Dukutan Wujud Syukur Masyarakat Petani Bunga

Upacara bersih desa dukutan, desa Nglurah Tawangmangu

Berjalan-jalan pada hari minggu pagi di Manahan, melihat begitu banyak aktifitas masyarakat Solo, berolahraga, cuci mata bahkan mencari nafkah dengan berjualan aneka barang dan hasil bumi. Tetapi tentunya yang menarik perhatianku adalah ibu-ibu para penjual tanaman bunga. Ingatanku kembali pada masa kuliah dulu ketika ikut menyaksikan sebuah acara bersih desa di Desa Nglurah Kecamatan Tawangmangu Kabupaten Karanganyar. bersih desa selalu diadakan disetiap desa  yang berada di kaki gunung Lawu ini.  Selain sebagai wujud syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, bersih desa juga bertujuan untuk menghormati para leluhur desa yang telah meninggal.  Ada yang unik dari bersih desa yang diadakan di desa Nglurah ini.

Desa Nglurah seperti kebanyakan desa di Tawangmangu merupakan desa yang berada di kaki gunung Lawu, berada di sebelah selatan dikelilingi oleh perbukitan, dapat dikatakan bahwa desa ini berada tepat ditengah-tengah perbukitan yang mengelilinginya. Desa Nglurah dibagi menjadi dua wilayah Nglurah Lor dan Nglurah Kidul. Desa Nglurah selalu diguyur hujan setiap tahunnya sehingga udara di desa ini selalu dingin. Faktor cuaca yang basah ini menyebabkan penduduk desa beradaptasi dengan alam dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Padi tidak dapat tumbuh subur di lahan yang selalu turun hujan maka tanaman jagung menjadi pilihan utama dalam penyediaan bahan makanan. Faktor alam ini membawa masyarakat desa Nglurah mengembangkan pertanian bunga di seluruh lahan yang ada di wilayahnya. Maka desa Nglurah terkenal dengan desa penghasil tanaman bunga. Masyarakat desa Nglurah menjual tanaman bunga ini ke luar desa bahkan hingga keluar kota terdekat, salah satunya adalah kota Solo.

Sebagai masyarakat Jawa maka masyarakat desa Nglurah masih berpegang teguh kepada kepercayaan nenek moyang mereka dengan selalu melakukan bersih desa. Bersih desa yang dilakukan oleh masyarakat desa Nglurah mengambil wuku dukut (greget), sebuah nama minggu dari tanggalan Jawa dan dilakukan pada hari anggoro kasih (Selasa Kliwon). Maka masyarakat desa Nglurah menyebut bersih desa mereka dengan bersih desa Dukutan dan dilakukan setiap tujuh bulan sekali. Dalam bersih desa dukutan ini masyarakat desa Nglurah melakukan upacara pengiriman doa dan hasil bumi dalam bentuk berbagai makanan ke tempat pendanyangan desa yang disebut candi Menggung. Tempat dimana leluhur mereka berada dan merupakan tempat keramat. Makanan yang dikirim melambangkan berbagai simbol ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa dan leluhur mereka. Leluhur masyarakat desa Nglurah bernama Kiai dan Nyai Menggung.

Upara bersih desa ( dukutan ) didasarkan pada suatu cerita yang telah turun menurun dan merupakan cikal bakal pendiri desa Nglurah. Konon, desa yang terletak di lereng Gunung Lawu ini didirikan oleh seorang patih atau perdana menteri dari Kerajaan Kahuripan bernama Narotama Mengembara yang tinggal di Nglurah bagian utara (nglurah Lor ). Saat itu, Narotama bertemu dengan seorang wanita sakti dari desa seberang (nglurah kidul ) bernama Nyai Roso Putih. Tapi, pertemuan ini menciptakan perseteruan. Adu kesaktian terjadi hampir setiap hari. Bahkan, perkelahian ini meluas hingga melibatkan warga desa lainnya. Uniknya, dari serangkaian perkelahian itu timbul benih cinta yang pada akhirnya keduanya sepakat untuk membina rumah tangga. Setelah menikah, sepasang pendekar ini dinobatkan menjadi pepunden atau pemimpin Desa Nglurah dengan sebutan Kiai dan Nyai Menggung. Perseteruan keduanya itulah yang di kemudian hari dijadikan tradisi Tawur Dukutan.

Sehari sebelum acara bersih desa sebagian besar warga desa Nglurah menyiapkan berbagai macam penganan yang akan dipergunakan untuk sesaji dalam puncak acara bersih desa esok hari. Segala penganan ini harus berbahan baku jagung dan dimasak dengan api kayu bakar. Dan, tak seorang pun diperbolehkan mencicipi semua jenis masakan ini sebelum acara puncak bersih desa berlangsung. Setelah semua penganan ini matang, semua warga desa berduyun-duyun mengantarkan sebagian kecil penganan ini menuju ke sebuah gedung serba guna untuk dikumpulkan dan didoakan. Jenis makan yang dikumpulkan warga antara lain gedang ( pisang ) setangkep, makanan jagung yang dibentuk (gandik), nasi jagung dalam bentuk tawonan gulo, iket bangun tulak, dan polo kependem. Aneka ragam makanan yang dikumpulkan dari warga desa ini memang disediakan untuk dibagikan kepada seluruh warga esok harinya.

Hari perayaan pun tiba, keesokan harinya sekitar pukul 07.00, Beberapa pemuda telah dipilih untuk diturunkan ke dalam arena tawuran massal yang akan menjadi puncak upacara Tawur Dukutan. Begitu sibuknya warga desa hingga hampir tak ada satu orang dewasa pun yang tak terlibat dalam acara paling kolosal yang akan mereka gelar. Pasalnya, tradisi yang diselenggarakan secara kolosal ini melibatkan hampir seluruh warga desa. Ada yang terlibat langsung dalam prosesi inti berupa tawuran. Ada pula yang hanya sekadar menjadi penggembira. perayaan ini dipusatkan di sebuah candi yang bernama candi Menggung.

Sebelum acara tawur massal dilangsungkan terlebih dulu dilakukan ritual doa untuk memohon keselamtan bagi warga desa yang terlibat dalam bersih desa ini. Ritual ini dilakukan oleh sepuh desa bernama Mbah Parto Sentono dan dianggap masih memiliki garis keturunan langsung dari Mbah Menggung. Setelah acara ritual doa selesai maka acara ritual tawuran dimulai dengan mengarak para peserta mengelilingi makam leluhur mereka. Di tangan mereka masing-masing tergenggam keranjang berisi makanan untuk dibagikan kepada warga. Tapi, entah siapa yang memulai provokasi, keranjang berisi makanan ini justru digunakan sebagai senjata menciptakan kerusuhan, tawuran antar kubu pun tak bisa dihindari.

Kerusuhan ini tak berlangsung lama, Kecintaan terhadap para leluhur telah mengekang hasrat mereka untuk tak membawa konflik ke dalam wilayah yang lebih pribadi. Keributan akhirnya mereda, Tak ada dendam dan rasa permusuhan kecuali semangat untuk meneruskan tradisi leluhur. Yang ada hanyalah semangat untuk mengenang romantika percintaan masa lampau yang tergolong unik. Alhasil, seluruh warga Desa Nglurah baik Nglurah Lor maupun Nglurah Kidul yang semula tampak saling bermusuhan kembali menjadi satu, Mereka larut dalam kegembiraan dan rasa persaudaraan.

Wujud syukur masyarakat desa Nglurah yang dilakukan melalui upacara bersih desa Dukutan memberi gambaran bahwa konflik dalam komuitas desa dapat diselesaikan secara arif melalui budaya-budaya lokal mereka sendiri. Kepatuhan akan leluhur membawa mereka memahami nilai-nilai saling memaafkan dan tentunya kesadaran yang tinggi untuk terus mengingatkan generasi penerus mereka arti penting foklore Mbah Menggung dalam kehidupan bermasyarat. Inilah wujud syukur mereka sebagai petani bunga untuk selalu menghargai leluhur, alam dan yang terpenting adalah Tuhan Yang Maha Esa.

 ————00000000————–

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s