Douwes Dekker Tidak Berobah Haluannya

Oleh: Marco

Sinar Hindia, 17 Agustus 1918.

Wat zou Ik niet willwen
Geven, als mijn broer
(D.D. Mc) op Java terug
moch keeren. Mijn gedach
ten zijn eigenijk aldoor bij

hem . . .

(Apa saja yang saya tiada suka kasih, kalau saya punya saudara (D.D. Mc.) boleh kembali ke tanah Jawa. Saya selalu memikirkan dia.)

Waktu saja mendengar kabar bahwa D.D. telah diberi izin pulang ke tanah Jawa, saja ingat bunyi suratnya Mej. A.D.D. yang dikirim kepada saya seperti yang tersebut di atas itu. Ketika saya masih ada di dalam penjara di Betawi saya pertiada tuturkan fatsal sikapnya Insulinde pada Semarangsche lesvereeniging, karena ada tiada begitu perlu lagi dikata di sini, yaitu fatsal empat dalam Gemeente yang di buat rebutan oleh antara kaum kapitalis dan kaum miskin, yang mana pembaca sudah mengetahui.

Barangkali tiada jarang kalau Mej. A.D.D. mengatakan saya seorang yang berubah ingatan, karena waktu saya saya berkata bahwa D.D. bisa kembali ke tanah Jawa. Barangkali itu waktu Insulinde belum ada niat buat minta kembali D.D. pulang ke tanah Jawa kepada regeering.

Lantaran S.I. Semarang dan I.S.D.V. tidak bisa cocok dengan Insulinde, maka saya mengira bahwa D.D. sudah tidak bisa cocok lagi dengan saya, sebab D.D. fihaknya Insulinde sedang saya fihaknya S.I. dan I.S.D.V.  Dari itu saya lalu tidak memperhatikan pula keadaan D.D. dan Insulinde.

Tetapi sekarang rupa-rupanya D.D. baru saja berdaya upaya supaya Insulinde suka memberikan tangan kepada S.I. dan I.S.D.V.  seperti tulisan yang saya kutip dari Jawa Tengah di bawah ini:

 SIKAPNYA D.D

Sebagai telah dikabarkan, ketika hari Minggu yang telah lalu di stadtuin di Semarang telah dibikin satu vergadering oleh perhimpunan Insulinde, dalam mana tuan Dr. E.F.E. Douwes Dekeker telah berpidato, nyatanya ia punya sikap dalam pergerakan di Hindia ini. Di sini kita tiada tuturkan fatsal sikapnya Insulinde pada Semarangsche lesvereeniging, karena tiada begitu perlu lagi dikata di sini, yaitu fatsal empat dalam Gemeente yang dibuat rebutan oleh antara kaum kapitalist dan kaum miskin, yang mana pembaca sudah mengetahui. Tapi yang kita tulis di sini jalah sikapnya D.D. pada perhimpunan-perhimpunan di Hindia, sebab cita rasa ada perlu juga diketahui oleh pembaca kita. Fatsal-fatsal yang tiada perlu pun kita buang, kata Pew Soer.

 Sikapnya pada orang Tionghoa:

Ia bilang, bahwa Tiong Hoa Hwee Koanschool vereeniging tiada mempunyai dasar politiek, tapi ia kasih tahu, bahwa orang Tionghoa tiada becidra pada Indische Partij.   Maksudnya persamaan dari keperluannya pekerjaan juga. Spreker tahu betul bahwa orang Tionghoa bisa ditarik ke perhimpunan Insulinde dan marilah kita musti ajak mereka, meskipun kita dituduh bahwa kita cuma pemburu uangnya orang Tionghoa saja, tapi keperluannya tiada diperhatikan.

Sikapnya pada N.I.V.

Ini perhimpunan Ned. In. Vereeniging cuma buat orang-orang Europa di Hindia saja, tapi haluannya tokh hampir sama saja dan itu perhimpunan juga suka bersama-sama kerja dengan Insulinde, ternyata dalam pilihan buat gemeenteraad yang telah lalu.

Juga sekarang ini perhimpunan sudah suka ambil lid lain bangsa yang sudah gelijkgesteld met Europeanen. Jadi demikian Insulinde tahu, yang N.I.V. sudah berjalan lewat di jalan yang utama dan itu perhimpunan harus juga dibantu.

Sikapnya pada S.D.A.P.

Kalau kita, Insulinde, tiada buta, maka di lain partij ada timbul maksud seperti Insulinde, tapi itu maksud rupanya saja seperti dalam fihak musuh kita. Begitulah hingga bersama-sama kerja dengan S.D.A.P. kelihatan keliru. Ini kekeliruan betulnya tiada bisa kejadian umpama kalau orang mengerti betul pada riwayat partij kita.  S.D.A.P. dapat perintah dari ia punya partij bestuur supaya bersama-sama kerja I.P.,  yaitu biar bisa bercampur dengan gerakan seperti Insulinde punya. Sebab Insulinde tahu, yang itu bersama-sama kerja bisa membikin tambah kuat Insulinde, maka Insulinde suka terima dengan baik. Pertama kali ada susah sekali membikin orang-orang dari itu partij bisa jadi kumpul dengan I.P. tapi kemudian tiada begitu susah mereka buat turut tujuan kita.

Mereka punya tujuan socialist tokh bermaksud hilangkan tiap pemerintah asing, karena di sesuatu negeri yang diperintah pemerintah asing tentu ada timbul perbedaan bangsa, yaitu bangsa yang oleh bangsa yang memerintah. Dalam 1913 telah dimaklumi officieel oleh S.D.A.P., itu berhimpun sudah bersama-sama bekerja dengan I.P.  Kaum S.D.A.P. bisa masuk pada I.P., tapi sebaliknya dengan kaum I.P. tidak bisa masuk pada S.D.A.P., sebab diantaranya ada terdapat orang yang tidak mau bercampur dengan urusan lain golongan. Kenapa S.D.A.P., punya lid bisa jadi lid Insulinde, sebab maksudnya itu partij tokh melawan yang memerintah (overheersching)

Sikapnya pada I.S.D.V.

D.D. anggap pemimpin-pemimpin dari perhimpunan I.S.D.V. ada orang-orang yang lakukan tujuannya Marx. Diantaranya ada yang juga, bahwa kaum Insulinde berbuat tidak socialisch, tapi tokh tidak boleh dilupakan bahwa kaum I.S.D.V. membenarkan tujuan Insulinde. Dan kalau Insulinde bisa dapat itu pengakuan kaum, maka kaum Insulinde musti anggap ada satu kewajiban terima itu penawaran kaum I.S.D.V. buat bersama-sama kerja dengan kita. Dengan itu partij tokh nanti kita bisa dapat tambah kekuatan bagai pilihan gemeenteraad dan lainnya dalam keperluan kita Insulinde.

I.P. yalah bermaksud nationalisme, membikin merdeka Hindia dan berhubung dengan itu musti berlaku demokratis. Tapi di antara kaum sosialis ada yang bilang, bahwa cuma mereka sendiri yang ada kaum revolutionaire socialisten. Perkataan yang begitu ada menyebabkan jadi pisahnya bekerja sama, tapi tiada dipakai buat melawan sikapnya pemerintah, tapi lantaran kelemahan sosialisme menjadi mengerem dalam negeri, maka kekuatannya jadi kurang. Artinya, lantaran banyak  orang sosialis yang jadi wakilnya pemerintah, maka tujuannya revolutionaire jadi lemah.

Spreker merasa sayang, bahwa di antara kaum socialisten ada timbul satu pecahan. Juga ia merasa sayang bahwa di antara pahlawan-pahlawan I.S.D.V. ada terdapat bekas pahlawan I.P.   Mereka punya bantuan pikiran sayang sekali bisa terlepas dari Insulinde. Mereka ambil jalan panjang buat tempat tujuan, mereka ada kaum revolutionaire luar biasa dan di antaranya kaum revolutionaire luar biasa ada sering terdapat kaum anarchist. Tiada kita mau bilang, mereka ada kaum anarchist, tapi mereka punya tingkah laku ada sebagai kaum anarchist buat hilangkan kaum bangsawan, kelakuan mana mereka tiada mengerti ada begitu anarchistisch, sebab mereka giat sekali melawan segala orang yang memerintah.

Spreker kira ada baik, yang kaum Insulinde tawarkan mau bekerja sama-sama dengan I.S.D.V.  kita (Insulinde) janganlah takut, yang nanti kita punya tawaran bakal ditampik dan kita harus kepingin pada kebaikan dalam mereka punya tuduhan. Kita jangan ingat, kata Spreker,

pada perkataan jelek yang ditujukan pada dirinya, Spreker sudah lupa. Kita harus dapatkan mereka punya bantuan zonder jalan putar-putar dan harap supaya perhubungan kita dengan mereka jadi kembali baik. Marilah kita kaum Insulinde bilang pada kaum I.S.D.V., bahwa kita juga tiada takut pada perkosaan, kalau saja perlu buat merdekakan kita. Kaum I.S.D.V. pun tokh akan lupa juga pada musuhnya kalau sudah terjadi begitu, sebab kalau menurut ucapan Marx mereka punya guru, tentulah mereka akan cari perhubungan dengan kaum miskin yang tertindas. Spreker kita, tentu bisa terjadi bersama-sama kerja, sebab ia kenal sama tuan Baars dan sangat setuju pada haluannya itu tuan.

Kita kaum Insulinde tiada kurang revolutionaire daripada mereka. Kalau di luar pengadilan salah satu dari mereka telah sangkal, tiada akan lakukan paksaan kalau ada perlunya, maka Spreker bilang itu ada celaka sekali, karena dengan begitu ia akan membikin lemahnya revolutionaire-nya. Dalam perkaranya Spreker ia telah diserang oleh itu kaum, bahwa Spreker tiada mengaku, yang ia menghina pemerintah. Karena tiada nyata, maka Spreker kasih tahu, bahwa ia sudah pantas sekali dapat itu serangan, sebab kaum revolutionaire seharusnya anti pemerintah.

Dalam gerakan kita (Insulinde) nasional ini perlu sekali kita mengajukan revolutionaire kita dan kalau perlu dalam urusan ekonomi pun begitu. Tuan Douwes Dekker nyatakan bahwa satu pemberontakan ada perlu sekali, yaitu sebagai senjata yang paling akhir. Artinya, kalau sudah tiada daya upaya lagi, apa boleh buat musti mogok saja. Pemogokan, kata Spreker, ada satu tanda, bahwa di antara kaumnya ada dilakukan pergerakan, bahwa pergerakan kita hidup. Dalam pemogokan, kita harus lebih dulu tahu keuntungan yang nanti kita dapat dan tiada nanti akan dapat rugi dari apa yang telah dikorbankan. Sebab kalau tidak perhatikan begitu, sesudah mogok kita akan dapat kesusahan, bukan kesenangan, tapi sebaliknya kalau itu pemogokan diatur betul. Lebih jauh Spreker bilang bahwa pemogokan ada bukan gerakan menurut pemimpin-pemimpin socialisten punya mau tapi itu pemogokan musti timbul dari perhimpunan.

Sikapnya pada Sarekat Islam:

Spreker bilang, Sarekat Islam adalah perhimpunan yang paling penting dan Insulinde musti bekerja bersama-sama. Ini perhimpunan berhaluan demokrat juga, tapi dengan dasar agama. Meskipun di negeri Olanda tokh ada gerakan kaum demokrat dengan beralasan agama.

Atas parlemen Spreker nyatakan, bahwa ia punya advies telah diminta oleh minister urusan jajahan, yaitu ketika mau diadakan Volksraad. Ia tiada kira, yang Volksraad ada seperti sekarang dimana fihak yang lemah kalah suaranya. Tetapi kita musti berjalan terus dan tiada akan merasa capai, kalau maksud kita belum kesampaian.

Kalau betul kabar yang tersebut di atas itu, kita wajib kaum S.I. apabila Insulinde memberi tangan kepada S.I. Semarang, menuruti permintaannya, yaitu bekerja bersama-sama, agar supaya bisa:  sama rasa sama rata.

Ingat! Agama Islam menyuruh, supaya kita memberi ampun kepada seteru yang sudah minta damai!

ooo0ooo

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s