Nasib Goeroe Bantoe Pada Masa Kolonial

Surat Kabar Neratja 1 Maret 1924 (Koleksi: Sanapustaka Kraton Surakarta)

Hindia Belanda tahun 1920-an memasuki masa-masa sulit dalam perekonomian setelah memasuki masa-masa booming ekonomi dengan ekspor produk-produk perkebunan yang begitu menguntungkan pemerintah kolonial Belanda. Hal ini juga merupakan imbas dari kesulitan-kesulitan ekonomi di Eropa yang menyebabkan turunnya harga mata uang sehingga harga produk ekspor perkebunan menukik tajam di pasar dunia. Yang menyedihkan adalah kesulitan ekonomi ini menyebabkan bangkrutnya perusahaan-perusahaan kecil dan membawa kegoncangan di berbagai perusahaan besr di Hindia Belanda. Seperti yang diberitakan harian Sinpo tanggal 31 Desember 1921 bahwa banyak perusahaan kecil yang berhenti beroperasi akibat kerugian yang terus menerus dan iklim ekonomi baik pertanian maupun perdagangan belum menunjukan titik terang sehingga banyak perusahaan yang mati atau ditutup sementara. Dengan ditutupnya perusahaan-perusahaan maka semakin menambah pengangguran di Hindia Belanda.

Sementara pemerintah kolonial Belanda mulai menjalankan kebijakan ekonomi yang tidak populis bagi masyarakat di Hindia Belanda. Untuk menutup defisit anggaran belanja Hindia Belanda, pemerintah melakukan serangkaian kebijakan keuangan yang meliputi pemangkasan pengeluaran sektor pemerintah dan menaikkan pajak kepala bagi penduduk. Pemangkasan anggaran diberlakukan diberbagai sektor seperti perusahaan kereta api milik pemerintah dan departemen-departeman pemerintah. Kenaikan pajak kepala bagi penduduk terutama masyarakat pribumi diberlakukan di Jawa dan Madura dan diberlakukan di setiap residensi dengan kenaikan pajak kepala hampir mencapai dua puluh lima persen (Sinpo, 16 juni 1921). Juga di dunia pendidikan pemerintah kolonial Belanda menaikkan uang sekolah hingga dua ratus persen terutama untuk sekolah Hollandsche Inlandsche School (HIS) dan ini membuat anak-anak yang bersekolah harus berhenti ditengah jalan akibat tidak mampu membayar uang sekolah. Kenaikan uang sekolah di HIS sesuai dengan kategorinya yaitu kategori satu uang sekolah f.0,50 dinaikkan menjadi f. 1,50, kategori dua uang sekolah f. o,25 dinaikkan menjadi f. 0,75 dan kategori tiga uang sekolah f. 0,10 dinaikkan menjadi f. 0,25. Tentunya hal ini mengakibatkan banyak anak-anak yang telah bersekolah harus berhenti ditengah jalan karena tidak mampu membayar uang sekolah (Neratja, 19 Januari 1924).

Kenaikan uang sekolah, penurunan jumlah murid yang bersekolah memberikan kesempatan bagi pemerintah kolonial untuk mengurangi jumlah guru terutama guru pribumi diberbagai sekolah yang dikelola milik pemerintah kolonial Belanda. Pengurangan jumlah guru ini terutama ditujukan kepada guru-guru bantu yang dipekerjakan tetapi tidak dianggap sebagai pekerja tetap oleh pemerintah kolonial Belanda. Guru-guru bantu ini merupakan lapisan ketiga dalam stratifikasi guru di Hindia Belanda setelah guru Kweekscholen, Normaalscholen, dan setelah itu baru guru bantu. Guru bantu menjadi pekerjaan yang penuh dengan resiko pemecatan yang tinggi karena pemerintah kolonial mempekerjakan para guru bantu tanpa mengangkat mereka sebagai guru tetap, tetapi sebagai kerja kontrak. Guru-guru bantu ini juga dipekerjakan di sekolah-sekolah kecil. Di tengah krisis ekonomi yang melanda Hindia Belanda dan kenaikan uang sekolah yang menyebabkan berkurangnya murid-murid yang bersekolah maka guru bantu menjadi korban dari kebijakan pemerintah kolonial Belanda dengan memberhentikan mereka secara sepihak. Sedangkan guru bantu yang masih dipekerjakan akan menanggung jam mengajar yang sangat panjang, karena murid yang diterima disekolah-sekolah milik pemerintah bagi anak pribumi tidak berkurang. Suatu beban kerja yang berat ditambah lagi tidak ada tambahan insentif bagi kelebihan mengajar guru bantu tersebut.

Ah kiranya tidak jauh berbeda dengan masa sekarang, banyak guru bantu ataupun wiyata bakti yang menantikan diangkat menjadi pegawai negeri sipil walaupun menunggu begitu lama. Kalau dilihat guru-guru wiyata bakti sekarang memiliki kewajiban yang sama dengan guru pegawai negeri tetapi dengan gaji yang berbeda, bahkan banyak dari mereka digaji di bawah upah minimum yang ditetapkan pemerintah. Kenapa kondisi guru selalu tidak berubah???

———————-00000000000000—————————–

Iklan

4 comments on “Nasib Goeroe Bantoe Pada Masa Kolonial

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s