Buku-Bukunya Sendiri, Pikiran-Pikiran Sendiri, Moraal Sendiri!!!

Kolonialisme dan Kapitalisme yang bersatu pada masa penjajahan Belanda tidak hanya sekedar mengeruk kekayaan alam Indonesia, tetapi juga mempengaruhi masyarakat melalui berbagai bacaan-bacaan yang melenakan dan menjauhkan masyarakat untuk megetahui akar dari ketertindasan mereka. Lembaga Balai Poestaka yang dibentuk oleh pemerintah kolonial Belanda menajadi corong dalam memproduksi berbagai macam bacaan pada masa pergerakan untuk mengkampanyekan bacaan ini semua. Untuk mengimbanginya maka para aktivis pergerakan, terutama Partai Komunis Indonesia (PKI) berinisiatif untuk menerbitkan berbagai bacaan yang memberikan pendidikan kepada masyarakat akan realita dan mengungkapkan akar dari ketertindasan mereka selama ini.

Pada Kongres IV tahun 1924 di Batavia, PKI mendirikan Kommissi Batjaan Hoofdbestuur PKI. Komisi ini berhasil menerbitkan dan menyebarluaskan tulisan-tulisan serta terjemahan-terjemahan “literatuur socialisme”-istilah ini  dipahami oleh orang-orang pergerakan sebagai bacaan-bacaan guna menentang terbitan dan penyebarluasan bacaan-bacaan kaoem modal. Semaoen adalah orang  yang pertama kali memperkenalkan pengertian “literatuur socialistisch.” Dalam artikelnya, “Klub kominis!,” dikatakan: “socialisme jalah ilmoe mengatoer pergaoelan idoep, soepaja dalem pergaoelan idoep itoe orang-orangnja djangan ada jang memeres satoe sama lain.” Tujuan memilih, menerbitkan dan menyebarluaskan tulisan yang mengajarkan sosialisme adalah; Pertama, untuk menghapuskan hubungan-hubungan sosial   lama-yang telah usang yang tetap dipertahankan oleh kekuasaan kolonial-seperti aturan sembah jongkok ketika bertemu dengan pejabat atau pembesar kolonial. Kedua, “literatuur socialisme” melakukan oposisi untuk melawan dominasi penerbitan barang-cetakan yang diproduksi oleh Balai Poestaka. Dengan kata lain, di atas pentas politik pergerakan, “literatuur socialisme” merupakan “hati dan otak” dari gerakan massa. Dengan produksi bacaan tersebut, rakyat jajahan diperkenalkan dan diajak masuk ke dalam pikiran-pikiran baru yang modern, dan karena itulah “literatur socialisme” harus ditulis dengan
bahasa yang dipahami oleh kaum kromo. (Razif, Bacaan Liar” Budaya Dan Politik Pada Zaman Pergerakan).

Di bawah ini merupakan tulisan Moeso, seorang pemimpin komunis pada masa pergerakan nasional yang memberikan penjelasan betapa pentingnya kaum kromo memiliki bacaan sendiri yang berbeda dari bacaan kaum pemilik modal. Tulisan ini dimuat di surat kabar Proletar, 23 Juli 1925.

“Dalam pergaulan kapital sekarang manusia dibagi jadi dua klas, yaitu klas buruh dan klas kapital. Kebutuhankebutuhan dua-dua klas ini tidak sama. Apa yang menguntungkan klas kapital hampir selamanya merugikan klas buruh. Apa yang menguntungkan klas buruh, hampir semua merugikan kepada klas kapital.

Apa yang baik bagi klas buruh, selamanya dipandang tidak adil oleh klas kapital. Karena itulah klas buruh dan klas kapital tidak bisa dipersatukan kekal, meskipun sama kebangsaan dan agamanya. Klas kapital mempunyai keperluan sendiri. Klas kapital mempunyai maksud sendiri, sedang klas buruh bermusuhan dengan klas kapital. Sebagaimana kambing dengan harimau tidak bisa dirukunkan, begitu juga klas buruh dan klas kapital tidak bisa dirukunkan. Dua-duanya mesti bertanding. Salah satunya mesti hancur.

Apabila klas kapital hingga sekarang masih bisa merajalela di seluruh dunia, itulah sebabnya nomer satu tidak lain, yaitu karena kaum buruh bisa disesatkan pikirannya!

Kaum buruh bisa dibingungkan otaknya, hingga ia pandang sudah semesti-mestinya ada kaum kapital yang menghisap dan ada kaum buruh yang dihisap. Dengan buku-bukunya, surat-surat kabarnya, guru-gurunya dan lain-lain orang yang pandai dan terbayar, kaum kapital bisa menanam pikiran dalam kepala kaum buruh, bahwa kekuasaan kaum kapital itu sudah seperti disahkan oleh langit dan tidak boleh diubah lagi. Orang-orang ulama yang dibayar oleh kaum kapital berkata di mana-mana tempat, bahwa kekuasaan kapital dengan hak privat itu suatu aturan yang memang dikehendaki oleh Allah.

Begitulah Rakyat yang tertindas jadi diam. Ia tidak bisa berbuat apa-apa yang keras, karena pikiran dan nasehatnasehat yang diadakan dari pihak sana itu. Apabila kaum tertindas hendak bertanding dengan mengharapkan kemenangan, haruslah ia melepaskan pikirannya dari pengaruh pihak sana. Rakyat yang bertanding merebut kemerdekaannya sendiri, harus mempunyai pikirannya sendiri tentang baik dan jelek. Tidak seharusnya ia memakai nasehat yang diberikan dari pihak sana itu. Nasehat-nasehat yang diberikan oleh pihak sana tidak lain maksudnya, yaitu meneruskan kekuasan dan penghisapan. Dulu-dulu, ketika raja masih kuasa, anak-anak dan orang-orang tua juga diberi nasehat supaya takluk kepada raja, guru dan orang tua. Menghormati orang tua itu bolehlah dijalankan, demikian pula menghormati guru, apabila ini baik dan tidak merugikan. Tetapi jika orang dinasehati supaya menjunjung raja seperti manusia yang lain macam, maka nasehat yang demikian itu tidak lain maksudnya, supaya raja menghisap Rakyat.

Ada nasehat, yang manusia harus sabar! Kelihatannya ini adalah nasehat baik. Tetapi jika diperiksa betul, maka nasehat ini bisa tidak baik juga. Umpamanya: sabar buat siapa?

Apabila orang buruh dikerjakan siang malam dan ia tinggal pikul saja nasib yang celaka itu, maka kesabaran yang demikian tidak ada gunanya. Kesabaran serupa itu malahan jadi sebab ia mendapat nasib jelek, pada hal kaum majikan mengantongi untung banyak. Jikalau kesabaran itu baik, itulah tidak buat orang-orang dari klas buruh sendiri.

Orang dinasehati tidak boleh berdusta. Ini nasehat dikatakan sering dalam buku-buku yang ditulis oleh pihak sana. Kaum kapital sendiri tiap hari terhadap kaum buruh surat-surat kabarnya menceritakan kabar-kabar bohong. Tetapi ia minta supaya kaum buruh berbuat setia kepadanya. Apabila kaum buruh perhatikan itu nasehat dan tidak lihat papan dan tempo, ia bisa merugikan pertandingan dan perkumpulannya, ia bisa membikin jelek sendiri nasibnya. Misalnya: Jika ada pemogokan atau perlawanan keras, dan ada seorang buruh sebelumnya pemogokan diadakan pergi ke majikan dan memberitahukan apa yang dikehendaki oleh vakbond, maka seorang buruh yang demikian itu disebut pengkhianat klasnya, meskipun ia bilang sesungguhnya apa yang terjadi. Jika ia seorang buruh sejati, ia tidak perlu berkata apa-apa kepada majikan. Dan jika ia ditanya oleh majikan, ia harus berdusta, jika ini kedustaannya untuk keperluan klasnya. Jadi dusta itu ada baiknya juga. Dan dusta itu selamanya baik, jika perlu buat membantu dan memperbaiki nasib klasnya.

Hemat juga dipuji-puji dalam buku yang ditulis oleh pihak sana. Tetapi orang-orang kaya sendiri membuang-buang kekajaan dengan tak ada batasnya. Dalam koran nasrani dilarang orang membunuh sesama manusia. Membunuh memang tidak baik. Jika sekarang ada orang membunuh lain orang, ia ditangkap dan diberi hukuman. Tetapi ketika ada perang, pemerintah-pemerintah kristen di Eropa saban hari membunuh beribu-ribu orang. Kekajaan negeri dipergunakan   untuk bunuh-membunuh. Orangorang yang baik-baik dididik jadi pembunuh. Apakah ini artinya? Membunuh itu baik, jika untuk membela keperluan alias keuntungan sendiri. Jadi membunuh itu tidak selamanya dipandang jelek oleh kapital jika pembunuhan itu memberi untung kepadanya, ia tak akan takut menjalankan itu, meskipun beribu-ribu atau berjuta-juta manusia jadi korban.

Apakah artinya ini semua?

Bahwa perasaan baik atau jelek itu tidak boleh dipakai buat semua manusia. Dalam bahasa biasa, maka baik itu artinya tidak lain yaitu berguna atau menguntungkan. Jelek artinya tidak lain merugikan. Karena apa yang menguntungkan kepada kaum kapital hampir selamanya merugikan kepada kaum buruh, tidak seharusnyalah kaum buruh mempunyai pikiran-pikiran seperti klas kapital.

Karena itulah kaum buruh seharusnya tidak membaca buku-buku atau surat-surat kabar yang dikeluarkan oleh klas kapital atau saudara-saudaranya. Kaum buruh harus mempunyai kebiasaan sendiri, ia harus mempunyai buah pikiran sendiri. Ia harus mempunyai kultuur (kesopanan sendiri, ia harus mempunyai moral sendiri, artinya, K.b. harus mempunyai pemandangan sendiri tentang baik dan jelek dan tidak boleh mengambil pemandangan itu begitu saja dari buku-bukunya kapital.

Kaum kapital sekarang menerbitkan macam-macam buku yang tidak terhingga banyaknya. Itu semua maksudnya tidak lain yaitu untuk menyesatkan dan membingungkan kaum buruh, supaya ini tidak bisa melawan keras-kerasan sebagai mestinya. Apabila sekolahan-sekolahan Rakyat dalam tempo-tempo terachir mendapat rintangan begitu banyak, itulah disebabkan karena ditakutilah yang anak-anak itu nanti terlepas dari buah-buah pikiran yang merugikan kepada kaum buruh itu.

Karena itulah kaum buruh dan kaum tani yang tertindas di sini tidak seharusnya membaca buku-buku yang diterbitkan oleh pihak sana, karena buku-buku ini cuma untuk enguatkan tindasan saja, lain tidak! Kaum tertindas di sini haruslah membaca buku-bukunya sendiri yang ditulis oleh orang-orang dari klasnya sendiri. Begitulah klas yang tertindas, di sini nanti jadi insyaf betul akan nasibnya. Apabila pikiran klas yang tertindas lepas dari pengaruh klas kapital, akan lekaslah ia menguatkan barisannya dan akan lekas juga ia menggalang barisannya untuk merebut apa yang dipandangnya baik bagi diri sendiri.

Apakah yang dipandang baik oleh klas yang tertindas selain jatuhnya kapital, karena jatuhnya kapital menimbulkan komunisme, yaitu dunia yang selamat itu, di mana semua penduduk negeri bisa hidup rukun bersaudaraan dengan tidak kekurangan sesuatu apa.

Untuk mencepatkan datangnya kemerdekaan kita, haruslah sekalian saudara membaca buku-bukunya sendiri, yang ditulis oleh orang-orang dari klasnya sendiri. Klas yang tertindas harus menerbitkan buku-buku yang perlu dalam pertandingan melawan kapital.

Begitulah nanti kita bisa memudahkan datangnya komunisme!!!!”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s