Sisi Kota Surabaya Tahun 1950 Melalui Jepretan Lensa Lex De Herder

Pasar Blauran Surabaya 1950 (Koleksi: www.geheugenvannederland.nl)

Pasar Blauran Surabaya 1950 (Koleksi: http://www.geheugenvannederland.nl)

Surabaya, 5 tahun setelah kemerdekaan, telah banyak berbenah. Tentunya kita akan berpikir bahwa sisa-sisa bombardir tentara Inggris (Sekutu) masih menghiasi jalanan kota ini tetapi kenyataannya tidak tampak sama sekali. Kota Surabaya terlihat eksotis melalui jepretan foto karya Lex De Herder. Awal tahun 1949, Lex de Herder dikirim ke Indonesia sebagai wajib militer. Ia ditempatkan di Surabaya (Jawa Timur) dari 15 Februari sampai dengan 15 Juli 1950. Selain fotographer, ia adalah seorang penyiar radio untuk pasukan Belanda di Radio Republik Indonesia Serikat dan mengajar fotografi untuk para prajurit. Dari Hasil jepretan lensanya Lex De Herder menyajikan sisi kota Surabaya yang begitu berbeda pasca perang. Objek yang dihasilkan banyak berkisah mengenai kehidupan pinggir kota Surabaya yang mungkin tidak terpikirkan oleh kita.

Sebuah Stasiun di Surabaya 1950 (Koleksi: www.geheugenvannederland.nl)

Sebuah Stasiun di Surabaya 1950 (Koleksi: http://www.geheugenvannederland.nl)

Kita akan awali perjalanan ini dengan turun disebuah Stasiun di Surabaya, tidak ada keterangan resmi nama stasiun di foto tersebut. Stasiun cukup ramai dengan aktivitas masyarakat Surabaya, dari Stasiun ini kita akan dibawa berkeliling kota menggunakan kendaraan roda tiga yaitu becak. Pada tahun 1950-an kendaraan ini begitu ramai menjejali jalan-jalan di kota Surabaya selain dokar, taxi (mobil) dan gerobak yang ditarik oleh sapi, seperti nampak pada gambar berikut ini.

Becak Melintasi Jalan di Kota Surabaya 1950 (Koleksi: www.geheugenvannederland.nl)

Becak Melintasi Jalan di Kota Surabaya 1950 (Koleksi: http://www.geheugenvannederland.nl)

Kita melintasi sebuah gedung bioskop yang menjadi tontonan favorit masyarakat kota Surabaya, dan menjadi kebudayaan baru dalam menikmati kehidupan kota. Bioskop Capitol atau Capitol Teater merupakan jaringan bioskop yang memiliki gedung-gedung bioskop di kota-kota besar tidak terkecuali di Surabaya.

Gedung Bioskop Capitol di Surabaya 1950 (Koleksi: www.geheugenvannederland.nl)

Gedung Bioskop Capitol di Surabaya 1950 (Koleksi: http://www.geheugenvannederland.nl)

Becak memang memudahkan kita untuk menikmati kota Surabaya melalui sisi kiri-kanan dan depan dari kendaraan ini. Walaupun dikayuh oleh manusia tetapi becak nyaman untuk ditumpangi dalam menyusuri sisi-sisi kota Surabaya. Sekarang kita akan berjalan menuju sebuah pasar yang dalam keterangan gambar adalah Pasar Blauran. Sebuah pasar yang terkenal akan kuliner, jajanan dan sekarang terkenal dengan buku-buku bekasnya. Lex Herder mampu menyajikan sisi-sisi pasar Blauran dengan apik. Mari kita awali dengan suasana di depan Pasar Blauran yang cukup ramai dengan kendaraan dan masyarakat yang akan beraktivitas di pasar tersebut.

Susana Jalan di depan Pasar Blauran 1950 (Koleksi:  www.geheugenvannederland.nl)

Susana Jalan di depan Pasar Blauran 1950 (Koleksi: http://www.geheugenvannederland.nl)

Dibagian dalam pasar Blauran dapat kita temui para pedagang sayur menjajakan dagangan mereka di atas lapak-lapak ditengah jalan antara toko yang satu dengan yang lainnya. Sementara toko-toko yang ada di Pasar Blauran banyak diisi oleh masyarakat Tionghoa terlihat dari nama-nama toko yang menggunakan huruf-huruf China.

Suasana Pasar Blauran Surabaya 1950 (Koleksi: www.geheugenvannederland.nl)

Suasana Pasar Blauran Surabaya 1950 (Koleksi: http://www.geheugenvannederland.nl)

Sementara di sisi seorang ibu menggunakan jarik dan kebaya dengan menyunggi tampah yang berisi dagangannya berjalan diantara tukang-tukang becak memasuki pasar untuk menjajakan dagangannya. Dagangan yang sederhana, mungkin berupa makanan kecil yang diolah sendiri dirumah.

Seorang Ibu memasuki pasar Blauran dengan membawa dagangan makanan 1950 (Koleksi: www.geheugenvannederland.nl)

Seorang Ibu memasuki pasar Blauran dengan membawa dagangan makanan 1950 (Koleksi: http://www.geheugenvannederland.nl)

Kita juga akan di bawa oleh Lex Herder ke sisi belakang pasar yang jauh dari kesan menyenangkan dan memang kehidupan pasar tradisional hingga saat ini pun masih sering kita jumpai, kesan kumuh, sesak berhimpitan, sampah berserakan, anak kecil telanjang bermain menjadikan sisi lain kehidupan kota yang gemerlap yang biasanya mengagungkan sebuah keindahan dengan budaya bersih dan teratur. Tetapi di sisi lain kita juga harus melihat sisi kelam kota di pinggiran yang membutuhkan sebuah perhatian lebih agar tidak terjadi kesenjangan.

Sisi lain pasar Blauran Surabaya 1950 (Koleksi: www.geheugenvannederland.nl)

Sisi lain pasar Blauran Surabaya 1950 (Koleksi: http://www.geheugenvannederland.nl)

Jalan-jalan kita akhiri di sini, di sebuah sisi yang harus kita perhatikan dalam perkembangan kota, sisi yang didiami oleh orang-orang terpinggirkan untuk segera ditangani agar kehidupan mereka menajdi layak.

————–0000————-

Iklan

4 comments on “Sisi Kota Surabaya Tahun 1950 Melalui Jepretan Lensa Lex De Herder

  1. kalo melihat bentuk fisik stasiunnya, kemungkinan itu stasiun surabaya kota, atau lebih akrab disebut stasiun semut. sekarang bangunannya masih ada, hanya tidak lagi difungsikan sebagaimana dulu. fungsinya digantikan oleh bangunan baru letaknya tidak jauh dari yang lama, agak sebelah barat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s