK, raja-raja mana yang dulu amat masyhur namanya itu raja-raja sebabnya NGRONTOKK! Tidak lain dari sebab lakunya yang sewenang-wenang dan tidak mengerti permintaannya orang banyak. Pendeknya perkara orang boleh melakukan sesukanya asal saja berani, tetapi keberanian yang dilakukan dengan tipuan yang digunakan menyenangkan diri sendiri, itu kelakuan jahanam!!

Apakah kalau Sneevliet dibuang lantas pergerakan Hindia menjadi padam? Sebelumnya Sneevliet datang di tanah Jawa sini, saya sudah menerbitkan surat kabar DOENIA BERGERAK, surat kabar mana yang haluannya tidak beda dengan Het Vreij Woord. Jadi sebelumnya Sneevliet ada di tanah Jawa, di Hindia biji revolutionaire sudah mengembang di mana-mana!

Jadi ikhtiar pemerintah yang lantaran kemauan kapitalisten menyuruh membuang Sneevliet dari tanah Jawa itu malah membikin kerasnya pergerakan Hindia.
Bagus!

-ooo0ooo-

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s