Agama Khonghucu di Surakarta

Gambar dinding Khonghucu belajar tao dari Laozi

Agama khonghucu masuk ke Surakarta dibawa oleh pedagang-pedagang Tionghoa. Secara pasti masuknya agama Khonghucu ke Surakarta sulit dikatakan karena minimnya data tertulis, tetapi dapat dilihat keberadaan Klenteng Tien Kok Sie yang berada di sebelah selatan Pasar Gede dimana klenteng ini telah ada pada waktu Paku Buwana II atau tepatnya tahun 1745. Selain itu dalam perkembangannya berdiri sebuah Klenteng Poo An Kiong, yaitu klenteng yang berada di jalan Kratonan. Klenteng ini berdiri tahun 1818 yaitu pada masa pemerintahan Paku Buwana VII.

Perkembangan agama Khonghucu di Surakarta mengalami perjalanan yang cukup panjang dengan berbagai dinamikanya. Agama Khonghucu mulai dilembagakan di Surakarta pada tahun 1918 dengan berdirinya perkumpulan Khong Kauw Hwee Sala yang mendapatkan ijin dari pemerintah kolonial Belanda walaupun sebelumnya telah dilakukan ceramah-ceramah mengenai ajaran Khonghucu oleh beberapa tokoh Khonghucu yang berada di Sala. Pada saat berdirinya perkumpulan ini merupakan organisasi yang memiliki anggota yang tidak terlalu besar, tetapi para anggotanya berusaha menjalankan ajaran Khonghucu dalam kehidupan sehari-hari. Bila pada awal-awal perkembangannya Khong Kauw Hwee banyak mengadakan kegiatan organisasi di Klenteng terutama Klenteng Tien Kok Sie dalam membicarakan kemajuan organisasi maka tahun-tahun berikutnya organisasi ini telah memiliki kesekretariatan di daerah Jagalan dengan membeli rumah yang kemudian dipugar kembali. Kesekretariatan ini selain menjadi tempat pembicaraan organisasi juga menjadi tempat dilaksanakannya khotbah-khotbah serta pembahasan dan mempelajari ajaran-ajaran Khonghucu yang dilaksanakan secara teratur.

Organisasi Khong Kauw Hwee juga memiliki terbitan majalah yang diberi nama Khong Kauw Goat Po. Majalah ini hanya terbit beberapa tahun karena dianggap tidak mendapat respon yang bagus dari para anggotanya. Sebagai gantinya diterbitkan majalah Bok Tok Goat Khan atau majalah pembangunan kebajikan yang menjadi corong penyebarluasan agama Khonghucu. Majalah ini hanya terbit hingga akhir masa jajahan Belanda pada masa jajahan Jepang majalah ini tidak terbit.

Selain terbitan organisasi ini juga mendirikan sekolah Khong Kauw yang bertujuan menyebarkan bibit-bibit ajaran Khonghucu. Sekolah ini pertama kali memiliki murid berjumlah 25 siswa dan dua tahun berikutnya memiliki murid sejumlah 100 siswa. Pembukaan sekolah secara resmi dilakukan pada tahun 1935. Tetapi pada saat tentara Jepang masuk ke Indonesia Sekolah Khong Kauw dimasukkan dalam lingkungan Ka Kyo So Kay, dimana sekolah mendapatkan subsidi dari pemerintah dan setelah Jepang kalah perang sekolah ini tetap berdiri.

Pada masa awal pertumbuhannya, Khong Kauw Hwee melakukan beberapa pembagunan seperti pembangunan Lithang Khong Kauw Hwee Sala yang diberi nama Swan Kong Tong yaitu rumah untuk mengadakan khotbah bagi umat Khonghucu. Pembangunan Litang ini dana yang digunakan merupakan dana sumbangan dari para anggota dan pinjaman, terutama dari perkumpulan Chuan Min Khung Hui yang sekarang bernama Perkumpulan Masyarakat Surakarta. Selain itu juga didirikan perkumpulan wanita penganut ajaran Khonghucu atau Khong Kauw Hu Li Hwee pada tahun 1935 dan berhenti berkegiatan pada masa pendudukan Jepang.

Selama masa penjajahan Belanda organisasi Khong Kauw Hwee Solo mengalami berbagai aktivitas yang beragam dan mengalami sebuah kemajuan tetapi kemunduran terjadi pada saat Perang Dunia II dan perang Kemerdekaan. Barulah pada tahun 1950 kegiatan organisasi ini muncul kembali dengan kegiatan khotbah Khonghucunya. Tahun 1955, merupakan tahun penting bagi perkembangan Khonghucu di Indonesia, karena pada tahun 1955 telah dibentuk kembali Khong Kauw Tjong Hwee dengan nama Perserikatan Khung Chiao Hui Indonesia dengan pusatnya di kota Sala. Organisasi ini berbentuk presidium dan di kota Sala sendiri diketuai oleh Sudjono dan jumlah umat Khonghucu di kota Sala berjumlah 373 orang dengan murid-murid berjumlah 108 anak.

Perserikatan Khung Chiao Hui Indonesia (PKCHI) mengadakan kongres pertama kali pada tanggal 6-7 Juli 1956 di kota Sala. Dalam kongres tersebut diputuskan untuk menyempurnakan anggaran dasar dan anggaran rumah tangga organisasi. Selain itu juga diputuskan bahwa kedudukan perserikatan ini tetap berada di kota Sala dan sebagai ketuanya tetap dipegang oleh Sudjono. Penyempurnaan anggaran dasar dan anggaran rumah tangga ini dimaksudkan sebagai respon terhadap perkembangan jaman. Dari hasil kongres ini pemerintah memberikan badan hukum bagi organisasi ini.

Kongres kedua diselenggarakan di Bandung pada tanggal 6-7 Juli 1957. dalam kongres tersebut menghasilkan keputusan-keputusan penting sebagai berikut:

  1. Telah memilih Surabaya sebagai tempat kongres ketiga yang akan datang.
  2. Menetapkan kedudukan pusat PKHCI tetap di kota Sala.
  3. Penetapan Sudjono sebagai ketua PKHCI untuk periode 1957-1959.

Pada tanggal 5-7 Juli 1959 di Surabaya PKHCI mengadakan kongresnya yang ketiga. Hasil kongres di Surabaya masih berkisar pada reorganisasi PKHCI dimana Haksu (pendeta) Tan Hak Liang terpilih sebagai ketua dan kongres keempat akan dilaksanakan di kota Sala. Selanjutnya dalam kongres keempat di kota Sala pada tanggal 14-16 Juli 1961 dapat dikatakan memiliki sebuah keputusan kongres yang sangat penting bagi kehidupan beragama umat Khonghucu yaitu:

  1. Diputuskan untuk menyeragamkan tata ibadat agama Khonghucu.
  2. Mengubah nama Perserikatan Khung Chiao Hui Indonesia menjadi Lembaga Agama Sang Khonghucu Indonesia (LASKI)
  3. Mengutus Thio Tjoan Tek bersama Dr. Mustopo dari Bandung untuk menghadap Menteri Agama RI guna memohon agar agama Khonghucu dikukuhkan kedudukannya di Kementerian Agama RI.
  4. Kota Sala masih dijadikan pusat dari LASKI.

Tanggal 22-23 Desember 1963, di kota Sala diselenggarakan konferensi antar tokoh-tokoh Khonghucu Indonesia. Dalam keputusan konferensi tersebut disepakati untuk mengubah nama LASKI menjadi Gabungan Perkumpulan Agama Khonghucu se Indonesia (GAPAKSI). Pada saat konferensi tersebut diselenggarakan anggota Khong Kauw Hwee Sala ada 402 orang dan 222 anak. Bertambahnya anggota Khong Kauw Hwee Sala menunjukkan bahwa kota Sala menjadi kota utama persebaran umat Khonghucu sehingga tidak asing bila kota Sala dijadikan pusat kedudukan Organisasi. Setahun kemudian tepatnya pada tanggal 9 Agustus 1964 di kota Sala diselenggarakan kursus kader umat Khonghucu yang bertujuan untuk mengembangkan ajaran Khonghucu. Dari kursus ini muncul tokoh-tokoh muda yang menjadi Bunsu (guru agama) dan Kausing (penyebar agama).

Kongres kelima Gapaksi diadakan di Tasikmalaya, Jawa Barat, pada tanggal 5-6 Desember 1964 yang menghasilkan keputusan antara lain:

  1. Nama Gabungan perkumpulan Agama Khonghucu se Indonesia (GAPAKSI) diubah menjadi Gabungan Perhimpunan Agama Khonghucu se Indonesia (GAPAKSI). Hal ini menunjukan sebuah kemajuan dalam organisasi yang menjadi solid dan telah diakui keberadaannya oleh pemerintah.
  2. Sebagai ketua terpilih adalah Suryo Utomo dan diputuskan juga untuk mengadakan kongres selanjutnya di Bandung.

Perkembangan agama Khonghucu di kota Sala dapat dikatakan berjalan bersamaan dengan adanya perkembangan organisasi agama Khonghucu sendiri. Hal ini disebabkan karena kota Sala menjadi pusat organisasi agama Khonghucu dan pemeluk agama Khonghucu di Surakarta cukup besar dibanding daerah lain. Pada masa orde lama aktivitas keagamaan masyarakat Tionghoa mendapatkan tempat yang sama dengan pemeluk agama lain yang telah ada. Perayaan keagamaan maupun kegiatan budaya dilaksanakan secara bebas tanpa ada tekanan dari berbagai pihak. Tetapi setelah terjadinya G30S kegiatan dan aktivitas keagamaan maupun budaya masyarakat Tionghoa diseluruh Indonesia dianggap terlarang dipertontonkan didepan umum tidak terkecuali di Surakarta.

——————————————-

Sumber:

1. Laporan Hari Ulang Tahun ke 35 Khong Kauw Hwee Sala (1918-1953).

2. Peringatan 50 tahun Madjelis Agama Khonghutju Indonesia-Sala (16 Oktober 1918-1968)

3. Laporan Peringatan Hari Ulang Tahun ke 60 MAKIN-Sala (16 Oktober1918-1978).

4. Mengenang 3 Windu Lahirnya MATAKIN (16 April 1955-1979).

5. Moerthiko. 1980. Riwayat Klentheng, Vihara, Lithang Tempat Ibadah Tri Darma se-Jateng. Sekretariat Empeh Wong Kam Fu: Semarang

Iklan

One comment on “Agama Khonghucu di Surakarta

  1. Ping-balik: Agama Khonghucu di Surakarta | BALTYRA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s