Merdeka VS Harian Rakyat: Penyederhanaan Partai

Karikatur di Harian Rakyat Tanggal 20 Juni 1964

Kondisi pers masa Demokrasi Terpimpin ditandai dengan munculnya pers yang membawa suara-suara partai politik. Penyajian berita-berita surat kabar disesuaikan dengan kepentingan partai-partai politik, sehingga terkadang muncul sebuah pertarungan-pertarungan wacana yang sangat panjang dan menarik, bahkan terkadang melibatkan berbagai elemen masyarakat untuk ikut berlomentar dan berargumentasi menjadikan media massa menjadi sesuatu yang menarik untuk dinikmati.

Surat kabar yang menjadi corong partai politik pada masa Demokrasi Terpimpin membawa ketegangan-ketegangan dan polemik yang berkepanjangan antar kelompok maupun partai politik yang dilakukan melalui surat kabar. Polemik antar kelompok di surat kabar membawa berbagai isu yang penting dan krusial pada masa demokrasi terpimpin. Polemik yang panjang terjadi antara surat kabar Harian Rakyat dengan Merdeka yang berlangsung selama sebulan. Polemik kedua surat kabar tersebut mengangkat berbagai isu aktual yang sedang berkembang pada masa tersebut.

Isu pertama polemik dilontarkan oleh surat kabar Berita Indonesia yang mengusulkan peleburan partai-partai politik menjadi satu partai nasional bertepatan dengan hari lahirnya Pancasila tanggal 1 Juni 1964. Isu ini didukung oleh surat kabar Merdeka. Melalui induk karangannya surat kabar Merdeka menulis:

“apabila kita sekarang telah menegaskan lagi, bahwa pantjasila adalah dasar-dasar idieel negara kita, bahwa pantjasila adalah falsafah kehidupan nasional bangsa. Dan djuga telah menerima Manipol-Usdek dan pedoman-pedoman pelaksanaannja sebagai haluan negara dan perdjuangan revolusi bangsa Indonesia, maka tidaklah mengherankan, apabila sekarang timbul pikiran-pikiran untuk menjederhanakan lagi partai-partai jang masih tertinggal sekarang. Dan bahkan diandjurkannja dibubarkannya partai-partai itu untuk kemudian membentuk hanja satu partai sadja. Partai jang besar. Partai jang mendjadi partai pelopor, sebagaimana dikehendaki oleh Pak Ali dari PNI dari segenap kekuatan revolusioner rakjat Indonesia jang telah menerima Pantjasila sebagai azas bersama di bawah pimpinan Pemimpin Besar Revolusi Bung Karno.[1]

Surat kabar Merdeka berpendapat dengan adanya satu partai pelopor maka persatuan nasional akan menjadi kuat serta akan mempercepat revolusi. Gagasan satu partai oleh surat kabar Merdeka juga didasari kekecewaan terhadap kinerja Front Nasional yang diharapkan menjadi pusat perjuangan bangsa Indonesia tetapi gabungan partai-partai politik dan golongan ini masih dianggap mengedepankan kepentingan partai maupun golongan masing-masing.

Isu penyederhanaan partai ini langsung disambut dengan penolakan keras oleh Harian Rakyat milik Partai Komunis Indonesia. Melalui editorialnya tanggal 2 Juni 1964 Harian Rakyat menulis:

“semua fihak ikut menjambut ulang tahun ke-19 lahirnja Pantjasila, mulai kiri sampai kanan, mulai Manipolis sedjati sampai kaum munafik. Tentu masing-masing fihak mempunjai maksudnja sendiri-sendiri, tetapi tentu pula bahwa hanja jang memperkuat persatuan nasional revolusioner dan sekaligus jang memperkuat tim Demokrasi Terpimpin jang berlandaskan pantjasiladan Manipol jang bisa kita sambut baik.

Itu “Soksi”, organisasi pemetjahbelah jang terkenal buruknja dan harian “Berita Indonesia”, menjambut hari lahir Pantjasila dengan tjara jang istimewa sekali. Mereka mengandjurkan pembubaran partai. Kata-katanja sudah dibungkus dengan pembungkus jang baru… Mereka tak lagi berani memakai istilah “pembubaran”, mereka sekarang memilih “penjerderhanaan” partai-partai.[2]

Penolakan Harian Rakyat didasarkan kepada masih banyaknya isu-isu yang belum terselesaikan terutama isu mengenai pengganyangan Malaysia, pelaksanaan Landreform, penumpasan sisa-sisa pemberontakan DI-TII, Kahar Muzakar dan lain-lain. Sehingga isu mengenai penyederhanaan partai akan mengaburkan semua isu-isu tersebut. Dan pengangkatan isu penyederhanaan partai dianggap oleh Harian Rakyat sangat tidak tepat, karena bertentangan dengan Undang-Undang Dasar, anti Pancasila dan Manipol.

Surat kabar Merdeka kembali menegaskan alasan-alasan penyederhanaan partai-partai menjadi satu partai pelopor didasarkan kenyataan tidak berjalannya Front Nasional dan semakin menipisnya persatuan nasional. Selain itu surat kabar merdeka juga menyindir Harian Rakyat yang dianggap terlalu khawatir dengan hilangnya demokrasi bila gagasan satu partai terlaksana.[3]

Menanggapi sindiran surat kabar Merdeka yang menganggap surat kabar Harian Rakyat mengkhawatirkan penyederhanaan partai maka surat kabar Harian Rakyat membalas melalui editorialnya:

“…Sementara itu harian Merdeka pun pada pokoknja menjokong gagasan satu partai. Wadjah Merdeka jang sesungguhnja menongol lagi, wadjah jang dalam istilah Ali “partai-phobi” dan maka itu ”harus diganjang”. Dengan memakai masih adanja sikap mementingkan partai dan golongan sendiri, memperalat Front Nasional, djegal-djegalan, dsb., sebagai dalih, pada hakekatnja Merdeka anti partai dan anti politik, sekalipun partai-partai itu menurut Bung Karno adalah sarana revolusi dan sekalipun segala sesuatu tak mungkin tanpa politik.

Setjara naïf dan simplitis, Merdeka memberi alasan bahwa kalau tinggal hanja satu partai maka persatuan akan lebih kokoh, seakan-akan jang dikumpulkan itu benda-benda mati dan bukan klas-klas, golongan-golongan, manusia-manusia. Seakan-akan lenjap partai-partai akan berarti lenjap problem-problem sehingga kita bisa lenggangkangkung ke masyarakat adil dan makmur. Biasanja usaha-usaha pengatjauan, terutama terhadap Manipol, djustru dating dari avonturir diluar partai politik”.[4]

Jawaban surat kabar Harian Rakyat yang keras menyanggah alasan-alasan surat kabar Merdeka mengenai kurangnya persatuan nasional, kondisi bangsa yang bergolak, adanya kepentingan partai tertentu di Front Nasional dikarenakan banyaknya partai.-partai politik. Surat kabar Harian Rakyat menganggap surat kabar Merdeka sebagai surat kabar yang anti partai dan anti Manipol.

Serangan surat kabar Harian Rakyat yang cukup keras dengan menuduh anti partai dan manipol dibalas surat kabar Merdeka melalui tulisan di Induk Karangan dengan judul Quo Vadis Harian Rakyat?. Surat kabar Merdeka menjelaskan bahwa dengan penyederhanaan partai-partai dan adanya kepartaian yang lebih sehat, maka konflik antar partai akan dapat dicegah dan dapat menghindarkan dominasi salah satu partai, sehingga kekuatan yang berada di dalam partai maupun yang berada di luar partai dapat dicurahkan untuk memenangkan revolusi.[5]

Surat kabar Merdeka memberi alasan bahwa persatuan yang dilontarkan adalah berdasarkan demokrasi Pancasila, tidak berdasarkan pertentangan golongan, kelas dan manusia-manusia seperti yang diistilahkan oleh surat kabar Harian Rakyat. Melalui demokrasi Pancasila maka semua masalah dapat diselesaikan dengan musyawarah bukan dipertentangkan seperti yang dianjurkan dan ditulis oleh surat kabar Harian Rakyat. Surat kabar Merdeka menganggap cara pertentangan merupakan sikap egoisme dan merupakan sikap liberalisme. Surat kabar Merdeka mngatakan bahwa sikap penolakan penyederhanaan partai oleh surat kabar Harian Rakyat menunjukkan bahwa sikap liberalisme masih melekat pada surat kabar Harian Rakyat yang mengatakan anti liberalisme.[6]

Selain itu alasan perlunya penyederhanaan partai yang dikemukakan oleh surat kabar Merdeka adalah penerimaan Pancasila sebagai landasan idiologi negara dan sebagai falsafah kehidupan bangsa tanpa penolakan. Hal ini telah dinyatakan oleh semua golongan baik golongan nasionalis, agama, maupun golongan komunis sendiri, seperti yang diucapkan oleh DN Aidit bahwa Partai Komunis Indonesia (PKI) menerima Pancasila secara menyeluruh. Pada akhir kalimat surat kabar Merdeka meminta penjelasan kepada surat kabar Harian Rakyat mengenai hal ini.

Jawaban surat kabar Harian Rakyat atas tulisan Induk Karangan surat kabar Merdeka dijawab pada tanggal 8 Juni 1964. Surat kabar Harian Rakyat menjelaskan bahwa alasan yang dipakai oleh surat kabar Merdeka terlalu mengada-ada mengenai penyederhanaan partai. Surat kabar Harian Rakyat menulis bahwa bila segala permasalahan dapat diselesaikan dengan musyawarah mengapa tuan tanah tidak mau melaksanakan Undang-Undang Pokok Agraria dan Undang-Undang Pokok Bagi Hasil untuk petani-petani miskin. Hal inilah yang menjadi alasan bahwa partai sangat dibutuhkan untuk memperjuangkan kepentingan masyarakat tertindas.[7]

Munculnya isu penyederhanaan dan pembubaran partai banyak ditolak pleh berbagai partai. Ketua umum Partai Islam (PERTI), K.H. Siradjuddin Abbas mengatakan bahwa pembubaran partai-partai akan melemahkan spirit perjuangan di segala bidang, terutama dalam mengganyang proyek neo-kolonialisme Malaysia. Selain itu dengan adanya partai-partai rakyat terkonsolidasi dengan baik dari pusat sampai daerah sehingga memudahkan dalam memobilisasi kekuatan revolusioner untuk kepentingan penyelesaian revolusi nasional. Selain itu juga ditegaskan bahwa dalam perjuangan untuk menyelesaikan revolusi, masalah partai-partai yang merupakan pendukung Pancasila dan yang telah tergabung dalam Front Nasional seharusnya tidak perlu diusik-usik.[8]

Penolakan juga datang dari Frans Seda sebagai ketua Partai Katolik yang menyatakan bahwa pembubaran partai-partai politik bertentangan dengan demokrasi yang harus dikembangkan sebagai salah satu unsur dari Pancasila. Sedangkan Pengurus Besar Nadlatul Ulama (PB NU) mengeluarkan pernyataan tidak menyetujui pembubaran partai-partai dan bahwa pembubaran partai berarti likuidasi lembaga demokrasi dan menegaskan bahwa adanya partai-partai politik adalah dimaksudkan bukan hanya sebagai perwujudan semata-mata dari sistem demokrasi tetapi juga merupakan media penyaluran pandangan-pandangan kenegaraan rakyat. Partai politik yang sehat merupakan media untuk melancarkan politik pemerintah dan juga sebagai alat kontrol sosial.[9] Mengenai Front Nasional yang dianggap oleh surat kabar Merdeka sebagai tempat partai politik mementingkan dirinya sendiri dan golongan dibantah dengan memberi alasan bahwa Front Nasional dapat menjalankan fungsinya sebagai penghimpun seluruh kekuatan-kekuatan revolusioner rakyat seperti halnya sekarang ini justru karena adanya partai politik.

Bersamaan dengan penolakan berbagai partai-partai mengenai penyederhanaan partai, surat kabar Merdeka melalui Induk Karangan menerangkan kembali alasan mengenai penyederhanaan partai. Menurut surat kabar Merdeka yang perlu dilakukan adalah melalui penyederhanaan partai maka penguatan kekuatan di dalam negeri (home front) harus diutamakan untuk tujuan revolusi didasarkan kepada fakta bahwa persatuan antar partai belum terwujud walaupun partai-partai telah tergabung dalam wadah Front Nasional. Kepentingan ini harus diutamakan daripada memfokuskan diri pada proyek neo-kolonialisme Malaysia.[10] Dengan penggalangan home front bukan saja menjadi landasan berjuang untuk menghancurkan rintangan revolusi seperti proyek neo-kolonialisme tetapi juga menjadi landasan berjuang untuk menyelesaikan revolusi hingga sampai kepada tujuannya.

Surat kabar Harian Rakyat kembali merespon Induk Karangan surat kabar Merdeka dengan menuliskan bahwa apa yang ditulis oleh surat kabar Merdeka mengenai penguatan home front merupakan bentuk pengalihan perhatian masyarakat terhadap sasaran pokok revolusi yaitu pengganyangan terhadap Malaysia. Menurut surat kabar Harian Rakyat penguatan home front dapat dikatakan tepat atau sebaliknya. Bila yang dimaksud surat kabar Merdeka adalah pelaksanaan garis Manipol tentang konsentrasi semua kekuatan nasional dan bukan memusuhi partai-partai politik, penggalangan dan bukan pengguncangan sokoguru revolusi yaitu kaum tani disamping kaum buruh, pelaksanaan dan bukan penghambatan landreform yaitu bagian mutlak revolusi maka surat kabar Harian Rakyat akan menyanyikan lagu yang sama dengan surat kabar Merdeka.[11]

Surat kabar Harian Rakyat juga menuliskan berita mengenai usulan surat kabar Merdeka mengenai penyederhanaan partai sudah tidak ada pendukungnya. Hal ini didasarkan kepada penolakan yang dilakukan oleh partai-partai baik yang beraliran nasional, agama maupun komunis.[12] Walaupun muncul berbagai penolakan mengenai penyederhanaan partai oleh berbagai kalangan, isu mengenai penyederhanaan partai menjadi isu yang terus digulirkan oleh surat kabar Merdeka untuk menyerang dominasi PKI. Isu penyederhanaan partai ini juga menjadi isu yang sensitif ditengah pencarian bentuk demokrasi dari republik yang masih muda, serta konsentrasi terhadap konfrontasi dengan Malaysia. Berbagai penolakan dilakukan oleh partai-partai politik yang menganggap keberadaan partai politik merupakan sesuatu yang harus ada sebagai kontrol sosial tehadap jalannya pemerintahan. Isu penyederhanaan partai tetap dibawa oleh surat kabar Merdeka selain memunculkan perdebatan yang lebih serius dengan surat kabar Harian Rakyat mengenai manipol dan idiologi Negara, serta aksi sepihak kaum tani yang didukung oleh PKI dan surat kabar Harian Rakyat.


[1] Surat Kabar Harian Merdeka, tanggal 2 Juni 1964.

[2] Surat Kabar Harian Rakyat, tanggal 2 Juni 1964.

[3] Surat Kabar Merdeka, tanggal 4 Juni 1964.

[4] Surat Kabar Harian Rakyat, tanggal 4 Juni 1964.

[5] Surat Kabar Merdeka, tanggal 5 Juni 1964.

[6] Ibid.

[7] Surat Kabar Harian Rakyat, tanggal 8 Juni 1964.

[8] Surat Kabar Harian Rakyat, tanggal 12 Juni 1964.

[9] Surat Kabar Harian Rakyat, tanggal 13 Juni 1964.

[10] Surat Kabar Merdeka, tanggal 12 Juni 1964.

[11] Surat Kabar Harian Rakyat, tanggal 12 Juni 1964.

[12] Ibid.

Iklan

2 comments on “Merdeka VS Harian Rakyat: Penyederhanaan Partai

  1. Hal menarik ini. Biasanya kisruh politik zaman itu, dibahas dalam sejarah pada umumnya, cuma mengutip tokoh-tokoh saja atau mengisahkan benturan kelompok dalam bentuk organisasi massa. Jarang sekali yang mengutip apalagi mengisahkan pertikaian non-tokoh, seperti media massa. Padahal tak kalah pentingnya peranan media-media di zaman itu untuk menjadi corong dari suara kelompoknya masing-masing, jika malah bukan kebanyakan rekam-jejak sejarah terdokumentasikan dalam isu-isu yang mereka keluarkan.

  2. Mas Alex…..memang menarik bila media massa pada jaman dahulu memberikan berita maupun berargumentasi, mereka sangat cerdas dibandingin saiki lebih banyak manut yang buat isu…heheeheeh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s