Merdeka VS Harian Rakyat: Manipol dan Ideologi

Karikatur Surat Kabar Merdeka Tanggal 18 Juni 1964

Isu mengenai penyederhanaan partai yang dilontarkan oleh surat kabar Merdeka atau dalam bahasa surat kabar Harian Rakyat berarti pembubaran partai telah menyeret kedua surat  kabar ini ke dalam polemik yang lebih luas dan menyentuh masalah fundamental yaitu mengenai manipol dan idiologi. Polemik ini berawal dari lontaran surat kabar Harian Rakyat yang menganggap surat kabar Merdeka di luar revolusi nasional, menunjukkan kecenderungan yang anti demokrasi, komunis-phobi, tak ubahnya pers imperialis yang menghasut kaum nasionalis untuk memusuhi kaum kiri sambil mencerca kaum nasionalis sebagai kaum yang tidak bisa apa-apa. Pendirian surat kabar Merdeka yang dianggap mengadu domba ini dikatakan oleh surat kabar Harian Rakyat sebagai pendirian kanan.[1]

Menanggapi tuduhan surat kabar Harian Rakyat ini, surat kabar Merdeka mengatakan di dalam Induk Karangan yang berjudul Taktik Harian Rakjat Jang Usang bahwa:

“…taktik ini tak sesuai lagi dengan djaman. Ia usang, berkarat, dan djika masih digunakan oleh kaum Harian Rakjat sekarang ini, maka memanglah mereka tidak mengerti dengan perkembangan sedjarah golongannja sendiri.

Menuduh golongan lain sebagai renegaat, atau dalam hal kita sebagai … kanan dapat kita mengerti mengingat phase perdjuangan PKI sekarang ini. Harian Rakyat masih hidup dalam alam Stalinisme, menuduh segala jang tidak memudjanja, jang tidak mau tunduk pada djalan fikirannja sebagai revisionis, kanan, kontra-revolusioner, anti-rakjat, slogan-slogan jang ada dalam kamus kaum komunis Stalinis”.[2]

Surat kabar Merdeka menganggap bahwa rakyat yang telah terpesona oleh ide-ide revolusi dari Pemimpin Besar Revolusi kurang mendapatkan penjelasan dari golongan nasionalis dan ini dimanfaatkan serta disalahgunakan oleh golongan Harian Rakyat. Surat kabar Harian Rakyat dianggap memiliki maksud-maksud tertentu dari ide-ide revolusi Bung Karno dengan melakukan kampanye revolusi sesuai dengan tafsirannya sendiri. Surat kabar Merdeka menyatakan bahwa sudah seharusnya tafsiran revolusi dilakukan oleh golongan nasionalis yang bersandarkan kepada Pancasila bukan oleh PKI dan Harian Rakyat yang masih menggantungkan diri pada idiologi Marxisme-Leninisme ataupun Mao Tse Tung-isme.[3]

Surat kabar Harian Rakyat menanggapi tulisan surat kabar Merdeka melalui editorialnya dengan judul Bagaimana “Merdeka” Merevisi Manipol. Surat kabar Harian Rakyat menyatakan bahwa tulisan surat kabar Merdeka yang mengatakan surat kabar Harian Rakyat dengan maksud-maksud tertentu melakukan kampanye revolusi dengan tafsiran sendiri dibantah dengan alasan bahwa Bung Karno telah menggariskan bahwa revolusi berasal dari atas dan bawah yang artinya apa yang dilakukan oleh surat kabar Harian Rakyat adalah benar dengan melakukan revolusi dari bawah berjalan seiring dengan revolusi yang dilakukan dari atas.[4]

Lebih lanjut surat kabar Merdeka menyerang balik Harian Rakyat dengan tajuknya yang berjudul “Bagaimana Harian Rakjat Merevisi Fikiran-fikiran Dalam Manipol”, yang berbunyi sebagai berikut:

“siapakah Manipol sebenarnja? Mereka jang pada mulanja sudah berfikir dalam alam Manipol ataukah mereka jang sudah mempunjai satu ideologi lain sebagai pedoman hidup dan gerakannja sebagai dasar dan fondamen fikirannja? Ini kita tanjakan kepada kaum “Harian Rakjat” jang semua orang mengetahui telah mempunjai Marxisme dan Leninisme demikian juga Maoisme sebagai landasan  fikirannja. Di dalam adjaran taktik dan tudjuan dari perdjuangan golongan komunis internasional termasuk PKI maka penjaluran fikiran-fikiran Marx, Lenin dan sekarang Mao Tsetung dalam landasan fikiran-fikiran di Manipol djuga mungkin. Semua ini tergantung pada waktu dan keadaan. Tetapi apakah akibat daripada keadaan demikian itu? Sudah wadjar dan logis bahwa akan terdapat pertjabangan fikiran dari golongan “Harian Rakjat” mengenai baik Marxis-Leninisme, maupun Manipol. Hasilnja salah satu dari dua: atau kaum Komunis-Marxis-Leninis ini merevisir ideologi jang dianutnja dan disesuaikan dengan djalan fikiran ideologi Ra’jat Indonesia, Manipol-Pantjasila atau jang kedua terjadi dus merevisir fikiran-fikiran dalam Manipol untuk disesuaikan dengan adjaran-adjaran Marx dan Lenin…Kita menuduh “Harian Rakjat” hipokrit dan memasang tirai asap untuk menutup tudjuannja sebenarnja. Dia membalas dengan menjatakan kita menjelewengkan Manipol, terutam atas usaha kita membubarkan partai-partai…”[5]

Harian Rakyat membalas dan menjelaskan apa yang dituduhkan oleh surat kabar Merdeka melalui Tjatatan Redaksi HR yang berbunyi sebagai berikut:

“Merdeka” mempunjai logika jang chas sekali! Kemanipolan suatu partai, klas, golongan, orang diukurnja dari pertanjaan jang mengajukannjapun chas sekali: mereka jang pada mulanja sudah berfikir dalam alam Manipol ataukah mereka jang sudah mempunjai satu ideologi lain…”. Lalu harian itu menundjukkan suatu kegembiraan botjah: kita Manipolis pada permulaannja… Dus, kita adalah manipolis sedjati… Tak terfikir barangkali oleh “Merdeka” bahwa logikanja itu bisa punja konsekwensi djauh: menurut logika itu Bung Karno pun bukan Manipolis Sedjati, sebab seperti beliau terangkan sendiri sampainja beliau pada Manipol adalah hasil suatu proses jang pandjang! Sebenarnja kita tidak suka mengemukakan jang akan kita kemukakan ini, tetapi karena “Merdeka” begitu gemar berbitjara tentang “pada mulanja” maka djanganlah terkedjut “Merdeka” djika mempeladjari Program PKI jang disahkan tahun 1954 dan mendjumpai kenjataan bahwa tentang dasar/tudjuan dan kewadjiban Revolusi Indonesia, tentang kekuatan sosialnja, sifatnja, haridepannja, dan musuh-musuhnja, banjak sekali persamaan antara Program PKI dan Manipol. September 1959, hanya sebulan setelah lahir Manipol, kongres PKI memutuskan mendukung Manipol. Sehingga, kepada kader-kader dan massa anggotanja PKI mengadjarkan harus melaksanakan Manipol seperti melaksanakan programnja sendiri, dengan sepenuh tjurahan hati dan setjara betul-betul revolusioner jaitu satunja kata dengan perbuatan”.[6]

Jawaban surat kabar Harian Rakyat secara jelas membalas tuduhan surat kabar Merdeka yang mengatakan bahwa orang-orang yang berideologi lain dari Manipol tentunya tidak akan mendukung Manipol secara menyeluruh dan secara implisit memiliki tujuan lain secara politik. Surat kabar Harian Rakyat sebagai corong PKI secara tegas mendukung Manipol walaupun mereka memiliki ideologi lain yaitu komunis. Dukungan surat kabar Harian Rakyat dan PKI terhadap Manipol didasarkan bahwa Manipol sejalan dengan perjuangan PKI secara umum dan terutama sekali adalah mengenai Landreform bagi kaum tani.

Pernyataan surat kabar Harian Rakyat kembali dikonfrontasi oleh surat kabar Merdeka dalam tajuknya bahwa kaum Komunis-Marxis-Leninis telah merevisir ideologi yang dianutnya dan disesuaikan dengan jalan pikiran ideologi rakyat Indonesia, Manipol-Pancasila atau dengan merevisir pikiran-pikiran Manipol untuk disesuaikan dengan ajaran Marx dan Lenin.[7] PKI bertujuan agar Marxisme-Leninisne menjadi ideologi rakyat Indonesia dengan usahanya agar membangun partai diseluruh negeri dengan mempunyai karakter massa yang luas yang sepenuhnya terkonsolidasi dalam bidang ideologi, politik dan organisasi.[8] Lebih lanjut surat kabar Merdeka mengutip perkataan DN. Aidit bahwa hasil proses sejarah PKI adalah adanya partai Marxis-Leninis yang besar dan monolit yang memegang teguh pendirian bahwa pembangunan organisasi penting tetapi pembangunan ideologi lebih penting lagi.[9] Artinya bahwa sungguh aneh bila PKI menolak penyederhanaan partai politik sedangkan akhir dari sejarah PKI adalah adanya satu partai.

Perdebatan antara surat kabar Merdeka dan Harian Rakyat mengenai Manipol semakin memuncak dengan lontaran surat kabar Harian Rakyat yang membalas apa yang ditulis oleh surat kabar Merdeka. Secara terbuka surat kabar Harian Rakyat menjelaskan dalam catatan redaksinya bahwa surat kabar Merdeka masih meragukan sikap PKI terhadap Manipol yang didukungnya dalam kongres PKI. Surat kabar Merdeka seharusnya mengerti bahwa PKI mendukung Manipol dalam Kongres PKI sebelum Manipol tersebut ditetapkan dan diputuskan sebagai garis besar haluan Negara. Mengenai pimpinan revolusi, surat kabar Merdeka menuduh PKI mau merebut pimpinan revolusi dijelaskan melalui pidato Bung Karno bahwa semua partai Manipolis ikut dalam kompetisi, tidak terkecuali PKI, tetapi bagaimana akhirnya nanti rakyatlah yang menentukannya. Sebuah partai tidak bisa mengklaim sebagai partai pelopor dalam revolusi tanpa dukungan rakyat secara penuh.[10]

Dijelaskan pula bahwa kepemimpinan yang dimaksud dalam pidato DN. Aidit adalah bukan masalah kepemimpinan perseorangan tetapi pimpinan kelas dalam revolusi, sehingga disinilah perbedaan antara program PKI dan Manipol dan hal ini bukan menjadi masalah karena Manipol adalah program bersama.[11] Hal ini juga berlaku antara program partai politik lain dengan Manipol.

Perdebatan-perdebatan mengenai Manipol berakhir setelah surat kabar Harian Rakyat memberikan penjelasannya tanggal 20 Juni 1964. Selanjutnya surat kabar Merdeka menyoroti peristiwa yang berkaitan dengan Landreform yaitu aksi sepihak yang dilakukan oleh kaum tani dengan dukungan PKI dan surat kabar Harian Rakyat.

 


[1] Surat Kabar Harian Rakyat, tanggal 13 Juni 1964.

[2] Surat Kabar Merdeka, tanggal 15 Juni 1964.

[3] Ibid.

[4] Surat Kabar Harian Rakyat, 17 Juni 1964.

[5] Surat Kabar Merdeka, tanggal 18 Juni 1964.

[6] Surat Kabar Harian Rakyat, tanggal 19 Juni 1964.

[7] Surat Kabar Merdeka, 20 Juni 1964.

[8] Ibid. Surat kabar Merdeka juga mengutip pernyataan DN. Aidit ketika kunjungannya ke Peking, RRC tanggal 3 September 1963 yang menyatakan bahwa sangat penting untuk dipahami soal yang sama maupun yang berbeda antara program Partai Komunis Indonesia dan Manifesto Politik RI, perbedaan besar adalah soal kepemimpinan dalam revolusi.

[9] Perkataan DN. Aidit ini dikutip dari surat kabar Harian Rakyat tanggal 12 Juni 1964 yang berjudul “Djadilah Komunis Jang Baik!”. Dijelaskan pula bahwa penekanan dalam pembangunan ideologi yang ditekankan oleh DN. Aidit adalah membela Marxisme-Leninisme dan melawan Revisionisme.

[10] Surat Kabar Harian Rakyat, 20 Juni 1964.

[11] Ibid.

Iklan

4 comments on “Merdeka VS Harian Rakyat: Manipol dan Ideologi

  1. kalau mencari koran-koran harian rakjat dan merdeka yang terbit sekitar tahun 1964 itu dimana ya? mungkin mas bisa bantu, karena di daftar referensi itu ditulis koran-koran tersebut.
    terima kasih

  2. Ping-balik: Kotak Pandora (Jejak) Suara (Senyap) Harian Rakjat [Sejarah yang Dihilangkan] – Genosida 1965-1966

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s