Penukar Uang (Geldwisselaars) Pada Masa Kolonial

Geldwisselaars 1853-1856 (Koleksi: http://www.kitlv.nl)

Hari Raya Idul Fitri, memang masih beberapa minggu lagi, tetapi masyarakat telah siap-siap menantikan hari raya tersebut. Dan biasanya yang menarik adalah bahwa pada hari raya Idul Fitri tersebut masyarakat memberikan sejumlah uang kepada para tamu, terutama anak-anak yang datang ke rumah mereka dalam acara silahturahmi. Hal ini juga dilakukan dalam adat masyarakat Tionghoa dengan memberikan angpao pada hari raya Imlek. Apakah kebiasaan masyarakat kita ini adopsi dari budaya Tionghoa atau memang sejak jaman dahulu sudah ada? Sebuah pertanyaan yang membutuhkan penelitian lebih lanjut.

Tetapi yang lebih menarik adalah terutama di kota Solo, dan mungkin juga di kota-kota besar lainnya, biasanya seminggu sebelum hari raya Idul Fitri banyak masyarakat yang berdiri di jalan utama kota Solo sambil membawa berbagai bendel uang pecahan kecil mulai dari ribuan hingga puluhan ribu. Mereka adalah para penukar uang (dalam Belanda disebut geldwisselaars) Uang tersebut akan dipertukarkan kepada masyarakat yang membutuhkan uang kecil tersebut sebagai angpao di hari raya Idul Fitri nanti. Biasanya para penukar uang ini akan diberikan jasa sebesar lima hingga sepuluh persen dari masyarakat yang menukarkan uangnya.

Bila kita buka-buka kembali tentang sejarah masyarakat kita, profesi penukar uang (geldwisselaar) sudah ada sejak masa lampau. Beberapa foto kolonial Belanda memperlihatkan bahwa profesi ini sudah diabadikan pada tahun 1853. Biasanya para geldwisselaar ini berkumpul di pasar-pasar untuk menyediakan uang pecahan kepada pedagang-pedagang pasar. Penukar uang ini meringankan para pedagang dalam memberikan uang kembalian kepada para konsumennya. Tentunya dari jasa penukaran uang ini maka para penukar uang ini mendapatkan keuntungan dari selisih uang yang ditukar biasanya sebesar lima hingga sepuluh persen.

Seorang perempuan yang berprofesi sebagai Geldwisselaars di Jogjakarta tahun 1905 (Koleksi: http://www.kitlv.nl)

Profesi geldwisselaar pada masa kolonial dahulu tidak hanya ditekuni oleh pria tetapi juga oleh para wanita. Kemungkinan wanita menekuni profesi ini karena ketekunan, ketelitian dan kejujurannya karena tidak semua modal uang yang digunakan sebagai uang penukar merupakan modal sendiri, tetapi merupakan modal tuan-tuan entah itu milik Tionghoa atau pribumi kaya yang ingin mencari keuntungan dari penukaran uang. Pada masa dahulu memang yang dipertukarkan adalah uang receh koin yang benama benggol bernilai 2,5 sen.

Menurut Surabaya Tempo Dulu, Benggol adalah koin Hindia Belanda berbahan tembaga (belakangan perungu) senilai 2.5 sen. Merupakan satu dari seri koin pertama terbitan Belanda yang memiliki tiga bahasa (Jawa, Arab-Melayu dan Belanda). Fisiknya tebal, berat dan besar dibanding koin-koin pecahan lainnya. Tentu saja lebih kecil dari koin perak seringgit (2.5 Gulden) namun jika membicarakan uang masyarakat hanya koin pecahan kecil yang mereka temukan sehari-hari. Lagi gula koin perak hanya berbahasa Belanda dan sepertinya untuk kalangan orang Belanda atau orang kaya. Uang Bengggol ini memang terkenal sebagai alat penukar masyarakat kecil pada masanya.

Sehingga jelaslah bahwa profesi penukar uang telah ada sejak masa lampau sebagi bagian dari sitem ekonomi pasar dan hingga kini masih ada. Hanya saja pada masa dahulu profesi ini adalah profesi yang kontinu ditemui di pasar-pasar desa bukan profesi musiman seperti saat ini. Dan uang yang dipertukarkan merupakan kebutuhan masyarakat pedagang pasar yang memang harus menyediakan uang kembalian dalam aktivitas jual beli bukan sebagai penyedia uang kecil untuk angpao pada hari raya Idul Fitri. Profesi ini sekali lagi telah menjadi khasanah budaya masyarakat kita yang unik.

Solo, Bulan Suci Ramadhan 27 Juli 2012.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s