Air dan Mitologi

Pedati Terjebak banjir di Batavia 1925 (Koleksi: www.kitlv.nl)

Pedati Terjebak banjir di Batavia 1925 (Koleksi: http://www.kitlv.nl)

Banjir besar yang bersiklus lima tahunan kembali terjadi menerjang ibukota Jakarta. Melumpuhkan aktifitas masyarakat dan perekonomian. Menelan korban jiwa dan kerugian material yang besar bagi masyarakat. Berbagai cara, daya dan upaya untuk menanggulangi banjir besar ini, selalu menjadi kampanye politik calon Gubernur yang akan memimpin Ibukota, tetapi banjir selalu saja menerjang Jakarta tanpa ampun. Entah mengapa Jakarta menjadi langganan banjir dan sejak jaman kolonial hingga sekarang dengan berbagai teknologi, banjir tersebut belum juga teratasi.

Sejarah mungkin guru terbaik untuk melihat kembali peristiwa-peristiwa yang sama dan menjadikan peristiwa tersebut tidak terulang kembali di masa depan. Melihat peristiwa dengan arif dan bijaksana tentunya akan menghasilkan sebuah keputusan yang bijaksana pula, sambil kembali melihat kearifan lokal masyarakat masa lampau yang mampu bersinergi dengan alam untuk mencegah berbagai malapetaka datang.

Banyak sekali cerita di Jawa yang menggambarkan bahwa pemenuhan harapan orang Kejawen tidak cukup hanya dengan bekerja dan bersembahyang. Ada upaya lain yang harus mereka lakukan. Upaya tersebut adalah ritual, yang dilaksanakan masyarakat sesuai dengan kepercayaan mereka terhadap berbagai mitos yang berkembang.[1] Dengan mengadakan upacara-upacara tertentu, orang Jawa tradisionil atau Kejawen memenuhi kebutuhan spiritualnya. Bisa dikatakan bahwa orang tradisionil Jawa tidak dapat memisahkan mitos dari kehidupan mereka, baik mitos yang diciptakan masyarakat pribumi maupun mitos yang dibawa ke Jawa oleh pengaruh peradaban India masa yang lalu.

Menurut Marcea Eliade, manusia modern sama sekali tidak dapat menghapuskan seluruh masa lampaunya karena dia hasil produksi dari masa lampau.[2] Bagi Eliade, manusia modern menerima berbagai warisan kuno, termasuk “warisan spiritual”, yang terus hidup dalam pikiran manusia dan muncul dan berkembang dalam berbagai bentuk pada masyarakat modern sekarang. Salah satu bentuk pikiran arkais adalah mitos.

Mitos adalah sarana masyarakat kuno untuk menemukan kebenaran dalam kehidupannya. Mitos diiringi pelaksanaan upacara religius yang menempatkan manusia di dalam waktu dan ajang sakral.[3] Maka dalam upacara religius, manusia memulihkan kembali dimensi sakral dari keadaannya yang profan, dan memberikan aneka pelajaran tentang tingkah laku para dewa-dewi yang semestinya melandani sikap manusia. Mitos dianggap benar karena itu mujarab dan berpengaruh bagi masyarakat, bukan karena mitos tersebut memberikan fakta-fakta. Kebenaran mitos terwujud jika si pelaku melaksanakan ritual-ritual tertentu. Hanya dengan upacara si pelaku bisa menarik makna dari berbagai mitos yang berkembang. Seandainya mitos tidak bisa lagi memberikan penjelasan yang mendalam tentang kehidupan manusia, mitos itu akan gagal dan lenyap. Akan tetapi, bila mitos terus mendesak manusia untuk mengubah pikiran dan tingkah lakunya, maka mitos itu dianggap benar. Antara lain, fungsi mitos adalah memperpanjang harapan manusia yang mengalami kekerasan, ketertindasan dan ketakutan bahkan bencana sekalipun. Mitos adalah pemandu yang dapat memberikan saran untuk bagaimana manusia seharusnya bertindak. Dalam kaitannya dengan lingkungan hidup masyarakat Jawa memiliki berbagai mitos sebagai bentuk pelestarian lingkungan.

Sebuah mitologi terkenal mengenai banjir besar adalah mitos Joko Bodo dan Ular Baruklinthing. Ular Baruklinthing adalah ular raksasa penunggu Gunung Merapi dan Merbabu. Ular ini sedang bertapa dan dalam posisi melingkari gunung. Ketika kurang sedikit, dijulurkan lidahnya. Ular pertapa ini berumur ratusan tahun yang badannya sampai ditumbuhi lumut. Ketika penduduk Pengging sedang berburu ke hutan, lalu mereka istirahat dan nginang, memecah jambe. Tubuh ular tertancap oleh sabit masyarakat, karena tubuh ular dikira tanah. Kemudian, tubuh ular mengeluarkan darah dan dipurak untuk pesta warga seluruh desa. Terjadilah bencana kutukan dari dewa, karena barang siapa yang membunuh Ular Baruklinting akan terkena banjir.

Banjir itu dimunculkan oleh seorang utusan supranatural yang dianggap gila, namanya Joko Bodo, tetapi sakti. Ia membuat sayembara, barang siapa yang dapat mencabut lidi ini akan diberi hadiah. Warga desa yang mencoba telah gagal semua, yang berhasil mencabut adalah Joko Bodo sendiri. Setelah sapu lidi dicabut, keluarlah sumber mata air, itu akhirnya membanjiri seluruh desa. Tidak ada yang selamat kecuali Joko Bodo sendiri dan nenek tua (Mbok Rondo Dhadapan) dengan menggunakan lesung sebagai perahu.

Sebenarnya tokoh Joko Bodo, yang alur ceritanya mencabut sapu lidi kemudian membanjiri desa, itu merupakan bukti dari suatu peringatan atau pepeling. Dalam penelusuran lebih lanjut, mata air ini merupakan hasil rembesan dari gunung yang hutannya lebat. Kalau dibabat habis, maka mata air akan habis pula serta akan menimbulkan bencana banjir. Ular naga adalah simbol dari hutan. Jadi, barang siapa yang menghabisi ular tadi maka identik dengan menghabisi hutan. Mitos ini dapat abadi, karena masyarakat di pegunungan masih mempercayainya dan inilah bentuk dari kearifan lokal untuk menjaga ekologi sumber air.

Tetapi, bila melihat banjir Jakarta, sudah menjadi rahasia umum bahwa wilayah penyangga rembesan air telah habis dibabat oleh kerakusan masyarakat perkotaan Jakarta sendiri yang banyak membeli tanah dan membangun rumah untuk dijadikan perkebunan maupun vila-vila mewah, padahal daerah tersebut merupakan penyangga air yang harus dijaga. Maka tidak mengherankan bila selamanya Jakarta akan terus diterjang banjir karena ekologi daerah pegunungan yang menjaga resapan air telah rusak. Dan tentunya kita hanya berharap bahwa kesadaran menjaga wilayah resapan air melalui mitologi-mitologi yang merupakan kearifan lokal dapat dipahami oleh semua masyarakat.

 


[1] Purwadi, Upacara Tradisional Jawa: Menggali Untaian Kearifan Lokal, Jogjakarta: Pustaka Pelajar, 2005.

[2] P.S. Hary Susanto, Mitos Dalam Pemikiran Mircea Eliade, Jogjakarta: Penerbit Kanisius, 1987, hal. 99 – 100.

[3] Karen Armstrong, A Short History of Myth, Canon Gate Book, 2005. 4-7

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s