Bondowoso Exhibitions 1898

Gapura Pameran Budaya dan Ekonomi Bondowoso 1898 (Koleksi: http://www.kitlv.nl)

Perkembangan kota tidak adapat dilepaskan dari berbagai aktivitas masyarakat tersebut di dalam mengelola berbagai keunggulan kota tersebut. Pada masa sekarang keunggulan kota di perkenalkan dan “dijual” melalui berbagai cara. Baik secara penanaman modal baik dalam negeri maupun asing ataupun dengan memperkenalkannya melalui berbagai event-event baik event-event pameran kebudayaan, maupun event-event ekonomi. Event-event kebudayaan ini bahkan telah ada sejak lama dan masih terus berlangsung dan terpelihara hingga kini seperti Sekaten di wilayah Solo dan Jogjakarta maupun Jakarta Fair di Jakarta yang lebih modern. Event-event tersebut merupakan perpaduan antara event budaya dan ekonomi yang hendak diperkenalkan dan dijual kepada masyarakat. Tentunya event-event ini menarik animo besar masyarakat untuk datang dan menjadi bagian dari event tersebut atau sekedar menyaksikan kemeriahan suasana.

Bila kota-kota seperti Solo, Jogjakarta, dan Jakarta mampu mempertahankan event-event tersebut berlangsung secara kontinu dari dulu hingga sekarang dan mengembangkannya dengan kemasan yang lebih modern maka dalam sejarah kita juga dapat melihat bahwa ada beberapa kota yang mengadakan event-event tersebut jauh pada masa kolonial tetapi sekarang sudah tidak berlangsung atau bahkan hampir hilang dalam ingatan, seperti Bondowoso Exhibitions 1898.

Bondowoso sebuah kabupaten di Jawa Timur dengan sejarah yang menarik yaitu semasa Pemerintahan Bupati Ronggo Kiai Suroadikusumo di Besuki mengalami kemajuan dengan berfungsinya Pelabuhan Besuki yang mampu menarik minat kaum pedagang luar. Dengan semakin padatnya penduduk perlu dilakukan pengembangan wilayah dengan membuka hutan yaitu ke arah tenggara. Kiai Patih Alus mengusulkan agar Mas Astrotruno, putra angkat Bupati Ronggo Suroadikusumo, menjadi orang yang menerima tugas untuk membuka hutan tersebut. usul itu diterima oleh Kiai Ronggo-Besuki, dan Mas Astrotruno juga sanggup memikul tugas tersebut. Kemudian Kiai Ronggo Suroadikusumo terlebih dahulu menikahkan Mas Astotruno dengan Roro Sadiyah yaitu putri Bupati Probolinggo Joyolelono. Mertua Mas Astrotruno menghadiahkan kerbau putih “Melati” yang dongkol (tanduknya melengkung ke bawah) untuk dijadikan teman perjalanan dan penuntun mencari daerah-daerah yang subur.

Pengembangan wilayah ini dimulai pada 1789, selain untuk tujuan politis juga sebagai upaya menyebarkan agama Islam mengingat di sekitas wilayah yang dituju penduduknya masih menyembah berhala. Mas Astrotruno dibantu oleh Puspo Driyo, Jatirto, Wirotruno, dan Jati Truno berangkat melaksanakan tugasnya menuju arah selatan, menerobos wilayah pegunungan sekitar Arak-arak “Jalan Nyi Melas”. Rombongan menerobos ke timur sampai ke Dusun Wringin melewati gerbang yang disebut “Lawang Seketeng”. Nama-nama desa yang dilalui rombongan Mas Astrotruno, yaiitu Wringin, Kupang, Poler dan Madiro, lalu menuju selatan yaitu desa Kademangan dengan membangun pondol peristirahatan di sebelah barat daya Kademangan (diperkirakan di Desa Nangkaan sekarang).

Desa-desa yang lainnya adalah disebelah utara adalah Glingseran, Tamben dan Ledok Bidara. disebelah Barat terdapat Selokambang, Selolembu. sebelah timur adalah Tenggarang, Pekalangan, Wonosari, Jurangjero, Tapen, Praje,kan dan Wonoboyo. Sebelah selatan terdapat Sentong, Bunder, Biting, Patrang, Baratan, Jember, Rambi, Puger, Sabrang, Menampu, Kencong, Keting. Jumlah Penduduk pada waktu itu adalah lima ratus orang, sedangkan setiap desa dihuni, dua, tiga, empat orang. kemudian dibangunlah kediaman penguasa di sebelah selatan sungai Blindungan, di sebelah barat Sungai Kijing dan disebelah utara Sungai Growongan (Nangkaan) yang dikenal sebagai “Kabupaten Lama” Blindungan, terletak ±400 meter disebelah utara alun-alun.

Alun-Alun Bondowoso (Koleksi: http://www.kitlv.nl)

Pekerjaan membuka jalan berlangsung dari tahun 1789-1794. Untuk memantapkan wilayah kekuasaan, Mas Astrotruno pada tahun 1808 diangkat menjadi demang dengan gelar Abhiseka Mas Ngabehi Astrotruno, dan sebutannya adalah “Demang Blindungan”. Pembangunan kotapun dirancang, rumah kediaman penguasa menghadap selatan di utara alun-alun. Dimana alun-alun tersebut semula adalah lapangan untuk memelihara kerbau putih kesayangan Mas Astrotruno, karena disitu tumbuh rerumputan makanan ternak. lama kelamaan lapangan itu mendapatkan fungsi baru sebagai alun-alun kota. Sedangkan di sebelah barat dibangun masjid yang menghadap ke timur. Mas Astrotruno mengadakan berbagai tontonan, antara lain aduan burung puyuh (gemek), sabung ayam, kerapan sapi, dan aduan sapi guna menghibur para pekerja. tontonan aduan sapi diselenggarakan secara berkala dan menjadi tontonan di Jawa Timur sampai 1998. Atas jasa-jasanya kemudian Astrotruno diangkat sebagai Nayaka merangkap Jaksa Negeri.

Dari ikatan Keluarga Besar “Ki Ronggo Bondowoso” didapat keterangan bahwa pada tahun 1809 Raden Bagus Asrah atau Mas Ngabehi Astrotruno dianggkat sebagi patih berdiri sendiri (zelfstanding) dengan nama Abhiseka Mas Ngabehi Kertonegoro. Beliau dipandang sebagai penemu (founder) sekaligus penguasa pemerintahan pertama (first ruler) di Bondowoso. Adapun tempat kediaman Ki Kertonegoro yang semula bernama Blindungan, dengan adanya pembangunan kota diubah namanya menjadi Bondowoso, sebagai ubahan perkataan Wana Wasa. Maknanya kemudian dikaitkan dengan perkataan Bondo, yang berarti modal, bekal, dan woso yang berarti kekuasaan. makna seluruhnya demikian: terjadinya negeri (kota) adalah semata-mata karena modal kemauan keras mengemban tugas (penguasa) yang diberikan kepada Astrotruno untuk membabat hutan dan membangun kota.

Pacuan Kerbau/Sapi di Pameran Kebudayaan dan Ekonomi Bondowoso 1898 (Koleksi:www.kitlv.nl)

Meskipun Belanda telah bercokol di Puger dan secara administrtatif yuridis formal memasukan Bondowoso kedalam wilayah kekuasaannya, namun dalam kenyataannya pengangkatan personil praja masih wewenang Ronggo Besuki, maka tidak seorang pun yang berhak mengklaim lahirnya kota baru Bondowoso selain Mas Ngabehi Kertonegoro. Hal ini dikuatkan dengan pemberian izin kepada Beliau untuk terus bekerja membabat hutan sampai akhir hayat Sri Bupati di Besuki.

Pada tahun 1819 Bupati Adipati Besuki Raden Ario Prawiroadiningrat meningkatkan statusnya dari Kademangan menjadi wilayah lepas dari Besuki dengan status Keranggan Bondowoso dan mengangkat Mas Ngabehi Astrotruno menjadi penguasa wilayah dengan gelar Mas Ngabehi Kertonegoro, serta dengan predikat Ronngo I. Hal ini berlangsung pada hari Selasa Kliwon, 25 Syawal 1234 H atau 17 agustus 1819. Peristiwa itu kemudian dijadikan eksistensi formal Bondowoso sebagai wilayah kekuasaan mandiri di bawah otoritas kekuasaan Kiai Ronggo Bondowoso. Kekuasaan Kiai Ronggo Bondowoso meliputi wilayah Bondowoso dan Jember, dan berlangsung antara 1829-1830.

Masyarakat Mendatangi Pameran Kebudayaan dan Ekonomi Bondowoso 1898 (Koleksi: http://www.kitlv.nl)

Wilayah Bondowoso yang cukup luas tersebut dengan alun-alun sebagai pusat aktivitas masyarakat pada tahun 1898 mengadakan sebuah event kebudayaan dan ekonomi. Event ini bila kita melihat dari berbagai foto masa kolonial Belanda maka dapat menjelaskan bahwa event tersebut dirancang begitu modern pada masa tersebut. Di Alun-alun Bondowoso dibangun berbagai stand pameran juga berbagai tempat pertunjukan kesenian masyarakat Bondowoso. Mulai dari seni tari, gulat dan tentunya yang paling menarik adalah pacuan sapi (karapan sapi). Ada juga pertunjukkan akrobatik masyarakat China yang tinggal di Bondowoso.

Aktraksi Masyarakat China di Pameran Budaya dan Ekonomi di Bondowoso 1898 (Koleksi: http://www.kitlv.nl)

Stand-stand ekonomi dibangun juga untuk memamerkan berbagai kemajuan ekonomi wilayah Bondowoso terutama bidang pertanian. Salah satu stand pameran milik Assam thee onderneming Swaroe Boeloerotto Blitar. Juga ada kios teh milik Soember Sarie, stand perhiasan milik Maurice Wolf, Firma J.W. Hellendoorn dan departemen pertanian milik pemerintah kolonial Belanda.

Stand Assamtheeonderneming Swaroe Boeloerotto di Pameran Kebudayaan dan Ekonomi di Bondowoso 1898 (Koleksi: http://www.kitlv.nl)

Masyarakat sangat antusias dalam menghadiri pameran tersebut karena dalam pameran ini juga ditampilkan miniatur-miniatur rumah dari berbagai daerah Bondowoso. Juga terdapat berbagai stand wilayah afdeeling Panaroekan dan Banjoewangi. Masyarakat yang antusias datang mengunjungi event ini disediakan warung-warung untuk melepas lelah juga di alun-alun terdapat berbagai pedagang kaki lima yang mengambil moment ini untuk mengais rejeki.

Warung di Pameran Kebudayaan dan Ekonomi Bondowoso (Koleksi: http://www.kitlv.nl)

Event kebudayaan dan ekonomi Bondowoso 1898 ini semoga menjadi pengingat kembali bahwa pada masa dahulu telah dicoba diperkenalkan event-event budaya dan ekonomi kepada masyarakat dengan berbagai bentuknya. Dan tentunya penelitian yang lebih mendalam lagi dapat mengungkapkan lebih detail lagi mengenai bentuk kebudayaan yang berkembang di Bondowoso pada masa tersebut agar dapat dilestarikan dan dikembangkan.

———000———–

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s