Polemik Djawi Hisworo, Abangan Versus Islam (Bagian 3-Tamat)

Gambar Dalam Penanggalan Wuku2

Pembangunan isu baik yang dilakukan melalui vergadering-vergadering, surat-surat kabar maupun pengumpulan dana merupakan bagian aktivitas TKNM yang terlihat pada masa-masa awal.  Pada perjalanan waktu TKNM tidak lebih dari alat pengumpul dana dari CSI pimpinan Tjokroaminoto untuk membangun basis dukungannya. Tidak adanya gerakan yang nyata dari TKNM membawa kekecewaan-kekecewaan bagi pendukungnya.

Setelah TKNM dibentuk dan tampaklah bahwa TKNM tidak memiliki kekuatan dan langkah untuk bergerak seperti yang diharapkan oleh pendukung-pendukungnya. Kekecewaan-kekecewaan mulai bermunculan dikalangan umat Islam. Hal ini dikarenakan TKNM hanya pada awalnya saja mengadakan gerakan anti-Martodharsono dan anti-Djawi Hiswara yang dianggap telah menghina Nabi Muhammad SAW dan agama Islam, tetapi setelah dukungan secara material didapatkan, TKNM tidak memiliki senjata yang ampuh untuk menghukum Martodharsono hanya sebatas himbauan kepada pemerintah kolonial Belanda untuk menghukum Martodharsono dan Djawi Hiswara.

Kekecewaan-kekecewaan tersebut dapat terlihat di berbagai daerah yang mendirikan komite-komite TKNM. Komite-komite TKNM tidak dapat berjalan sebagaimana mestinya karena tidak memiliki dana, sedangkan dana yang ada semuanya masuk ke kas CSI di Surabaya. Sedangkan dalam pembentukannya TKNM bermaksud mendirikan sekolah-sekolah agama Islam. Tetapi dalam kenyataannya sejak berdiri dan terkumpulnya dana hal tersebut tidak terlaksana.Di Solo penyumbang terbanyak adalah H. Misbach dan pedagang batik lainnya dan mempercayakan kepemimpinan TKNM kepada pegawai keagamaan yang progresif, kiai, dan guru ngaji. Tetapi janji yang tidak pernah dilaksanakan oleh bestuur komite TKNM membuat mereka kecewa dan hal ini terungkap dalam sebuah artikel di Islam Bergerak yang berbunyi:

“maka kami tahoe dengan terang bahwa Comite TKNM di Soerabaia adalah mempoenjai wang kas jang begitoe besar dan dalam masa ini beloem begitoe terpakai hendaklah wang kas tadi lekas-lekas dikerdjakannja, kami telah mengerti betoel bahwa maksoed Comite TKNM hendaklah mendirikan sekolahan Kweekschool, poerbaganda tentang agama dan menjitak boekoe-boekoe dari sebab maksoed Comite TKNM adalah begitoe besar sekali maka dari pendapetan kami adalah mahal sekali akan kedjadiannja djikalau Comite TKNM hendaklah menoenggoe-menoenggoe sadja akan koempoelnja wang sampai kedjadian maksoed tadi, soedah barang tentoe terpaksa soenggoe jang terlaloe lamanja”(Islam Bergerak, 20 November 1918).

Artikel ini meminta agar komite TKNM merubah rencana kegiatannya itu menjadi pengumpul uang saja untuk membantu organisasi lain yang kekurangan uang, karena banyak organisasi yang bermaksud sama dengan TKNM tetapi bergerak dengan kurangnya uang. Selain hal tersebut kritik pedas juga menyertai dalam artikel ini:

“menilik pendapatan wang derma jang telah ditrima oleh Comite, soedah begitoe banjak, tetapi maksoednja djatoeh kosong sadja, dari itoe teranglah pada kami bahwa Comite pande tjari wang tetapi tidak pande mengerdjakannja. Lain perhimpoenan seperti Mohammadijah di Djokja, Sidik Amanat Tableg di Solo, SI Semarang, SI Koedoes, SI Djocja, dan laen-laen, bisa mengerdjakan maksoednja, tetapi tidak pande tjari wang jang tjoekoep boeat bekal ongkosnja.Maka dari itoe kami mintak dengan keras hendaklah Comite TKNM di Soerabaia soeka memperhatikan Voorstel kami jang terseboet di atas. Apabila Comite tidak soeka memperhatikan voorstel kami, kami brani pastikan sebentar lagi wang Comite habis dimakan Rajap dan maksoed Comite tidak akan kedjadian”( Islam Bergerak, 20 November 1918).

Kritik pedas ini menambah kecurigaan terhadap komite TKNM yang berpusat di Surabaya tidak bersikap serius dalam membela agama Islam. Anggota-anggota komite TKNM di Solo sangat resah sehingga kembali mengeluarkan artikel untuk mengingatkan kembali komite TKNM yang berpusat di Surabaya agar memenuhi janjinya. Dalam artikel di Islam Bergerak bulan tanggal 10 Juni 1918 Mr. Zahid, menulis kekecewaannya terhadap kinerja TKNM. Mr. Zahid menulis dalam artikel tersebut kritik yang sangat pedas dan curiga adanya manipulasi penggunaan uang derma yang cukup besar. Ia mengatakan:

“Sjahdan saja mendengar chabar poela, bahwa kas Comite di Soerabaia ada banjak sekali, saja ada koeatir sampai sekarang masih nihil, djangan-djangan nanti oeang jang sebanjak itu dimakan “pest kepala hitam” ada-ada sadja! En, di Solo ada ada apa? Ja, baroe remboeg sadja, djangan-djangan nanti wang kas abis di makan remboeg sadja.Sesoenggohnja tioei itoe djika tiada dipraktekkan tida ada goenanja alias kosong sadja, apakah tida maloe kamoe Comite! Kamoe telah bertrijak-trijak setinggi langit sap toedjoe, abis bertrijak tinggal angop sadja, bangsa lain tinggal tertawa, tjis, tjis, tjis, kata bangsa lain, Comite wang kasnja djadi sate, dimakan pest kepala itam sampai kasnja tinggal melenge”(Islam Bergerak, 10 Juni 1918).

Kekecewaan juga ditujukan terhadap pengurus komite TKNM di Solo yang dianggap sebagai bangsa yang tengak-tenguk alias malas. Redaksi Islam Bergerak tidak dapat memberikan keterangan terhadap kegiatan komite TKNM, karena memang kenyataannya tidak ada kabar kegiatannya. Kenyataan menjadi jelas bahwa rencana untuk membangun TKNM yang bertujuan membela agama Islam tidak terlaksana, hanya digunakan sebagai kendaraan oleh CSI untuk mengisi kasnya yang kosong. Di Solo H. Misbach merasa kecewa terhadap Hisamzaijnie ketua TKNM dan juga pemimpin redaksi Medan Moeslimin milik H. Misbach. Akhirnya H. Misbach memecat Hisamzaijnie sebagai pemimpin redaksi Medan Moeslimin.

Keputusan untuk mengambil aksi mengecam tindakan Djawi Hiswara dilakukan Muhammadiyah di Yogyakarta yang mengirim surat terbuka untuk Gubernur Jendral Dukungan untuk menghukum Djojodikoro dan Martodharsono juga dilakukan melalui kecaman-kecaman di dalam surat kabar oleh individu-individu, terutama yang ditulis di surat kabar Islam Bergerak.

Komite Nasionalisme Jawa mengirimkan sebuah artikel di harian Neratja tanggal 23 Februari 1918 yang ditulis oleh pengurus Komite Nasionalisme Jawa yaitu R.M.S. Soerjokoesoemo, Satiman dan Abdul Rachman. Artikel ini menunjukkan adanya dua pendapat yaitu menyayangkan terbitnya artikel Djojodikoro dan kedua adalah reaksi yang berlebihan dari kelompok Islam. Komite Nasionalisme Jawa menganggap bahwa kehidupan beragama harus dipisahkan dengan politik sehingga tidak menimbulkan reaksi yang negatif. Komite Nasionalisme Jawa juga menganggap bahwa setiap agama ataupun kepercayaan berhak hidup dan berkembang tanpa harus dihalang-halangi oleh kekuatan politik. Apa yang dilakukan oleh Tentara Kanjeng Nabi Muhammad dianggap menghalangi perkembangan dan tumbuhnya kebudayaan Jawa yang sedang diusahakan (Neratja, 23 Februari 1918).

Menariknya adalah bahwa keraton Surakarta sebagai simbol panatagama tidak melakukan sebuah reaksi apapun terhadap polemik ini. Padahal baik CSI, TKNM, maupun Muhammadiyah telah meminta kepada Susuhunan untuk menghukum Martodharsono yang telah menghina agama Islam. Sikap diam dari keraton Surakarta disebabkan keraton juga pendukung dari berkembangnya budaya Jawa, sedangkan sejak lama kehidupan beragama keraton merupakan kehidupan beragama yang dilingkupi oleh budaya mistik kejawen. Baik raja, priyayi bangsawan, maupun abdi dalem adalah bagian integral dari kebudayaan kejawen yang masih memegang teguh tradisi. Sehingga polemik yang terjadi antara Martodharsono dan CSI tidak membuat keraton mengambil sebuah keputusan.

Reaksi terhadap artikel Djojodikoro di surat kabar Djawi Hiswara memunculkan gerakan TKNM dan kedua belah pihak mencoba melibatkan pemerintah kolonial Belanda untuk memutuskan konflik ini. Pihak Martodharsono meminta pemerintah memahami bahwa persoalan ini adalah persoalan agama dan sepatutnya pemerintah tidak mengambil tindakan apa-apa dan bersikap netral, sedangkan CSI dan organisasi Islam lainnya meminta pemerintah kolonial Belanda menghukum Martodharsono dan surat kabarnya. Hal ini didasarkan kepada sejauh mana pemerintah kolonial Belanda memperhatikan keberadaan agama Islam sebagai agama mayoritas masyarakat Bumiputra. Dalam kasus Djawi Hiswara dan CSI maka terlihat bahwa pemerintah kolonial Belanda tidak mengambil tindakan apapun. Pemerintah kolonial Belanda bersikap “netral” dalam kasus ini, pemberian ijin diberikan oleh pemerintah kolonial Belanda bagi CSI untuk mengadakan vergadering-vergadering, dengan catatan bahwa vergadering-vergadering tersebut hanya membicarakan masalah agama Islam dan bukan berbicara masalah politik. Vergadering ini juga dijaga oleh polisi yang cukup besar untuk mengamankan acara tersebut, hal ini terlihat terutama dalam vergadering di kota Solo.

——————————————-000000000000000000000000———————————————————

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s