Perhimpunan Fu Qing (Fu Jing) di Surakarta Sebuah Sejarah Singkat

Perkampungan China di Surakarta (Koleksi: www.kitlv.nl)

Perkampungan China di Surakarta (Koleksi: http://www.kitlv.nl)

Kota Fu Qing (Yu Rong) merupakan sebuah Kabupaten di Republik Rakyat China dimana masyarakat suku Fu Qing banyak meninggalkan kota kelahiran mereka dikarenakan tanah di kota tersebut kurang subur sehingga untuk mencari penghidupan masyarakat Fu Qing merantau keluar dari kota Fu Qing. Hingga saat ini telah tercatat hampir 800 ribu masyarakat Fu Qing yang tersebar di negara-negara Asia Tenggara, Eropa, Amerika, dan Afrika dan lebih dari 100 negara dan daerah.[1] Sebagai masyarakat perantau masyarakat Fu Qing di berbagai negara mendirikan perkumpulan kedaerahan sebagai bentuk solidaritas dan tempat saling membantu antar sesama anggota.

Perhimpunan Fu Qing di Indonesia berdiri pada tahun 1925, dengan nama Giok Yong Kong Hwe. Aktivitas awal perhimpunan Giok Yong Kong Hwe masih bersifat sosial antar sesama hingga kedatangan bangsa Jepang ke Indonesia. Pada masa Jepang praktis kegiatan Giok Yong Kong Hwe mati dikarenakan pemerintah fasis Jepang melarang seluruh organisasi yang ada untuk tumbuh dan berkembang. Barulah setelah Indonesia merdeka masyarakat suku Fu Qing di Surakarta melakukan pemulihan organisasi dengan mendirikan Giok Yong Surakarta dan memberi nama organisasinya menjadi Yu Rong Tong Xiang Hui Surakarta pada tahun 1946 dengan ketua Bhe Dhiam Kiem. Jabatan ketua atau kepengurusan dilaksanakan selama dua tahun selanjutnya dilakukan regenerasi kepengurusan. Pada tahun 1948-1950 ketua Yu Rong Tong Xiang Hui Surakarta dijabat oleh Bhe Kong Tjeng, tahun 1950-1952 dijabat oleh Tjoa Tju Hong dan tahun 1952-1954 dijabat oleh Thio Ming Giem. Tahun 1954-1966 sebuah jabatan yang cukup panjang perkumpulan Yu Rong Gong Hui Surakarta[2] dijabat oleh Tan Tjik Thay hingga perkumpulan ini ditutup oleh Orde Baru[3]

Perkumpulan Yu Rong Gong Hui Surakarta sangat memperhatikan pendidikan anggotanya. Pada masa awal pendiriannya pada tahun 1946 perkumpulan Yu Rong Tong Xiang Hui Surakarta mendirikan Sekolah Dasar Yu Rong (Yu Rong Xiao Xue), sekolah ini berkembang dan mulai mendirikan sekolah lanjutan pertama (SMP) pada tahun 1950-an yang diberi nama sekolah Sin Min, Hua Gong dan Xin Zhong dengan gedung sekolah sendiri.

Sekolah Sin Min mulai digunakan bertepatan dengan selesainya pembangunan gedung kantor Yu Rong Gong Hui. Perayaan peresmian penggunaan bangunan sekolah dan kantor dilakukan secara meriah dan sempat dihadiri oleh istri Komandan Korem Surakarta Letkol Soeharto.[4]

Kebutuhan akan pendidikan bagi anggota Fu Qing Surakarta sangat tinggi, dikarenakan pada tahun 1950-an sekolah lanjutan atas atau SMA di Surakarta belum ada banyak anak-anak murid sekolah Sin Min, Hua Gong dan Xin Zhong yang telah lulus melanjutkan sekolah mereka keluar kota Surakarta atau berhenti sekolah dan tinggal di rumah membantu orang tua mereka mencari nafkah. Kondisi ini menjadi keprihatinan dikalangan pengurus Yu Rong Gong Hui Surakarta, maka direncanakan akan didirikan sebuah sekolah menengah atas di Surakarta bagi masyarakat Tionghoa agar lulusan sekolah Sin Min, Hua Gong, dan Xin Zhong tidak perlu sekolah ke luar kota Surakarta. Maka pada tahun 1956 berdirilah sekolah Suo Lio Zhong Xue dengan kepala sekolah pertamanya Yu Da Zhang.[5] Pendirian sekolah menengah atas ini menunjukan bahwa masyarakat Tionghoa di Surakarta sangat memperhatikan pendidikan sebagai bagian yang penting dalam kehidupan karena pendidikan merupakan salah satu budaya leluhur mereka.

Perkembangan Yu Rong Gong Hui Surakarta, mengalami perkembangan yang maju selama masa Orde Lama, walaupun situasi politik diskriminasi terhadap etnik Tionghoa terjadi. Kegiatan Yu Rong Gong Hui pada masa Orde Lama juga tidak hanya berkutat dalam masalah pendidikan tetapi menyangkut masalah hubungan negara antara Indonesia dan Republik Rakyat Tiongkok (RRT).[6] Hubungan persahabatan tersebut dilakukan dengan cara melakukan kunjungan-kunjungan budaya maupun dengan olahraga terutama bola volley.[7] Undangan pertandingan persahabatan dan lawatan ke RRT terjadi pada tahun 1952. Selain itu juga pemerintah RRT mengundang pengurus Yu Rong Gong Hui bersama masyarakat Tionghoa Indonesia untuk menghadiri perayaan kemerdekaan RRT tahun 1959.

Perkembangan positif Yu Rong Gong Hui Surakarta terhenti ketika kondisi politik Indonesia mengalami goncangan hebat dengan terjadinya peristiwa G 30 S, etnik Tionghoa dianggap mendukung peristiwa tersebut sehingga banyak tokoh etnik Tionghoa yang ditangkap dan ditahan tanpa pengadilan oleh militer. Tidak terkecuali dengan pengurus Yu Rong Gong Hui Surakarta, Tan Tjik Thay yang ditangkap dan ditahan selama dua tahun dan menjadi tahanan kota di Semarang. Yu Rong Gong Hui Surakarta praktis tidak beraktivitas dan gedung sekolah Sin Min, serta kantor Yu Rong Gong Hui Surakarta disita oleh pihak militer.[8]

Peristiwa yang menimpa etnik Tionghoa memang tidak dapat dilepaskan dari adanya perbedaan mengenai politik pembauran yang dilakukan oleh Orde Lama. Munculnya dua doktrin pembauran masyarakat etnik Tionghoa yang berbeda menyebabkan terjadinya konflik tersendiri di kalangan etnik Tionghoa. Masyarakat etnik Tionghoa, dengan dukungan organisasi Baperki menginginkan sebuah integrasi tanpa harus meninggalkan hubungan mereka dengan tanah leluhurnya.[9] Sedangkan doktrin lainnya adalah doktrin asimilasi yaitu peleburan total masyarakat etnik Tionghoa untuk menjadi warga Indonesia dengan meninggalkan segala atribut ke-Tionghoa-annya. Doktrin ini didukung oleh Lembaga Pembina Kesatuan Bangsa (LPKB) yang notabene adalah bentukan militer. Salah satu program utama LPKB adalah pelaksanaan asimilasi di segala bidang kehidupan secara serentak dengan titik berat pada asimilasi sosial. Asimilasi setidak-tidaknya dilaksanakan dalam lima bidang kehidupan, antara lain asimilasi politik, asimilasi kulturil, asimilasi ekonomi, asimilasi sosial/campur gaul dan asimilasi kekeluargaan (pernikahan). Kelima-limanya harus dilaksanakan dengan serentak (sinkron) dengan mempertimbangkan waktu dan irama yang sebaik-baiknya.[10]

Kedekatan Yu Rong Gong Hui Surakarta dengan RRT dan juga penggunaan nama-nama Tionghoa dalam aktivitasnya menjadikan perkumpulan ini ditutup dan aset-asetnya disita oleh milter. Setelah penutupan dan pengambil alihan aset-aset Yu Rong Gong Hui Surakarta oleh pihak militer maka praktis perkumpulan ini mengalami stagnasi dan bahkan dapat dikatakan bahwa perkumpulan ini mati.

Yu Rong Gong Hui Surakarta akhirnya muncul kembali berkat usaha Tan Tjik Thay dalam bentuk yang lain. Adanya pelarangan pendirian organisasi massa oleh pemerintah Orde Baru, maka Yu Rong Gong Hui Surakarta mencoba menyatukan anggotanya kembali dengan membentuk Yayasan Rejeki Bersama pada tahun 1988.[11] Yayasan Rejeki Bersama digunakan sebagai media komunikasi dengan kegiatan utamanya adalah arisan. Kegiatan arisan ini biasa dilaksanakan di rumah makan Diamond, Jalan Slamet Riyadi yang diikuti oleh masyarakat Tionghoa keturunan dari daerah Fu Qing. Yayasan Rejeki Bersama dalam perjalanannya dikarenakan tidak dapat memiliki anggota hanya digunakan sebagai bagian strategi untuk mencoba mengumpulkan anggota Yu Rong Gong Hui Surakarta kembali.

Kejatuhan rezim Orde Baru dan adanya reformasi membuka kebebasan kembali untuk berorganisasi bagi masyarakat etnik Tionghoa di Surakarta. Yu Rong Gong Hui yang berganti menjadi Yayasan Rejeki Bersama akhirnya mengembalikan kembali fungsi organisasinya pada tahun 2002, dengan mengambil nama Himpunan Fu Qing Surakarta. Himpunan Fu Qing Surakarta merupakan kelanjutan proses sejarah organisasi keluarga besar Fu Qing Surakarta dan kembali melakukan aktivitas-aktivitas organisasi seperti pertama kali berdiri.[12]

Himpunan Fu Qing Surakarta memiliki visi dan misi, pertama, mempererat tali silahturahmi antar warga Fu Qing Surakarta pada khususnya, dan warga Fu Qing di seluruh daerah pada umumnya, memperkokoh persatuan dan meningkatkan kerjasama yang bersahabat dengan semua ormas Tionghoa Surakarta, bersama-sama berusaha untuk kemakmuran masyarakat kota Surakarta. Kedua, meleburkan diri ke dalam masyarakat luas, meningkatkan saling pengertian, menjalin keharmonisan hidup berdampingan dengan semua etnik, bersatu padu bahu membahu, bersama-sama membangun kota Surakarta yang aman tenteram dan beradab. Ketiga, mempersatukan warga Fu Qing, mendukung terealisasinya sebuah organisasi gabungan, bergandengan tangan dan bahu membahu bersama masyarakat Tionghoa Indonesia, menyumbangkan pikiran dan tenaga, untuk kemakmuran dan kejayaan Negara Republik Indonesia.[13]

Selama  terbentuknya kembali Perhimpunan Fu Qing Surakarta, telah terdaftar anggota sebanyak 500 anggota yang kesemuanya adalah etnik Tionghoa yang berasal dari kota Fu Qing dan telah menjadi warga negara Indonesia. Anggota-anggota perhimpunan ini aktif dalam berbagai aktivitas yang dilakukan oleh Perhimpunan Fu Qing Surakarta. Kepengurusan Fu Qing Surakarta juga semakin solid dengan masuknya generasi muda ke dalam organisasi. Kepengurusan Fu Qing Surakarta sebagai ketua dipegang oleh Budhi Muljono, sedangkan ketua Dewan Penasehat dipegang oleh Tan Tjik Thay.

 Perkumpulan Fu Qing Surakarta semenjak berdiri telah melakukan aktivitas yang bergerak di bidang kesejahteraan sosial, budaya dan pendidikan. Bidang pendidikan menjadi kegiatan utama semenjak masa kemerdekaan hingga masa Orde Lama. Dalam masa ini perkumpulan Fu Qing Surakarta telah mendirikan sekolah sebagai fasilitas pendidikan dari tingkat sekolah dasar hingga sekolah menengah yang bernama Sin Min bagi masyarakat Tionghoa di Surakarta. Selain itu juga kegiatan-kegiatan sosial berupa pengobatan gratis, bakti sosial serta kegiatan olahraga telah dilakukan oleh perhimpunan Fu Qing Surakarta.

Setelah sekolah Sin Min ditutup dan diambil oleh pihak militer, praktis kegiatan pendidikan bagi anggota perkumpulan Fu Qing berhenti. Orde Baru melalui kebijakan pendidikannya melarang penggunaan bahasa Mandarin sebagai bahasa di sekolah, sehingga generasi masyarakat Tionghoa yang berasal dari perhimpunan Fu Qing Surakarta tidak dapat menggunakan bahkan meneruskannya kepada generasi mudanya. Begitu pula dengan kegiatan kebudayaan etnik Tionghoa praktis berhenti melalui PP 10 tahun 1969 yang melarang segala aktivitas budaya Tionghoa di muka umum. Hal ini juga menyebabkan generasi muda perhimpunan Fu Qing Surakarta, terputus terhadap kebudayaan leluhurnya. Pada masa Orde Baru ini kegiatan perhimpunan Fu Qing Surakarta mati dan organisasinya pun berganti menjadi Yayasan Rejeki Bersama dimana kegiatannya yang dilakukan sebatas kegiatan arisan, bakti sosial sebagai bentuk forum kebersamaan.

Kegiatan perhimpunan Fu Qing Surakarta kembali berjalan normal ketika perhimpunan ini dideklarasikan kembali pada tahun 2002. Selain melakukan penataan internal organisasi, kegiatan perhimpunan Fu Qing Surakarta mulai marak baik kegiatan yang bersifat pendidikan maupun sosial, budaya. Kegiatan-kegiatan ini diselenggarakan baik oleh departemen-departemen organisasi juga dilakukan secara organisasional penuh.

Aktivitas pendidikan yang dilakukan oleh perhimpunan Fu Qing Surakarta berupa kursus bahasa Mandarin yang bertempat di sekretariat himpunan Fu Qing Surakarta. Kursus ini telah berjalan lima tahun dengan jumlah siswa sebanyak 500 siswa dan guru yang berasal dari himpunan Fu Qing sendiri.[14] Selain itu tenaga pengajar juga didatangkan dari Negara Tiongkok untuk mengajar bahasa Mandarin dan kebudayaan Tionghoa.

Himpunan Fu Qing Surakarta juga berpartisipasi dalam terbentuknya pendidikan bahasa Mandarin di Universitas Sebelas Maret Surakarta bersama perkumpulan Hoo Hap Surakarta. Selain itu juga saat ini perkumpulan Fu Qing Surakarta tengah membangun sebuah gedung pendidikan yang akan digunakan sebagai gedung sekolah tiga bahasa.[15] Langkah pertama adalah pembangunan dan membuka sekolah Taman Kanak-Kanak dengan fasilitas yang terbaik berbahasa pengantar bahasa Indonesia, Tionghoa dan Inggris, setelah itu membuka Sekolah Dasar yang merupakan kelanjutan dari sekolah Taman Kanak-kanak dan diharapkan murid-murid SD ini adalah murid-murid TK yang telah lulus. Langkah kedua adalah mendirikan Akademi Bahasa Asing (ABA) dengan mengutamakan bahasa Tionghoa dan Inggris. Sistem belajar disamakan dengan sistem belajar luar negeri dan diharapkan menyamai standar Bahasa Tionghoa di RRT dan standar bahasa Inggris Internasional. Tenaga pengajar akan didatangkan dari RRT dan Inggris atau Amerika. Selain itu juga akan didirikan Sekolah Pelajaran Bahasa Tionghoa dengan mendatangkan guru dari RRT untuk mendapatkan SDM guru.[16]

Kegiatan himpunan Fu Qing Surakarta tidak hanya sebatas pendidikan, sosial dan budaya tetapi telah mengadakan kegiatan internasional dalam bidang ekonomi dengan mengadakan sambutan jamuan makan malam rombongan dagang Fu Qing yang dipimpin oleh Sekjen Dewan Kota Fu Qing, Chen Ru Qi. Kegiatan ini bertujuan mempererat hubungan dengan tanah leluhur dan juga merupakan bagian dari kerjasama ekonomi untuk meningkatkan persahabatan serta memajukan iklim investasi di kota Surakarta.

Kegiatan lain yang diadakan oleh perhimpunan Fu Qing Surakarta adalah dalam bidang olahraga yaitu kegiatan berupa perkumpulan tenis meja, senam Tai Chi dan catur Tiongkok yang dilakukan di sekretariatan himpunan Fu Qing Surakarta dan halaman GOR Surakarta Baru. Kegiatan olahraga ini dilakukan seminggu sekali oleh anggota-anggota himpunan Fu Qing Surakarta.

Organisasi kedaerahan etnik Tionghoa di Surakarta memiliki peran yang sangat besar bagi masyarakat Tionghoa sendiri bahkan bagi masyarakat Surakarta. Kegiatan-kegiatan organisasi etnik Tionghoa walaupun terkadang esklusif tetapi juga memiliki sifat inklusif dalam berbagai hal. Keesklusifan mereka dapat dilihat dari keanggotaan yang terbatas pada etnik Tionghoa dari suku tertentu saja, sehingga etnik Tionghoa dari suku yang lain tidak bisa masuk menjadi anggota. Selain itu kegiatan-kegiatan organisasi mereka juga banyak ditujukan bagi kesejahteraan anggota, hanya sedikit kegiatan yang diperuntukan bagi masyarakat diluar etnik Tionghoa. Walaupun begitu, tidak dapat dipungkiri bahwa organisasi kedaerahan etnik Tionghoa memberikan andil yang cukup besar bagi perkembangan dan dinamika kota Surakarta.

Dengan latar belakang dari masing-masing suku, etnik Tionghoa secara keorganisasian memiliki sifat kekeluargaan.[17] Hal ini dapat terlihat dengan adanya perkumpulan organisasi yang ada dari perbedaan suku etnik Tionghoa. Peran organisasi kedaerahan etnik Tionghoa lebih cenderung menguatkan persaudaraan antar anggota suku yang ada melalui kegiatan-kegiatan pertemuan-pertemuan antar generasi yang dilakukan oleh Himpunan Fu Qing Surakarta, pembentukan Hoo Hap Youth Club dan kegiatan olahraga, kesenian yang menumbuhkan rasa kekeluargaan antar anggota makin erat.[18] Tetapi, kerjasama antar organisasi kedaerahan etnik Tionghoa tetap dijalankan dengan berbagai kegiatan yang berkaitan dengan kebudayaan leluhur mereka.[19]

Secara global, mereka menyiapkan diri dalam menghadapi persaingan global yang semakin menyengsarakan rakyat. Dengan alasan anak cucu, generasi penerus mereka, organisasi dijadikan fasilitas untuk menyiapkan sumber daya manusia (etnik Tionghoa) menghadapi masa depan. Atau bagaimana agar etnik Tionghoa dapat tetap bertahan dalam dalam dunia internasional melalui hubungan-hubungan dengan tanah leluhur. Hal ini dapat terlihat dari bidang kegiatan organisasi kedaerahan etnik Tionghoa dengan menitikberatkan kegiatan pendidikan sebagai pilar utama yang tidak pernah ditinggalkan. Pendidikan bagi etnik Tionghoa adalah yang utama dengan pendirian kursus-kursus pendidikan bagi anggota-anggota mereka.[20] Selain itu kegiatan-kegiatan yang bersifat mempererat hubungan kekeluargaan seperti arisan[21] juga menjadi kegiatan yang dominan di setiap organisasi kedaerahan etnik Tionghoa.

Kegiatan lain bagi persatuan dan rasa kekeluargaan masyarakat Tionghoa adalah perayaan Imlek bersama masyarakat Tionghoa di Surakarta. Perayaan Imlek tahun 2003 dipertegas sebagai momen mempersatukan masyarakat Tionghoa di Surakarta seperti yang ditegaskan oleh ketua panitia perayaan Imlek bersama, Priyo Hadisusanto, bahwa mereka selama ini sebenarnya sudah bersatu. Namun momen Imlek itu kami manfaatkan untuk lebih mempersatukan mereka, bagaimana bersama-sama membangun Solo.[22] Dalam perayaan Imlek ini bergabung organisasi PMS, Himpunan Fu Qing Surakarta, Perhakkas, Perkumpulan Hoo Hap Surakarta, Majelis Agama Konghucu Indonesia, dan Paguyuban Guru Mandarin Indonesia. Kegiatan yang dilakukan berupa doa bersama dan kegiatan kesenian Tionghoa, kegiatn ini dipusatkan di Taman Sriwedari Surakarta.

Ruang komunikasi antar anggota, organisasi dijembatani dengan kegiatan-kegiatan yang sifatnya lebih non formalis, bersifat kekeluargaan. Terbitan organisasi berupa majalah juga menjadi media komunikasi antar anggota selain dapat digunakan sebagai alat pembelajaran terhadap realita etnik Tionghoa sebagai minoritas yang masih mengalami diskriminasi. Hal ini sangat penting dilakukan untuk memperkuat ikatan kekeluargaan dan solidaritas bersama.[23] Terbitan organisasi dirasakan penting selain sebagai ruang komunikasi juga sebagai bagian dari aktivitas menyalurkan ide-ide bagi anggota yang sebagian besar anggota memiliki kesibukan usaha sehingga dengan adanya terbitan organisasi anggota dapat mengetahui perkembangan dan kegiatan-kegiatan organisasi.

Selain sebagai ruang komunikasi, organisasi kedaerahan etnik Tionghoa juga melakukan peningkatan kesejahteraan anggotanya yang telah menjadi sebuah agenda terbesar organisasi dalam menjalankan peranannya. Melalui bidang pendidikan dengan penyediaan beasiswa[24] bagi keluarga anggota-anggota yang kurang mampu maupun yang berprestasi dengan memberikan kesempatan untuk mengenyam pendidikan yang lebih tinggi baik di dalam negeri maupun pendidikan di luar negeri.[25] Kegiatan arisan yang dilakukan secara rutin juga dimaksudkan bagi kesejahteraan anggota dan tentunya komunikasi antar anggota organisasi. Di pihak lain, semisal perkumpulan Hoo Hap Surakarta yang mendirikan Koperasi Simpan Pinjam Sejahtera Makmur Bersama (KOSPIN SEMAR) yang sangat berguna bagi anggota-anggota perkumpulan dalam membiayai usaha anggota-anggotanya juga memberi manfaat bagi organisasi dengan adanya dana bagi keberlangsungan organisasi.

Manfaat yang lebih besar organisasi kedaerahan etnik Tionghoa bagi anggotanya adalah bahwa organisasi kedaerahan etnik Tionghoa sebagai ujung tombak dalam memperjuangkan anti diskriminasi terhadap etnik Tionghoa yang selama ini terjadi. Masalah Surat Bukti Kewarganegaraan Indonesia (SBKRI) yang selalu menjadi hantu bagi etnik Tionghoa diperjuangkan oleh organisasi-organisasi ini. Di kota Surakarta sendiri berkat perjuangan organisasi kedaerahan etnik Tionghoa dan organisasi sosial etnik Tionghoa lain berhasil menghapuskan kewajiban adanya surat SBKRI bagi etnik Tionghoa.[26] Hal ini tentunya disambut dengan gembira oleh seluruh warga etnik Tionghoa di Surakarta karena dengan penghapusan SBKRI mereka dapat dengan leluasa menjadi warga negara Indonesia sama seperti warga lainnya.[27]

Selain itu juga dibentuk posko pengaduan bagi warga etnik Tionghoa yang masih dipersulit secara administratif berkaitan dengan penghapusan SBKRI. Posko ini dibentuk bersama antara PMS Surakarta, Perkumpulan Hoo Hap Surakarta, Perhakkas dan Perhimpunan Fu Qing Surakarta. Posko pengaduan berbentuk kerja bersama dengan mendata pengaduan yang dilakukan oleh warga masyarakat Tionghoa yang merasa diperlakukan secara diskriminatif. Posko pengaduan ini bertempat di PMS Surakarta.[28] Selain itu, hasil temuan dan aduan diskriminatif ini dilaporkan kepada pemerintah kota Surakarta dengan agenda pertemuan dengan Walikota Surakarta yang telah dilakukan pada tanggal 13 Oktober 2004.[29]

Manfaat lain yang didapatkan oleh angota-anggota organisasi kedaerahan etnik Tionghoa adalah bahwa organisasi ini menjadi alat penghubung dengan negeri leluhur mereka, Tiongkok. Organisasi ini menjadi media pengenalan budaya-budaya Tiongkok yang hampir ditinggalkan bahkan dilupakan oleh generasi muda etnik Tionghoa di Surakarta artinya organisasi ini menjadi media budaya.

Jadi secara nyata bahwa organisasi kedaerahan etnik Tionghoa memberi manfaat yang sangat besar bagi anggota-anggotanya selain sebagai media komunikasi, alat peningkatan kesejahteraan, alat perjuangan dari diskriminasi yang dilakukan oleh lingkungannya maupun yang dilakukan oleh negara. Tidak kalah penting dan utama adalah sebagai alat transfer dan media budaya tanah leluhur mereka, Tiongkok.


[1] Buku Khusus Malam Perayaan Hari Jadi Ke-80 Himpunan FUQING Surakarta, 30 Juli 2005.

[2] Nama Yu Rong Tong Xiang Hui diganti menjadi Yu Rong Gong Hui atau Giok Yong Kong Hwe untuk menyeragamkan organisasi.

[3] Ibid.

[4] Wawancara dengan Gunarto SP, Pengurus Himpunan Fu Qing Surakarta, 12 Desember 2005.

[5] Ibid.

[6] Penyebutan Republik Rakyat Tiongkok telah berganti menjadi Republik Rakyat China hingga saat ini.

[7] Yu Rong Gong Hui memiliki klub bola volley yang bernama He Ping dan terkenal sangat kuat pada jamannya. Wawancara dengan Tan Tjik Thay, Pengurus Himpunan Fu Qing Surakarta, tanggal 10 Februari 2006.

[8] Wawancara dengan Tan Tjik Thay, Pengurus Himpunan Fu Qing Surakarta, tanggal 10 Februari 2006, Buku Khusus Malam Perayaan Hari Jadi Ke-80 Himpunan FUQING Surakarta, 30 Juli 2005.

[9] Menurut Siauw Giok Tjhan, etnik Tionghoa harus diterima apa adanya dan tidak perlu membuang seluruh identitas, nama, agama dan tradisinya, apalagi sampai harus meleburkan seluruh ciri-ciri biologis dan fisiknya agar dapat diterima sebagai bangsa Indonesia, karena hal tersebut merupakan pelanggaran atas hak-hak asasi manusia. Untuk diterima menjadi bangsa Indonesia, etnik Tionghoa harus menerjunkan diri dalam perjuangan seluruh rakyat Indonesia dalam mencapai masyarakat sosialis yang adil dan makmur. Etnik Tionghoa harus selalu peduli dan membuktikan sumbangsihnya kepada perjuangan bangsa dan negara serta menunjukkan sikap empati kepada penderitaan rakyat Indonesia. Lihat Benny G. Setiono, “Kegagalan Doktrin Asimilasi”, Makalah, disampaikan dalam “Dialog Evaluasi Pelaksanaan Asimilasi”, yang diselenggarakan Asdep Urusan Pemikiran Kolektif Bangsa, Deputi Bidang Sejarah dan Purbakala Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, bertempat di Wisma Bahtera, Cipayung, Bogor,pada Selasa-Rabu/27-28Januari 2004.

[10] Yayasan Tunas Bangsa, Lahirnya Konsep Asimilasi, Yayasan Tunas Bangsa: Jakarta, 1989, hal. 23.

[11] Keterangan Mengenai Pemulihan Organisasi Himpunan Fu Jing Surakarta, Surakarta, 18 Maret 2002.

[12] Ibid.

[13] Ibid.

[14] Buku Khusus Malam Perayaan Hari Jadi Ke-80 Himpunan FUQING Surakarta, 30 Juli 2005.

[15] Wawancara dengan Tan Tjik Thay, Pengurus Himpunan Fu Qing Surakarta, tanggal 10 Februari 2006.

[16] Buku Khusus Malam Perayaan Hari Jadi Ke-80 Himpunan FUQING Surakarta, 30 Juli 2005.

[17] Acara “Pertemuan Akbar” antar generasi muda Himpunan Fu Qing Surakarta pada tanggal 15 Februari 2004 di kolam pemancingan Luwes Palur milik Hendarto Prasetyo sebagai ajang mempererat komunikasi, kerjasama dan persahabatan generasi muda, Buku Khusus Malam Perayaan Hari Jadi Ke-80 Himpunan FUQING Surakarta, 30 Juli 2005.

[18] Wawancara dengan Tan Tjik Thay, Pengurus Himpunan Fu Qing Surakarta, tanggal 10 Februari 2006 dan juga Wawancara dengan Djoko Prananto, sekretaris Perkumpulan Hoo Hap Surakarta, 26 Januari 2006.

[19] Wawancara dengan Iswahyudya Chou Hong Yen, tanggal 29 Januari 2006.

[20] Wawancara dengan Djoko Prananto, sekretaris Perkumpulan Hoo Hap Surakarta, 26 Januari 2006.

[21] Setiap Organisasi kedaerahan etnik Tionghoa melakukan kegiatan arisan sebulan sekali dan pertemuan besar arisan tiga-empat bulan sekali dilakukan di restoran-restoran besar di kota Surakarta.

[23] Perkumpulan Hoo Hap memiliki Bulletin Perkumpulan Hoo Hap, Persaudaraan Hakka Surakarta memiliki Jendela Hakka dan Fu Qing Surakarta memiliki buku tahunan dan sedang mempersiapkan terbitan serupa. Selain itu disetiap sekretariatan organisasi kedaerahan etnik Tionghoa tertempel dokumentasi aktivitas organisasi maupun media-media berbahasa Tionghoa sebagai sumber informasi anggota organisasi.

[24] Perhimpunan Fu Qing memberikan beasiswa bagi siswa kelas Mandarinnya untuk melanjutkan pendidikannya di program D3 bahasa Mandarin, Fakultas Sastra dan Seni Rupa UNS.

[25] Wawancara dengan Tan Tjik Thay, Pengurus Himpunan Fu Qing Surakarta, tanggal 10 Februari 2006.

[26] Penghapusan SBKRI bagi etnik Tionghoa diputuskan melalui Keppres No.56 tahun 1996 dan Inpres No. 4 tahun 1999, di kota Surakarta sendiri dituangkan melalui Instruksi Walikota Surakarta No. 471/006/02/2004 Tanggal 19 Juli 2004 tentang Pelaksanaan Penggunaan Bukti
Kewarganegaraan.

[27] Wawancara dengan Priyo Hadi Sutanto pengurus Perkumpulan Hoo Hap Surakarta, 14 Oktober 2004.

[28] Wawancara dengan Djoko Prananto, sekretaris Perkumpulan Hoo Hap Surakarta, 26 Januari 2006.

Iklan

4 comments on “Perhimpunan Fu Qing (Fu Jing) di Surakarta Sebuah Sejarah Singkat

  1. Persengketaan China komunis dan Taiwan/Kuomintang juga mencapai Indonesia dan kota Solo. Masyarakat Cina wkt itu terbelah menjadi dua sesuai dengan orientasinya. Sekolah Sin Min di Mesen berorientasi Taiwan. Seblm Orde Baru, sdh ditutup krn pemerintah RI berorientasi ke RRT. Sesudah Suharto berkuasa, sekolah dan perkumpulan yg berorientasi RRT, a.l. Hoo Hap, ditutup. Semua sekolah berbahasa Cina tutup semua. Perkumpulan Cina yg bertahan adalah Cuan Min (?) Yg kemudian menjadi PMS, Perkumpulan Masyarakat Surakarta, dengan mengubah sifatnya menjadi perkumpulan umum, tidak eksklusif Cina.

    Tolong disebutkan, ejaan perkumpulan Yu Rong Tong Xiang Hui dulu apa. Dlm ejaan lama. Terima kasih.

    • Menurt saya seharusnya juga demikian perkumpulan etnies tiong hoa tidak eksklusif pada etnies tertentu saja tetapi juga harus mengajak masyarakat sekitar lebih mengenal budaya negri leluhurnya, bisa dibilang perkumpulan atau organisasi itu menjadi semacam payung untuk saling berinteraksi, bertukar pikiran, bertukar budaya untuk kemajuan bangsa secara bersama sama tanpa meninggalkan identitas.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s