Kromo di Jawa

Oleh: Saturnus

Sinar Djawa, 20 Pebruari 1918

 Pagi-pagi pukul lima bangunlah Kromo dari tidurnya akan mengusahakan sawahnya. Ia mengeluarkan kerbau dari kandangnya dan memanggul bajak, menyingsingkan bajunya. Seorang budak kecil yang belum berumur, meskipun belum waktunya bekerja berat, berjalan di belakang bapanya itu membawa cangkul. Bekerjalah Kromo dengan anak sekeras-kerasnya setiap hari. Setelah pukul sebelas pulanglah Kromo dengan perut kosong, tetapi seribu sayang perutnya itu tak dapat diisi dengan segera, karena bini Kromo belum datang dari pekan menjual kayu-kayu dan daun pisang. Kromo terpaksa menunggu kedatangan bininya itu dengan bekerja memotong-motong kayu, mengambil buah nyiur akan dijual, pada esok paginya. Kira-kira jam dua Kromo baru bisa makan dengan nasi merah dan ikan gerih; tetapi kelihatanlah amat lezat cita rasanya karena dia empunya perut “amat kosong.” Habis makan pergi pula Kromo ke sawah, pada pikirannya biarlah lekas selesai pekerjaannya itu. Jam enam sore ia baru pulang, kalau tak ada nasi biasanya makan ketela pohon yang direbus atau dibakar; itulah sudah cukup buat menahan perutnya. Dari payahnya pada waktu malam ia tidur pulas, dan bininya senantiasa: “remrem ayam” sebab merasakan apakah gerangan yang akan dimakan pada esok paginya???

 Pada musim menanam padi bini Kromo setiap hari pergi ke sawah. Kromo sekarang harus mencahari duit buat makan seanak-bininya. Ia pergi mengambil rumput atau buruh menjadi kuli di fabriek-fabriek. Kromo kurang mengarti pada pekerjaan yang dijalani itu, tetapi meskipun begitu bekerjalah Kromo dengan sesungguh-sungguh hati. Malanglah nasib diri si Kromo, pekerjaannya ada salah sedikit dengan ketahuan Bendoro Tuan Besar. Bendoro Tuan ta memandang kiri kanan, lalu marah sekeras-kerasnya pada Kromo, POT KEDOESLENG, rek, reek, cukimai, anjing gila, kau orang Jawa selamanya bodoh seperti kerbau, tidak tahu apa-apa!! Kromo meskipun hanya mendapat 20 cent sehari, mendapat cacian dan makian yang amat kotor itu terpaksa berdiam diri, sebab ingat ia akan anak bininya. “INGGIH – NDORO -DALAM – SAMPUN – LEPAT,” kata Kromo!!! Pada waktunya menerima bayaran, Kromo tak terima genap, kata Bendoro Tuan: “Bayaranmu kupotong separo, sebab kau tidak bisa bekerja dan malas.” Hem!!! Laksana berjatuhan buah nyiur ke kepala Kromo, mendengar perkataan “POTONG” itu. Sebetulnya dalam seminggu ia harus menerima f 0,20 x 6 = f 1,20, jebulnya f 0,60. Uang sekian dimakan dengan anak bini dalam seminggu!! O, Kromo kapankah kamu merasakan: roti mentega, sardentjies, ongklok seperti halnya Kromo Belanda???

 Apabila padi di sawah telah kelihatan kuning, maka ributlah Kromo buat mengetamnya. Ada perintah dari pembesar onderneming, yang menyewa itu tanah, keluar dari lurah-lurah desa atau di atasnya, bahwa semua padi dalam sekian hari mesti diketam. Wah, di situ Kromo ribut betul-betul. Padi yang belum musimnya harus dibinasakan. Betul Kromo dapat kerugian, tetapi tak sepadan dengan keadaannya, Kromo setengah menjerit menerima uang kerugian itu, pada hal dalam hatinya: “Tidak akan menjual padinya kalau belum waktunya membayar belasting.” Susah

payah Kromo mengusahakan sawah itu hanya diganti uang amat sedikit. Kalau tidak mau?? Tahu sendiri, sedikit hari lagi ia tentu dituntut di luar rol, karena melanggar reglement. Empat belas hari lamanya Kromo meringkuk dalam kandang tikus. Setelah orang ramai mengetam padi itu, maka dimasukkanlah sebagian ke dalam lumbung dan sebagian pula dijual pada waktu itu dengan harga murah sekali. Sekarang Kromo mulai bekerja buat keperluannya kaum kapitalist. Batang padi yang ada di sawah itu dibakarlah oleh Kromo dan setelah sudah orang mulai membuat lobang-lobang yang panjangnya kurang lebih tiga meter. Dari pagi sampai petang hari Kromo hanya berhenti dua jam buat mengisi perutnya. Meskipun begitu dalam sepuluh jam itu ia hanya dapat empat lobang. Pada hal yang 1 lobang Kromo hanya dapat upah 3 cent. Kalau Kromo bekerja lembek tidak urung dapat marah dari tuan fulnopziener dan diancam akan dirapportkan pada politie. Kalau diancam saja itulah nama untung besar, terkadang dapat cacian dan makian yang tidak patut didengar, setengahnya ada yang dapat pukulan. Dari membuat lobang hingga menanam tebu pendek Kromo tal dapat lalai, kurang lebih lima bulan lamanya. Kalau batang tebu telah tua, di situlah Kromo mengambil upah buat mengangkat ke dalam fabriek. Kromo baru dapat memberhentikan diri kalau habis menggiling tebu yang hanya kurang lebih dua bulan lamanya. Dalam berhenti bekerja itu Kromo merasakan halnya akan membayar belasting. Tiada urung sebagian padi yang ada dalam lumbung itu dijual pula dengan harga semaunya yang membeli. Oleh karena kena pengaruh kijageng BUTUH, Kromo tak pandang murah harga padi, asal sudah cukup buat membayar belasting. Untungnya kaum yang punya duit, membeli barang-barang dari Kromo dengan harga murah benar, kalau nanti menjualnya??

 Demikianlah kebanyakan nasib Kromo yang sawahnya telah disewa oleh ondernemingen dengan contract. Kromo semacam ini orang dapat melihat di mana Vorstenlanden. Akan tetapi saya rasa tak jauh bedanya dengan Kromo di lain tempat. Dari itu saya ada pengharapan keras pada segala kaum kapitalisten, hendaklah tuan menaruh k a s i h a n   sedikit pada Kromo dan golongan proletariaat. Apabila Kromo mendapat salah, seharusnya diberi nasehat, jangan main tendang, main potong-main maki-makian-Kromo itu juga orang, bukan? Berilah olehnya bayaran dengan pantas, tiadakah tuan mengetahui bahwa ini waktu harga makanan serba mahal, terutama harga beras?? Bukankah Kromo telah bertahun-tahun membela keperluan tuan dan memberi keuntungan yang amat besar pada tuan??

 Hai, pemimpin kemajuan Hindia, usahakanlah sekeras-kerasnya, agar Kromo dapat kemerdekaan sedikit!!! Saya rasa leden penyayang Bp. dari Volksraad lah yang nanti akan membela. Malang dan untung bergantung pada kebijaksanaan tuan itu. Celakalah kalau leden tak suka memperhatikan keadaan Kromo; bukan nama Volksraad pula, akan tetapi POELESRAAD. Tersila tuan Jong Javanen juga adanya.

ooo0ooo

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s