Mooi Indie atau Postkolonial

Pengolahan tembakau tradisional di Pajo Koemboeh Sumatra 1911 (Koleksi: www.geheugenvannederland.nl)

Pengolahan tembakau tradisional di Pajo Koemboeh Sumatra 1911 (Koleksi: http://www.geheugenvannederland.nl)

Sudah beberapa lama ini saya terlibat dalam berbagai group di FB yang berkaitan dengan sejarah kota dan saya sangat antusias melihat begitu bersemangatnya para admin group maupun anggotanya terlibat dalam memberikan info-info yang berkaitan dengan masa lalu sebuah kota maupun Indonesia secara umum dalam balutan foto-foto masa lampau. Mulai dari gedung-gedung tua, aktivitas masyarakat kota hingga perubahan-perubahan kota dengan membandingkan foto-foto masa lampau dengan masa kini.

Menurut saya hal tersebut sangat menggairahkan, tetapi juga membosankan. Menggairahkan, karena begitu banyak kawan-kawan yang terlibat aktif mencari sumber-sumber masa lampau dalam bentuk gambar digital maupun gambar-gambar foto yang diambil melalui berbagai kegiatan hunting foto di berbagai kota. Hal ini menambah wawasan dan juga semakin terdokumentasikannya artefak-artefak sejarah dalam bentuk bangunan-bangunan kuno dan bermanfaat untuk melestarikan bangunan-bangunan ini. Melalui foto-foto tersebut kita akan disuguhi keindahan masa lalu (Mooi Indie) melalui hasil jepretan kamera-kamera tersebut, membawa kita seolah-olah berada di sana dalam suasana masa lampau yang tenang, indah, tanpa hiruk pikuk masalah sosial politik yang berkembang pada masa tersebut. Pada mulanya istilah Mooi Indie pernah dipakai untuk memberi judul reproduksi sebelas lukisan pemandangan cat air Du Chattel yang diterbitkan dalam bentuk portfolio di Amsterdam tahun 1930. Namun demikian istilah itu menjadi popular di Hindia Belanda semenjak S. Sudjojono memakainya untuk mengejek pelukis-pelukis pemandangan dalam tulisannya pada tahun 1939. Dia mengatakan bahwa lukisan-lukisan pemandangan yang serba bagus, serba enak, romantis bagai di surga, tenang dan damai, tidak lain hanya mengandung satu arti: Mooi Indie (Hindia Belanda yang Indah). Lukisan-Iukisan Mooi Indie dapat dikenali dari penampilan fisiknya. Bentuk atau subyek maternya adalah pemandangan alam yang dihiasi gunung, sawah, pohon penuh bunga, pantai atau telaga. Selain itu kecantikan dan eksotisme wanita-wanita pribumi, baik dalam pose keseharian, sebagai penari, atau pun dalam keadaan setengah busana. Laki-Iaki pribumi juga sering muncul sebagai obyek lukisan, biasanya sebagai orang desa, penari atau bangsawan yang direkam dalam setting suasana Hindia Belanda.[1] Inilah yang sering digunakan sebagai pencitraan untuk menutupi eksploitasi kolonial Belanda.

Tentunya sangat membosankan bila kita hanya melihat sejarah melalui kacamata kolonial yang hanya menempatkan keindahan pada masa lalu. Dan terkadang juga memandang foto-foto masa lampau tanpa narasi yang memadai membuat kita terlepas dari realitas masa lampau yang sebenarnya sehingga ada baiknya pula bila kita mengkajinya dalam cara pandang yang berbeda. Berbagai sudut pandang dalam penulisan sejarah ada satu yang menarik dan mungkin bisa dijadikan pegangan dalam menguraikan data-data sejarah yang berupa gambar digital yaitu pendekatan postkolonialisme. Perspektif postkolonial menyajikan eksplorasi kritis wacana dalam relasinya dengan isu-isu ras, nasionalitas, subjektivitas, power, subalterns.

Mungkin bisa kita lihat bahwa penulisan mengenai sebuah bangunan sangat bagus diuraikan dalam Surat Kabar Sin Po, 4 November 1939 yang berjudul Cerita dari Sebuah Gedung: Stadstuin Semarang. Dalam tulisan tersebut diceritakan bahwa Gedung Stadstuin selain sebagai gedung pertemuan buat golongan Eropa juga dipakai oleh semua lapisan masyarakat khususnya masyarakat kota Semarang bahkan digunakan untuk pertemuan dan rapat-rapat pergerakan kaum pergerakan di Semarang.

Pada tahun 1916 ketika jurnalis Marco di Solo ditangkep lantaran melanggar undang-undang pers, oleh pengadilan Landraad di Semarang dijatuhkan hukuman 8 bulan pendjara, kaum pergerakan di kota Semarang lalu membuat pertemuan di Stadstuin dan mendirikan satu komite yang dinamakan Comite van actie Drukpersvrijheid yang anggotanya terdiri dari D.J.A Westerveld dan H. Sneevliet dari ISDV, G.L. Toope dan R. Pramoe dari Insulinde, Zimmerman van Woesih dan Joesoef dari VSTP, Bransteder dari Marinebond, Soeharjo dari Porojitno, Dr. Tjipto Mangoenkoesoemo dan Darnakoesoema dari IJB dan K.T. Kwee dari dagblad Djawa-Tengah. Komite ini lalu mengajukan permintaan pada pemerintah Kolonial Belanda supaya jurnalis Marco mendapatkan keringan hukuman serta pers Melayu diberi sedikit kemerdekaan untuk bersuara.

Tatkala harga barang-barang kaperluan hidup naik semakin tinggi, sehingga satu gulung benang untuk menjahit seperti benang no. 160, dari satu sen naik menjadi 6 sen, beras no 1 sampai f 14.- per datjin, no. 2 f 13.-per datjin, tuan-tuan Dekker dan Sneevliet, masing-masing voorzitter dan sekretaris dari VSTP pada tanggal 6 Februari 1918 telah mengadakan pertemuan terbuka di Stadstuin, pertemuan yang dihadiri tidak kurang 7000 orang dari segala bangsa. Sebagai pembicara pada waktu itu adalah van Burink berbicara dengan bahasa Belanda, Baars juga dalam bahasa Belanda, sedangkan Darsono, Sneevliet dan Semaoen berbicara dalam bahasa Melayu. Mereka minta supaya pemerintah menurunkan dan menetapkan harga beras per dtjin f. 10.- sebab masayarakat merasa keberatan dengan kenaikan harga tersebut dan sangat memberatkan kehidupan mereka. Pembicara-pembicara tersebut adalah pemimpin-pemimpin pergerakan yang sangat aktif di Semarang pada jaman itu dan beberapa tahun belakangan hampir semuanya tidak diperkenankan pula berdiam di daerah ini karena aksinya dianggap berbahaya oleh pamerintah Kolonial Belanda.

Pada tanggal 8 Mei 1923, Semaoen sebagai voorziiter dari VSTP membuka openbare vergadering di Stadstuin, dan menganjurkan kepada kaum buruh untuk melakukan pemogokan.[2] Tetapi begitu ia kembali ke rumahnya yaitu kantor PKI di Tegal-wareng karena ia menumpang di kantor itu, polisi segera menangkapnya. Ia tidak mendapat kesempatan buat bicara banyak pada istrinya, maka tuan Semaoen berpesan pada sang istri yang sedang hamil, bila bayi itu lahir supaya diberi nama “Loekita”.

Malamnya perkumpulan-perkumpulan kaum buruh Pribumi mengadakan vergadering di kampung Gendong, dimana waktu itu telah diambil keputusan untuk melakukan pemogokan sebagai protes. Besoknya, tanggal 9 Mei trem kota yang menghubungkan Djomblang-Boeloe tidak berjalan karena, buruhnya mogok. Di werkplaats S.J.S pun pekerja Pribumi di Pasar Djohar tidak terlihat berjualan. Dan Pasar Djohar yang biasanya ramai itu jadi lebih sepi pula, hampir kosong lantaran saudagar-saudagar Tionghoa yang sedang tayakan hari peringatan 9 Mei itu hari pun sama tidak buka dasaran. Kusir-kusir sado itu hari juga tidak bekerja maka Semarang djadi amat sunyi. Jongos-jongos dan babu-babu yang biasanya mengantarkan makanan pada tuannya di kantor-kantor, jadi ribut. Mereka tidak bisa datang tepat waktu. Kereta S.C.S, S.J.S dan N.I.S yang berangkat paling pagi, semua tidak bisa jalan lantaran machinist, stoker dan conducteur Pribumi tidak masuk kerja. Buat mengatasi pemogokan tersebut, perusahaan kereta api itu meminta bantuan murid-murid Technische School bangsa Eropa untuk menjalankan kereta api. Di setiap kereta dijaga polisi untuk menjaga ketertiban. Pihak keamanan mengambil tindakan lebih jauh dengan menjaga gedung-gedung penting. Mobil-mobil pembawa paketan barang dari perusahaan kereta api dikawal oleh polisi-polisi.

Rupanya kawan-kawannya tuan Semaoen bisa bekerdja cepat, maka buruh Pribumi di stasiun Weleri ikut mogok. Di stasiun Pekalongan hanya ada 5 buruh Pribumi yang datang di tempat kerja. Kereta dari Pekalongan yang hari itu harus berangkat ke Batavia jadi tertunda. Pemogokan berjalan terus hingga tanggal 10 Mei. Pemerintah lalu mengambil tindakan keras, orang-orang yang dianggap menjadi penghasut pemogokan, segera ditangkap. Begitulah di beberapa kota dimana terdapat orang-orang yang dipandang berbahaya buat ketertiban umum maka pemerintah kolonial Belanda menangkap dan menjebloskannya ke tahanan. Maka setelah peristiwa pemogokan dan penangkapan para pemogok maka keadaan kota Semarang dan sekitarnya telah kembali normal.

Jelas terlihat bahwa bagaimana cerita mengenai gedung bukan sekedar benda mati tetapi ia hidup karena aktivitas masyarakatnya. Masyarakat subaltern yang dalam penulisan sejarah Kolonial jarang mendapatkan tempat dan selalu kalah oleh pencitraan Mooi Indie. Mungkin ini bisa menjadi rujukan bagaimana menuliskan peninggalan sejarah dalam sudut pandang yang lain.

Surakarta, 24 Januari 2014.


[2] Untuk pemogokan VSTP yang lengkap bisa dilihat dalam karya John Ingleson, Perkotaan, Masalah Sosial dan Perburuhan di Jawa Masa Kolonial, Jakarta: Komunitas Bambu, 2013. Ruth T. McVey, Kemunculan Komunisme di Indonesia, Jakarta: Komunitas Bambu, 2010. Takashi Shiraishi, Zaman Bergerak: Radikalisme Rakyat Di Jawa 1912 – 1926, Jakarta: Pustaka Utama Grafiti, 1997.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s