Dewa-Dewi dalam Sistem Pantheon Pada Masa Mataram Kuno (Bagian 3-Habis)

Dyanibudha Amitabha di Candi Borobudur Magelang 1900 (Koleksi: http://www.kitlv.nl)

Kehidupan masa lampau masyarakat Jawa pada masa Mataram Kuno merupakan sebuah kehidupan harmonis dimana kepercayaan yang berkembang hidup saling berdampingan. Agama Hindu yang berdampingan dengan Agama Budha mewujudkan karya-karya fenomenal dalam bidang arsitektur bangunan candi. Sebagai tempat pemujaan, candi memiliki informasi mengenai berbagai kehidupan masa lampu melalui relief-relief yang terukir di candi tersebut. Candi-candi yang dibangun juga menunjukkan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap agama-agama tersebut dan kepercayaan terhadap dewa-dewa patron mereka. Seperti dalam agama Hindu, agama Budha juga memiliki tingkatan kedewataan atau sistem panteon yang digambarkan dan diwujudkan dalam berbagai bentuk arca. Akan tetapi untuk memahami panteon dalam agama budha harus memerlukan perhatian yang lebih karena terkait erat dengan sekte yang melatarinya.

Pantheon Budha

Secara garis besar, agama Budha terbagi dalam tiga sekte walaupun sebenarnya jumlah sekte yang ada lebih banyak lagi. Tiga sekte yang dimaksud adalah sekte yang dominan terdiri atas Terawada, Mahayana, Wajrayana yang juga dikenal sebagai Tantrayana.

Terawada merupakan sekte yang berkembang paling awal yang pada prinsipnya Terawada menitik beratkan kepada pencapaian pencerahan secara individual, sehingga tujuan utamanya adalah menjadi arhat atau pendeta. Berbeda dengan Terawada, Mahayana menitik beratkan aktivitasnya pada upaya membantu semua mahluk mencapai pencerahan dengan menjadi Bodhisattwa. Oleh karena itu sekte ini disebut Bodhisattwayana. Sebenarnya sekte Terawada pun mengakui keberadaan Bodhisattwa, akan tetapi hanya mengakui satu Bodhisattwa saja yaitu Siddharta Gautama, sebelum turun ia ke dunia menjadi manusi budha. Sebaliknya sekte Mahayana mengenal banyak sekali Bodhisattwa, tak terhitung jumlahnya. Bodhisattwa Awalokiteswara misalnya bahkan memiliki bentuk perwujudan hingga mencapai 108 bentuk.

Tantrayana disebut juga Tantrisme, adalah tahapan lebih lanjut dari Mahayana yang bersifat esoterik. Sekte ini menitik beratkan aktivitasnya pada praktek-praktek ritual, sedangkan Budhisme yang umum titik beratnya adalah pada meditasi atau samadi.

Sebagaimana halnya dalam agama Hindu, agama Budha pun mengenal sejumlah dewa-dewi yang digunakan sebagai sarana pemujaan. Para Budha dan Bodhisattwa lah yang didudukkan dan dipuja sebagai dewa-dewi. Dalam perkembangannya dewa-dewi dalam agama Hindu diadopsi pula menjadi dewa-dewi Budha, tidak hanya itu agama Hindu pun mengakui keberadaan Budha sebagai awatara kesembilan dalam dasawatara Wisnu. Tradisi semacam itu sebetulnya tidaklah mengherankan terutama apabila, terutama apabila latar belakang munculnya Budhisme dirunut secara historis. Eksistensi Budhisme tidak dapat dilepaskan begitu saja dari Hinduisme. Prasasti Klurak (782 M) yang ditemukan disekitar candi Lumbung bahkan dengan tegas menyebutkan adanya penyetaraan antara Manjusri yang berkedudukan sebagai dewa utama dengan Trimurti, karena di dalam diri Manjusri terkandung unsur Triratna.

Hirarkhi sistem panteon dalam agama Budha terdiri atas Adibudha, Dhyanibudha, Bodhisattwa, dan Manusi Budha. Adibudha adalah dewa tertinggi yang bersifat swayambu (menciptakan dirinya sendiri) dan ia ada sebelum dunia dan seisinya ada. Dari dirinyalah para Dyanibudha berasal dan Dyanibudha disebut juga tathagata adalah emanasi Adibudha yang berkedudukan di nirwana. Para Dyanibudha ini dipercaya sebagai ikon yang telah mencapai kesempurnaan ilmu tertinggi, sehingga terlepas dari samsara. Ada ditingkatan berikutnya adalah Bodhisattwa yaiyu ikon yang telah mencapai pengetahuan tertinggi sehingga berhak masuk nirwana. Akan tetapi ia memutuskan menunda masuk nirwana karena berbelas kasih menolong semua mahluk agar mendapat pencerahan. Para Bodhisattwa ini berkedudukan di swarga tushita yang merupakan tempatnya menunggu sebelum diturunkan ke dunia sebagai manusi budha.

Dipercaya ada banyak manusi budha yang mengabdikan dirinya di dunia untuk menyelamatkan segala mahluk. Salah satunya adalah Sakyamuni (orang bijak dari dinasti Sakya) yang merupakan tokoh sejarah. Sakyamuni adalah sebutan bagi Siddharta Gautama, putra raja Kerajaan Kapilawastu di perbatasan antara India dan Nepal. Masa hidup Siddharta Gautama antara tahun 563 M-483 M dan pada saat berumur 35 tahun ia mencapai kebudhaan, sehingga disebut Budha. Selain untuk menyebutkan tingkatan seseorang yang sudah mencapai kebudhaan, terminologi Budha secara spesifik menunjuk Siddharta Gautama dan ajaran yang diajarkannya, yang kemudian dikenal sebagai agama Budha.

Dewa-dewa Budha dapat dibedakan satu dari yang lainnya melalui berbagai cara. Selain melalui laksana, mudra dan asana-nya, juga dapat diketahui berdasarkan perwujudannya. Adibudha sebagai dewa tertinggi sebenarnya tidak digambarkan sebagai ikon, akan tetapi sekte Wajrayana menggambarkan Adibudha dalam wujud Antropomorfik sebagai Wajradhara yang mengenakan Bodhisattwaabharana. Apabila digambarkan sendiri, Wajradhara digambarkan dalam sikap vajrahumkaramudra dan bila digambarkan bersama sakti-nya Wajradhara digambarkan dalam posisi yab-hum. Wujud lain yang juga dipercaya sebagai representasi Adibudha adalah Samantabhadra dan Wairocana.

Dyanibudha Wairocana di Candi Borobudur 1915 (Koleksi: http://www.kitlv.nl)

Para Dyanibudha mempunyai ciri yang mudah dikenali, digambarkan sebagai ikon yang bermeditasi dan sama sekali tidak mengenakan abharana. Tubuhnya hanya dibalut dengan jubbah yang terdiri dari tiga helai kain disebut triswara atau logoi. Wajahnya yang tenang menggambarkan sikap meditasi. Pada dirinya terdapat ciri fisik berupa tonjolan di tengah dahinya, disebut urna yang merupakan simbol dari mata kebijakan (eye of wisdom) dan yang maha melihat. Kepalanya memiliki tonjolan yang disebut usnisha sebagai simbol dari sifatnya yang maha mengetahui. Telinganya digambarkan panjang sebagai simbol dari sifatnya yang maha mendengar. Jumlah Dyanibudha yang dikenal secara umum ada lima sehingga disebut panca tathagata terdiri dari Ratnasambhawa di timur, Aksobhya di selatan, Amitabha di barat, Amogapasha di utara dan Wairocana di pusat. Konfigurasi Dyanibudha yang lima ini (panca tathagata) tersebut antara lain dapat dijumpai di candi Borobudur. Akan tetapi, Borobudur sebenarnya memiliki keistimewaan karena di Borobudur terdapat Dyanibudha lain yang digambarkan dengan murda witarka yang ditempatkan pada relung-relung di teras persegi paling atas menghadap ke semua penjuru mata angina.

Para Bodhisattwa mempunyai penampilan fisik yang sangat berbeda dengan Dyanibudha. Secara umum Bodhisattwa digambarkan sebagai ikon yang mengenakan pakaian dan perhiasan yang termasuk dalam kategori Bodhisattwa-abharana. Sekte Mahayana dan Wajrayana mengakui banyak sekali Bodhisattwa, berbeda dengan Terawada yang hanya mengakui sati Bodhisattwa saja. Di antara Bodhisattwa yang tak terhitung jumlahnya itu yang paling terkenal adalah Awalokiteswara.

Ikon penting berikutnya adalah Manusibudha (Mortal Budha). Sumber-sumber bacaan yang berkaitan dengan Budhisme Mahayana mencatat kurang lebih 32 Manusibudha, tetapi hanya satu Manusibudha yang merupakan tokoh historis yaitu Sidharta Gautama. Penggambaran Manusibudha bervariasi, ada yang digambarkan dengan ciri Bodhisattwa da nada pula yang digambarkan dengan ciri Dyanibudha. Maitreya sebagai Manusibudha yang akan dating misalnya digambarkan dengan ciri Bodhisattwa. Sementara Sidharta Gautama sebagai resen Manusibudha lebih sering digambarkan dengan ciri Dyanibudha.

Selain melihat hirarkhinya, sistem panteon dalam Budhisme menikuti kula atau keluarga, sebagaimana diikuti oleh sekte Wajrayana. Dalam konsep tersebut, dewa-dewi yang berasal dari satu kula menggunakan atribut yang sama, yang menjadi karakteristikdari kula yang bersangkutan. Dapat dikemukakan sebagai contoh adalah Padma kula yaitu semua anggota dalam Padma kula menggunakan laksana Padma, terdiri atas Amitabha sebagai bapak spiritual para anggota kula, pandara sebagai sakti Amitabha, dan Awalokiteswara. Ciri lain untuk menunjukkan hubungan di dalam kula adalah bimba. Amitabha bimba yang terdapat di mahkota Awalokiteswara misalnya adalah penanda bahwa Amitabha adalah bapak spiritual Awalokiteswara.

Dalam konsep kula, sakti mempunyai peranan penting mengingat para sakti inilah yang dipercaya mengandung energi penciptaan untuk melahirkan kula. Oleh karena itu, sakti memiliki peranan penting dalam pemujaan. Di antara para sakti Dyanibudha dan Bodhisattwa, Tara lah yang paling penting sehingga ia disebut Tara sang ibu. Ada dua Tara yang paling dominan yaitu Tara putih (White Tara) dan Tara hijau (Green Tara). Para Tara tersebut adalah ibu yang dengan setia siang malam, tanpa mengenal lelah melakukan berbagai upaya untuk menghilangkan duka cita dan kesengsaraan para mahluk di bumi. Karenanya tidaklah mengherankan jika sang Sailendrawamsatilaka kemudian memberikan penghormatan khusus kepada Tara dengan mendirikan Candi Kalasan yang diperuntukan sebagai Tarabhawana (rumah untuk Tara) sebagaimana disebutkan dalam Prasasti Kalasan (778 M).

————0000—————

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s