Perkara Bom H. M. Misbach di Boeang?

Surat Kabar Neratja 17 Maret 1924 (Koleksi: Perpustakaan Sana Pustaka Kraton Surakarta)

Dalam beberapa soerat kabar poetih soedah dikabarkan, bahwa perkaranja Hadji Misbach tidak dapat diperiksa dalam landraad, karena tiada boekti-boektinja  jang perkaranja haroes dibawa ke landraad. Sekarang orang soedah dapat mengatakan bahwa Hadji Misbach tiada boektinja, hingga hari ini masih sadja ditahan boei. Inilah jang tidak mengertikan tingkah lakoenja wakil pemerintah. Apakah ini djoega disetoedjoei oleh Bogor? Soeatoe pertanjaan mesti ada boentoetnja.

Masih sadja orang beloem poeas hatinja dengan siksaan ini, jaitoe menahan orang (manoesia) jang tidak bersala. Sekarang ditjarikan djalan lain, soepaja Hadji Misbach dapat diboeang dari tanah kelahirannja.Ini tidak dengan alasan lain, melainkan pemerintah di Bogor ada koeasa memboeang orang dari soeatoe tempat ketempat lain atau dari tanah Hindia ke negeri lain, jang berdasarkan soeatoe artikel dalam regeeering reglement. Orang jang koeasa memang boleh sadja mendjalankan kekoeasaannja. Ini soedah semesthinja. Tetapi oerang tentoenja djoega merasa bahwa kekoesaan itu diberikan kepada jang hanja dilakoekan atau terpakai djika ada sebab-sebabnja.

Pemboeangan Hadji Misbach ini hanjalah beralasan oleh karena jang koeasa merasa adanja Hadji Misbach dinegerinja mengoeatirkan. Sedang jang koeasa soedah siap militair dan politie jang semoeanja soedah bersendjat, sedang seorang Haji Misbach hanja seorang diri jang tidak seberapa kekoeatannja, en toch orang jang koeasa tadi masih sadja ada kesamaran pada invloednja orang jang tidak berkoeasa dinegerinja.

Inilah jang kami harap dengan keras soepaja djangan hanja melakoekan sadja kekoesaannja djika memang tidak ternjata betoel, bahwa orang tadi membawa kegegeran jang akan meroeboehkan keradjaan dan kenikmatannja. Lebih-lebih jang kita rasa adalah seorang Hadji Misbach soeatoe orang jang pernah mendjalankan kekerasan dengan amoe??

Inipoen beloem ternjata pada kita.

Ja, orang baroe mengira bahwa Hadji Misbach jang dikira melemparkan bom di Solo doeloe.

Inilah hanja pengiraan jang tidak berboekti, melainkan Hadji Misbach seorang pemimpin pergerakan. Sedang sebetoelnja seorang pemimpin pergerakan kami mengira tidak akan berani melakoekan tjaranja dengan melempar bom jang itoe terang membinasakan bangsanja sendiri atau golongannja sendiri. Lagi poela dengan tjara pemboeangan ini orang laloe merasa pikirannja sendiri. Orang jang koeasa mendjatoehkan kekoesaannja atas dirinja orang kawoelanja jang tidak mempoenjai kekoeasaan.

Menoeroet perasaan kami inilah boekan tjaranja pemerintahan. Orang jang berkoeasa memfitnah kepada orang jang tidak berkoeasa malah-malah orang jang mendjadi onderdaannja. Inilah jang kami sajang. Sajang karena kami tahoe bahwa semoea tactieknja pemerintah atau semoea mastegelnja pemerintah itoe nanti mesti ada gevolgnja. Ini mesthi!

Sajang karena kami “zwakken” tidak mempoenjai hak apa-apa atas opiredenja pemerintah. Sajang, karena mengetahoei bahwa dengan tjara begini jaitoe pihak koeasa melawan kepada pihak jang dikoeasai dapat menimboelkan rasa tidak enak dari golongan dibawah ini.

Lain sekali dengan Batavia Newsblaad jang laloe sadja bersoeka soekoer dengan berkata: …eindelijk” jang Hadji Misbach, ialah orang jang dikoeasai tadi akan diboeang oleh pemerintah jang memegang kekoeasaan. Soedah seharoesnja pihak Batavia Newsblaad bersoeka soekoer, karena memang golongannja merasa koeatir adanja Hadji Misbach dengan teman-temannja ditanah kita ini, ialah tanah jang dapat memoeliakan golongan tadi. Soekoer dari pihak itoe, karena dirasa bahwa pihak Misbach dan teman-temannya itoe berarti menghalang-halangi kemadjoeannja pihak Batavia Newsblaad.

Inilah soedah semestinja.

Tetapi dari pemerintah jang mempoenjai dasar keadilan dan jang mempoenjai  dasar harga menghargai dan djoega jang mempoenjai dasar koeasa terhadap onderdanennja, kami tidak akan mengharap perasaan seperti diatas, melainkan member perlindoengan sepenoeh-penoehnja terhadap kepada ra’jat  ialah jang mengadakan pemerintahan Hindia.

Dari itoe pengharapan kami, moedah-moedahanlah pemerintah tidak hanja berdiri pada satoe tempat jang berdasar kekoeasaan sadja, melainkan berdiri pada dasar mengetahoeikan “dharmanja”, ialah wajib memperdamaikan soeatoe pihak jang dirasainja keliroe, karena keliroe dan tidaknja golongan ra’iatnja tadi soedah mendjadi tanggoengannja pemerintah.

Ini dengan tjara memboeang seorang anak Hindia sendiri, itoe kami merasa tidak sepadan dengan tinggi dan harga deradjad pemerintah Hindia jang senantiasa mengakoe dan jang haroes diakoe sebagai pemerintahan jang “waardig”.

Inilah kami harapkan karena kami jang senantiasa menoenggoe akan keselamatan doenia jang berdasar harga-menghargai antara pihak satoe dan lainnja ialah di sini pihak koeasa dan jang dikoeasai.

Karena kami pertjaja, bahwa keselamatan Hindia hanjalah dapat didjalankan rasa tinggi jang berdasar tjinta kasih antara pihak sini dan pihak sana. Ini tiada roesaklah perhoeboengan kita sedang ini boekan kemaoean kita sekalian.

(Neratja 17 Maret 1924)

Di bawah ini merupakan beberapa alasan mengapa Haji Misbach harus dibuang yang merupakan akal-akalan pemerintah kolonial Belanda untuk menyurutkan perjuangan anti kapitalisme. Medan Moeslimin mengabarkan sebagai berikut:

“Dalam Gvts. Besluit tanggal 27 Juni 1924 No. 12 disiarkan segala tuduhan atas Haji Moehamad Misbach, terkumpul dari pada surat-surat “amat rahasia” dari segala fihak adviseur pemerintah dalam perkara pembuangan tuan itu, yaitu pokroel jéndral dan adviseur Inlandschezaken, directeur Justitie dan resident Semarang. Daftar yang amat panjang itu kita petik di bawah ini:

Kata H. B.

Sekeluarnya dari penjara menjalani hukuman pers delict, maka Haji Misbach sebagai propagandist Sarekat-Ra’jat menerangkan dalam kumpulan partainya (Kommunist) di rumahnya untuk mendirikan afdeeling Sarekat-Ra’jat di bulan Oktober 1923, dan alam kumpulan mendirikan perbuatan yang diberi nama informatie kantoor di Solo, demikian juga dalam kumpulan partai di Klaten di bulan Februari 1923, bahwa Sarekat-Ra’jat menghendaki revolusi, melawan penindas yang menimpa rakyat, dan seboleh-bolehnya akan mengganggu usaha pemerintah dan kapitalisten. Lagi pula ia telah menggerakkan gerakan rahasia, yaitu menurut kata-katanya berniat melakukan sabotase, melempar bom, membakar, merusakkan kawat, segala itu akan persediaan revolusi.

Segala itu ternyata dalam percakapannya di Solo tadi dan Klaten dalam bulan April 1923. Malah dalam pertengahan tahun 1923 di Surakarta didirikannya “perkumpulan sabotase” dan waktu mendirikan itu ia mengatakan, bahwa kapitalisten mesti menyerahkan hartanya kepada yang kaum miskin, tapi karena tak mungkin Pemerintah dengan réla hati sendirinya akan memperkenankan perubahan aturan dunia semacam   itu, maka bermaksudlah perhimpunan sabotase akan mengikhtiarkan rubuh pemerintah dengan laku membakar dan menyerang diri orang. Segala ini dikuatkan dengan suatu karangannya dalam Islam Bergerak, December 1922 berkepala: “Pemandengan seorang Pradjoerid Islam-Bergerak.”

 Untuk mencapai maksudnya itu maka dalam bulan Augustus 1923 ia bertemu di Madiun dengan Soemono dan Djojodihardjo. Di situ diperbincangkan pelemparan bom, yang sudah dapat sepakat antara Semarang dan dengan Surakarta. Menurut cerita dua orang kawan-kawannya lebih dulu ia telah memberi pengajaran membuat bakal letusan kepada Soemono. Dalam tahun 1923 di Semarang ia kerap kali berhubungan dengan beberapa kawan-kawannya. Dalam suatu pembicaraan antara kawan-kawannya ada seorang dari Solo mengatakan ia dapat menyediakan bom, karena Haji Misbach sudah memberi tahu siapa yang ada membuat bom.

Menurut keterangan dua orang kawan-kawannya itu dalam tahun 1923 Soemono melemparkan sebuah bom knal kwik ke suatu lokomotif. Dan dekat 31 Augustus ia dengan seorang kawannya membuat bom semacam itu, untuk dilemparkan di tengah orang ramai dalam peramaian jubileum. Dalam berbuat itu Soemono luka sampai mati kena bom meletus. Menurut cerita beberapa orang kawannya sebelum putus nyawanya Soemono ia mengatakan, bahwa kalau ditanya hendaklah diterangkan, bahwa Misbach yang menyuruh.

Setelah dalam bulan Mei 1923 ketika ada keramaian di Jokja seorang kawan melempar bom ke tengah orang ramai, membunuh seorang perempuan penonton, terjadi pula perbuatan itu dalam pesta jubileum di Semarang sampai melukai 11 orang. Dekat-dekat waktu itu di daerah Surakarta kerap kali terjadi terbakaran beberapa bangsal.

Pada 22 October 1923 polisi Klaten menangkap bakal letusan serta sumbu, maka ketika itu beberapa orang kawan-kawannya menerangkan, benda itu dapat dari seorang kawan yang ditujukkan oleh kantor informatie Misbach, sedang kawan itu mengatakan asalnya barang-barang itu dari Haji Misbach. Dalam bulan October itu juga di Surakarta di waktu pasar malam terjadi pula pelemparan bom.

Segala perbuatan jahat itu berhenti semenjak Haji Misbach serta beberapa kawannya ditahan dalam bulan Oktober 1923. Maka ternyatalah Haji Moehamad Misbach menjalankan suatu gerakan, yang mesti mengalangkabutkan orang yang berdekatan dengan dia dan membahayai nyawa dan keamanan sesama manusia oleh bala bencana yang menguatiri.

Lain daripada itu dibangkit pula tuduhan yang lama-lama, yaitu bahwa lebih dulupun ia sudah membangunkan kekalutan dan menyebabkan rakyat yang berdekatan dengan dia bertarungan dengan undang-undang hukuman.

Ia tak segan-segan, kata Gvts. Besl. itu:

a. menghasut rakyat melawan perintah memperbaiki rumah untuk pencegahan pest di Surakarta, dilakukannya dalam vergadering rakyat Kartasura, pada 31 Maret 1918 disuruhnya rakyat jangan mau mengembalikan voorschot perbaikan rumah itu;

b. menghasut rakyat dengan mau-mau menjalankan kewajiban kerja, yaitu dalam bulan Maret dan April 1919 di onderneming Tegalgondo kepunyaan Z. H. Susuhunan Surakarta. Kemudian pula dalam bulan Mei 1920 dalam kumpulan di rumah Haji Sirat di Ampik, afdeeling Kebumen ia mengatakan melawan kewajiban menyerahkan padi.

c. menghasut melawan pembesar dan lain sambil mengajak-ajak dengan kiasan akan memerdekakan Jawa (dengan kekerasan dari tindasan dan isapan pertuanan asing (pidato di desa Tarukan, Delanggu) Februari 1920, di kampung Keprabon, Solo (Maret 1920). Dalam kumpulan (di desa Sawahan April 1920) ia mencaci dan menghina-hinakan aturan pemerintah, seperti pembelian padi, monopoli garam, denda, tambahan polisi dan keadaan rumah-rumah kurungan di depan 2100 orang.

d. mendidik kerevolutionairan kepada ambtenaar, polisi dan legiun zelfbestuurder di Surakarta, sehingga mereka tak boleh dipercaja lagi dalam jabatannya; Istimewa ditimbang perbuatannya membangun mupakat akan berbuat kejahatan dan melakukan bencana, yaitu dalam kumpulan rahasia tg. 19 Maret 1920 dengan Dr. Tjipto dan Partowinoto di kantor Panggugah, ia menyorong voorstel mendirikan vak-vereeniging rahasia dengan maksud hendak merusakkan tertib keamanan. Buat permulaan, […], dirubuhkan kantor pos, gedong resident, Javasche Bank, kepatihan dan rumah assistant-resident dengan dinamit. Dalam keributan itu dibunuh resident, rijksbestuurder dan assistant-resident.

Dalam ia terkurung di Klaten dalam bulan Mei 1920 dibuatnya propaganda bagi suatu kongsi penjahat, yang maksudnya akan merampok dan mengécu serta membakar bangsal dan kebun tebu. Seorang temannya dalam bui disuruhnya memimpin perkumpulan itu kalau sudah keluar.

Hawa panas pada golongan sebagian rakyat di Solo lenyap ketika ia ditahan karena spreekdelict di Tarukan dalam bulan Mei 1920. Hukuman penjara 2 tahun rupanya belum cukup akan membunuh nafsunya. Haji Misbach tidak mempertahankan diri, tak mau menjawab pertanyaan resident Semarang dan tak mau membuat surat perlawanan.

Begitulah dakwa-dakwa yang dijatuhkan pada ketua kita H. M. Misbach yang sampai bisa membuang ketua kita itu. Semua keterangan-keterangan itu tentu saja dari spionspion pemerintah.

Kita rakyat apakah percaya dan membenarkan hal itu? Menilik bagaimana jalan spion-spion dan wakil pemerintah mengurus perkara yang penting-penting sebagai perkaranya H. M. Misbach dan kawan-kawannya seperti verslag dalam Panggugah, Sinar-Hindia dan dalam Medan-Moeslimin yang sudah-sudah, yalah mereka ada yang
sebagai orang yang ingin pangkat, ingin bayar, ingin uang, ingin . . . dan takut karena ancaman, maka rakyat tentu tidak bisa mudah percaya. Waktu H.M. Misbach ditarik oleh sesuatu wakil pemerintah pada dekat putusan pembuangan itu, ketua Misbach minta tempo di luar kira-kira 14 hari, kalau dikabulkan sanggup menyaksikan dustanya dakwaan-dakwaan yang dijatuhkan oleh pemerintah kepadanya yang sekarang untuk alasan membuang padanya. Akan tetapi permintaan yang perlu dan penting itu tidak dikabulkan oleh wakil Pemerintah.

Sebab itu, maka rakyat mudah sekali mengira-irakan akan benar dan dustanya semua dakwaan-dakwaan itu, bukan?

Ya, apa boleh buat. Hanya saja kita yakin yang pembuangan pada pemimpin-pemimpin rakyat itu tidak mengamankan negeri, sebab yang mengamankan negeri itu hilangnya rupa-rupa tindasan, perasan, hinaan dan lain lain sebagainya yang menyusahkan penghidupan rakyat dan pergaulan hidup.

Semua itu bisa hilang dengan betul-betul apabila kapitalisme sudah lenyap dari luar bumi.

“Selamatlah ketua kita dengan anak bininya dalam pembuangan.”

Begitulah kita ucapkan. Wassalam.

(Diolah dalam berita  Medan Moeslimin,   Augustus 1924)

————-000————-

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s