“Lezing” Sebuah Tulisan RA Siti Soendari Mengenai Organisasi

Wanita-wanita Jawa pada Tahun 1910 (Koleksi: http://www.kitlv.nl)

Siti Soendari aktif dalam Organisasi Inlandsche Journalistenbond dan Redaktur pada majalah wanita Wanitosworo. Ini adalah tulisannya yang dimuat di Doenia Bergerak No. 2 Tahun 1914.

“Oleh karena banyak saudara-saudara yang kepengin tahu lezingnya Raden Ajoe Siti Soendari, Redactie tijdschrijft Wanito Sworo, Secretaresse Budi Wasito, Lid Journalistenbond, guru sekolah anak perempuan di Pacitan, yang di baca oleh Pengarang Sarotomo pada waktu algemeene vergadering I.J.B. menjadi perlu hal itu kami siarkan di sini, demikianlah bunjinya”:

Maaflah tuan yang berhadlir di sini! Saja Raden ayu Siti Soendari guru sekolah anak perempuan di kota Pacitan, sudah antara lama mengandung kemasgulan di dalam hati, yang hidupnya orang-orang kecil, sangat tidak dihargakan oleh bangsa tengahan, istimewa pula bangsawan-bangsawan. Halnya kita orang dapat berhidup senang ini, lantaran dari daya keringatnya orang-orang kecil. Jikalau kita tidak dapat pertolongannya orang kecil, kita tentu terpaksa bekerja sendiri dengan mandi keringat. Menjadi hilanglah kebesaran dan kemuliaan kita. Oleh karena itu tidak pantas sekali orang-orang kecil disia-sia atau dibuat semau-maunya. Hal itu saya puji kepada Allah mudah-mudahan lekas dinyahkan dari luar bumi adanya. Adapun sebabnya saya menaruh kemasgulan di dalam hati itu, karena bakal keturunan saya kelak, tentu banyak yang menjadi orang kecil, tertimbang yang jadi bangsa tengahan atau bangsawan.

Rupa-rupanya orang-orang yang loba dan tamak sama sekali tidak mempunyai ketakutan bolehnya menjalankan kemenangannya kepada yang ada di bawahnya yang dikodratkan menjadi orang hina dina. Yang demikian itu disebabkan karena tidak ada yang menegor atau mengusik. Dari itu alangkah suka sukur saya kepada Tuhan, bahwa Mas Marco diberi kefikiran mengadakan perserikatan I.J.B. yang lagi tuan bicarakan di ini hari. Perserikatan kita inilah yang bakal menyahkan loba dan tamak itu. Oleh karena itu patut dan perlu sekali kita sepakati dan kita
bantu. Sayang 1000 kali sayang, saya tidak bisa turut berhadlir dan turut memusyawaratkan berdirinya perserikatan yang sudah lama menjadi idam-idaman saya. Tidak lain hanyalah saya memberi ingat: supaya perserikatan menjadi tulus, Bestuur dan lid-lidnya hendaklah rukun.

Meskipun saudara-saudara lid I.J.B. yang berhadlir di sini sasungguhnya sudah tidak samar lagi atas maksud pribahasa Rukun jadi sentosa, begitu juga masih saya katakan lagi. Hal itu janganlah saudara-saudara, sekali-kali tiada. Sebenarnya hanyalah buat memberi kenyataan sahaja bahwa pribahasa Rukun menjadi sentosa itu sudah memenuhi di dalam dada saya, kemudian sekarang keluar semualah di luar saudara-saudara sekalian:

Mengucapkan perkataan yang baik itu bisa menarik fikiran yang baik dan tidak menyakitkan hati. Sepertinya: orang yang sering kumpul dengan orang busuk, bisa juga lalu menjadi busuk hatinya. Sebaliknya: berkumpul dengan orang yang baik, bisa juga jadi baik budi pekertinya.
Perkataan yang kasar itu memberi syak di dalam hati, tetapi perkataan yang manis, menyedapkan hati. Menjadi apabila pribahasa rukun menjadi sentosa itu tetap baik, semua yang mendengarkan apa lagi yang memang menetapi pada maksudnya, niscaya bisa menjadi baik juga. Adapun tandanya bahwa pribahasa itu baik, demikianlah: Manusia menggunakan makanan yang berguna kepada badannya buat memenuhi hidupnya. Apabila orang tidak suka rukun sepakat tolong menolong, niscaja tidak bisa mendapat makanan. Karena meski kepingin makan nasi sesuap sekalipun, hendaklah memakai pertolongannya beberapa orang, sepertinya: tukang menanak, menubuk beras, menanam padi, membuat perkakas tani dan lain²nya. Itu semua tiadalah bisa jadi dikerjakan oleh seorang sahaja.

Dan lagi beras itu bisanya jadi putih, sebab bergosok²an dengan beras. Tandanya: padi sebutir apabila ditumbuk tak bisa jadi beras yang putih, malah hancur. Nyatalah bahwa putih atau bersihnya beras itu disebabkan bergosokan dengan beras. Adapun alu itu hanja menggerakkan beras sahaja lantaran dari kekuatannya orang. Tetapi manusia telah pandai mempergerakkan badan dan fikirannya sendiri tidak dengan alu atau lumpang. Dari itu apabila orang hendak belajar melebarkan pengetahuan serta menajamkan fikirannya, seharusnya hendaklah bergosokan atau beramah²an dengan orang juga, tidak usah digerakkan oleh lainnya seperti pesawat (machine). Adapun bisanya bergosokan itu dari pada guyub atau rukun. Bisanya jadi guyub hendaklah beralasan cinta kasih. Yang sering jadi aralnya yaitu apabila kurang sabar di hati.

Sekalian saudara² tentu sudah tahu bahwa manusia itu banyak  yang tidak sama fikirannya, tabiatnya atau kelakuannya. Oleh karena itu seringkali terjadi mana² yang tidak cocok fikirannya, lalu tidak bisa setuju. Terkadang berdekatan sahaja tidak mau. Tetapi lama² jikalau hatinya yang tidak setuju itu sudah dialahkan sendiri, tentu lantas tumbuh cita kasihnya. Dan merasa bahwa tabiatnya yang demikian tadi tak baik, tidak membikin rukun malah mengadakan benih selisihan, melainkan terbawa dari kurang kesabarannya sahaja; tidak cocoknya fikiran atau pendapat itu, tidak menjadikan sebab apa-apa. Karena seumpama manusia itu hanya serupa sahaja fikirannya, malahan lebih tidak baik, sebab batu itu tidak ada yang terbuat menggosok. Sedang batu intan sekalipun bisanya bercahaja, dari gosok juga.

Oleh karena itu maka serta saya fikir-fikir orang ada di dalam perkumpulan itu boleh dimisalkan seperti seperangkat gamelan. Beda-bedanya fikiran dan tabiatnya itu seperti beda-bedanya suara satu persatunya gamelan, umpamanya: gender, gambang, rabab, kandang, dan sebagainya. Adalah orang yang banyak   bicara, itulah boleh dimisalkan gender atau cente. Ada lagi orang yang lemek bicaranya boleh diumpamakan rebab, dan ada pula orang yang pendiam itulah boleh disamakan gong, sebab bunjinya jarang² sahaja. Seandainya manusia itu sama saja fikirannya umpama suaranya gamelan melainkan kandang atau gong sahaja, sudah barang tentu tidak merdu didengarkan. Dari itu baiklah rupa-rupa suaranya tetapi yang perlu: bisanya runtut larasnya. Adapun yang meruntutkan, yaitu niyogonya. Halnya manusia itu ya niyogonya gamelan. Menjadi patutlah ia berikhtiar sendiri supaya pikirannya bisa runtut dengan pikiran orang lain. Cente jangan menyesal kepada gong bolehnya jarang-jarang berbunyi. Sebaliknya gong jangan susah hati karena dari cerewetnya cente. Yang perlu sendiri cuma runtutnya suara, sebab apabila runtut suaranya dan pandai yang memukulnya niscaja merdu didengar, bisa membikin kesenangan hati. Sebaliknya gamelan yang dipalu oleh anak-anak yang belum pandai, itulah tidak enak terdengar di telinga, dan tidak bisa menarik hati orang.

Adapun melaras runtutnya hati itu sungguh sukar sekali. Tetapi apabila dibiasakan dari sedikit, lama² bisa juga kesampaian. Kesampaiannya itu dari pada hati kemakluman. Adapun yang menjadi benih kemakluman itu, saya punya pendapat, dari cinta kepada sesamanya. Karena jikalau seorang sudah menaruh cinta kepada orang lain, biasanya seberapa saja kelakuannya yang tidak disetujuinya, tidak juga dirasanya; benci dan kekesalan hatinya hilanglah semata². Yang ada melainkan sayang atau pengharapan supaya menjadi baik. Makanya jikalau lid²nya perkumpulan apa saja semua sepakat hati, dan sama membesarkan kemakluman dan menaruh cinta kasih, sudah barang tentu perkumpulan of paguyuban itu bakal tambah menjadi besar.

Perkataan paguyuban itu asal dari guyub; yang disebut guyub itu hendaklah pakai teman. Tidak ada orang guyub bersendirian saja. Menjadi berdirinya paguyuban of perkumpulan itu pada dayanya orang² banyak   yang sama larasnya dia punya budi pekerti. Adapun lid²nya yang diwajibkan mengatur (Bestuur) itu umpamanya rumah, menjadi perkakas yang berupa kayu. Adapun lid² yang lain menjadi sebagian dari perkakas itu juga, sepertinya: tiang menjadi cagaknya blandar yang memikul atap; dinding menjadi aling². Begitu juga lidnya suatu perkumpulan, patutlah menjalani apa yang telah ditetapkan dalam anggaran atau peraturan. Jikalau tidak begitu, niscaja rusaklah perkumpulan itu. Adapun pengharapan atau kehendak orang membuat kebaikan itu tidak gampang. Seandainya gampang, tentu banyaklah barang yang baik tertimbang yang busuk.

Oleh karena itu supaya suatu perkumpulan bisa baik kejadiannya, janganlah alpa bolehnya mengerjakannya. Dari sebab yang jadi perkataannya sesuatu perkumpulan itu Bestuurnya, maka pendapat saya perlu sekali mereka itu menetapi kewajiban seperti yang tersebut di bawah ini:

  1. Hendaklah memikul kesukarannya pekerjaan yang tiada dengan upah.
  2. Ridla mengeluarkan sedikit uang yang tidak bakal dapat ganti, akan gunanya perkumpulan. Momong kepada sekalian lid.
  3. Maklum di atas beda²nya pendapatnya lid². Terima menjadi tutuhannya orang banyak.
  4. Mencari daja upaya yang bisa memajukan dan menambahkan kebajikan lid²nya.
  5. Menderita semua kesukarannya perkumpulan dengan sabar.
  6. Melayani semua kehendaknya lid² yang menuju kepada kebajikan.
  7. Tiada boleh mempunyai milik supaya dirinya sendiri terpuji, dan
  8. Tiada boleh mengharap ganjaran

Apabila belum bisa menjalani yang tersebut di atas itu semua, niscaja bakal berbantah sehari² dengan hatinya sendiri. Kemudian permohonan dan pengharapan saya, mudahmudahan sekalian saudara-saudara lid I.J.B. yang sama terpilih menjadi Bestuur, supaya bisa menjalani semua perkara yang sudah saya katakan itu.

Akhirul kalam, kurang perkataan yang boleh saya pakai buat melahirkan terima kasih saya, yang paduka sekalian sudah suka mendengarkan omongan saya itu. Dan apabila ada salah seorang Redactie yang turut berhadlir dalam perkumpulan kita ini, saya mohon tolong memasukkan
lezing saya itu di dalam surat kabarnya, supaya menjadi peringatan bagi sekalian Bestuurnya perkumpulan² apa saja.

Sebelum dan sasudahnya saja membilang terima kasih.

Redactrice Wanitosworo surat kabar perempuan Di Pacitan

R.A.  SITI  SOENDARI

Disalin dalam bahasa Melayu oleh: KI WIRO

———–000000000————–

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s