Para Propagandis

Semaoen dan Darsono Propagandis Sarekat Islam (Koleksi: Gambar pada buku DE COMMUNISTISCHE BEWEGING IN NEDERLANDSCH-INDIE karya J. TH. PETRUS BLUMBERGER)

Semaoen dan Darsono Propagandis Sarekat Islam (Koleksi: Gambar pada buku DE COMMUNISTISCHE BEWEGING IN NEDERLANDSCH-INDIE karya
J. TH. PETRUS BLUMBERGER)

“…Tinju gadis itu antara sebentar terangkat, kadang telunjuknya menuding. Telapak tangannya yang halus itu malahan pernah menggebrak meja podium. Mukanya yang pucat jadi merah berseri, kelelahan lenyap dari wajahnya.

Tiba-tiba terdengar pekikan keluar dari kerongkongan putrinya. Ia tak dengar apa yang dikatakannya. Dan kepala gadis itu menunduk takzim, memberi hormat pada hadirin.Tepuk tangan dan seruan Hidup Juffrouw Soendari berderai tiada kan habis-habisnya, mengiringinya turun dari podium.”[1]

Ilustrasi di atas adalah gambaran bagaimana Pramoedya Ananta Toer menceritakan sosok Siti Soendari, seorang wanita yang menjadi tokoh pergerakan mengagitasi massa, meluncurkan kata demi kata mengenai kebobrokan pemerintahan Kolonial Belanda. Seorang wanita pertama yang berbicara di depan massa yang luas dalam sebuah pertemuan organisasi Vereeniging voor Spoor – en Tramweg Personeel (VSTP) di Semarang. Massa merasa terhipnotis dengan semangat anti kolonialisme yang tergambar dari gerakan-gerakan tubuh dan wajahnya yang berseri-seri. lebih jauh Pramoedya Ananta Toer menggambarkan tokoh lainnya yaitu Semaoen sebagai calon agitator dan propagandis yang ulung, seperti yang di tulisnya dalam novel Rumah Kaca-nya:

“Seorang bocah berumur enam belas tahun, bertubuh pendek, yang beberapa tahun lalu masih melayani tamu-tamu VSTP Semarang, dengan kelebihannya karena telah membaca beberapa buku berbahasa Belanda dan berbakat pandai bicara, telah memperlihatkan diri sebagai calon agitator yang tangguh. Bocah itu bernama Semaoen.

Juga Semaoen semakin berkobar-kobar seakan-akan dunia sudah jadi miliknya sendiri dan semua hati telah berpadu dengan hatinya sendiri. Dari mulut bocah itu pula untuk pertama kalinya pribumi mengenal kata-kata sihir seperti imperialism, kapitalisme, nasionalisme, internasionalisme. Dan aku yakin bocah belasan tahun itu belum mengerti sepenuhnya arti kata-kata kesayangannya itu.”[2]

Memang pada masa pergerakan nasional, podium dalam sebuah pertemuan-pertemuan organisasi menjadi wahana para kaum pergerakan untuk melancarkan agitasi-agitasi politik mereka kepada masyarakat umum. Mereka adalah para penguasa kata-kata yang meluncurkan berbagai ketidakpuasan atas penindasan yang dilakukan oleh pemerintah kolonial Belanda. Mencoba membuka mata masyarakat untuk melihat realita yang ada mengenai bagaimana kolonialisme membelenggu kehidupan mereka. Selain pertemuan-pertemuan massa, media massa atau surat kabar juga memainkan peran penting dalam menyebarkan propaganda dari berbagai organisasi pergerakan pada masa itu. Surat kabar adalah mesin pergerakan yang menyampaikan ide-ide para propagandis kepada masyarakat mengenai tujuan dan arah perjuangan mereka melawan kolonialisme.

Pada masa pergerakan nasional inilah muncul tokoh-tokoh pergerakan yang tidak hanya bekerja sebagai propagandis tetapi juga organisatoris, semisal Tirtoadhisoerjo dengan Medan Prijaji-nya, Soewardi Soerjaningrat, Tjipto Mangoenkoesoemo, dan Douwes Dekker dengan Indische Partij (IP) dan Mas Marco Kartodikromo. Mereka adalah para propagandis  profesional yang mengabdikan hidupnya dijalan revolusioner melawan penindasan kolonialisme Belanda baik melalui penanya maupun dengan suara lantangnya dalam setiap vergadering.

Mas Marco merupakan propagandis pergerakan yang dapat dikatakan bekerja sendiri dengan mendirikan IJB (Inlandsche Journalistenbond) di Surakarta tahun 1914 dan menerbitkan surat kabar Doenia Bergerak, walaupun beberapa tokoh lainnya ikut terlibat dalam Doenia Bergerak tetapi tidak dapat dipungkiri bahwa gerakan IJB dan Doenia Bergerak identik dengan Mas Marco. Melalui Doenia Bergerak Mas Marco banyak melakukan “perang” suara dengan para pejabat kolonial Belanda maupun dengan tokoh-tokoh pergerakan sendiri yang dianggap tidak ksatria dalam berjuang. Memang perjuangan awal dari Mas Marco masih merupakan tahapan awal yaitu berteriak dengan suara belum menjadi sebuah tindakan seperti yang dilakukan oleh Semaoen.[3]

Mereka dapat dikatakan bekerja secara profesional dan dibayar oleh organisasi mereka untuk memperluas, memperkuat dan membela kepentingan anggota organisasi serta masyarakat yang lebih luas. Seperti yang dikatakan oleh John Ingleson bahwa Semaoen sebagai seorang anggota Sarekat Islam cabang Surabaya dan mampu berbahasa Melayu dan Belanda. Semaoen rupanya bergabung dalam VSTP cabang Surabaya pada setengah tahun terakhir dari tahun 1914, dan terpilih dalam eksekutif cabang pada awal 1915. Pada 1 Juli 1916, ia berhenti dari pekerjaan di Jawatan Kereta Api Negara dan pindah ke Semarang untuk menjadi propagandis dan editor VSTP Si Tetap dengan gaji kerja penuh.[4]

Selain sebagai propagandis VSTP dan akhirnya menjadi ketua VSTP, Semaoen yang aktif di Sarekat Islam Semarang juga ditunjuk sebagai komisaris dan propagandis Central Sarekat Islam (CSI) bersama Darsono melalui kongres CSI di Surabaya tahun 1918. Sebagai propagandis Semaoen dan Darsono bekerja tidak hanya melalui tulisan di surat kabar tetapi juga membangun organisasi-organisasi pergerakan lain, menghidupkan cabang-cabang pergerakan yang mati, memimpin aksi-aksi massa melalui pemogokan-pemogokan dan juga aksi-aksi solidaritas terhadap penindasan kolonialisme Belanda.

Sebuah pekerjaan yang sangat beresiko bagi perjuangan membebaskan rakyat dari cengkeraman kolonialisme karena pemerintah kolonial Belanda tidak segan-segan memenjarakan dan membuang para propagandis ini bila dianggap merusak tatanan rust en orde. Dan sejarah telah membuktikan bahwa mereka telah mengalami pemenjaraan dan pembuangan akibat dari perjuangan mereka. Tetapi tentunya kita akan mengenang dan hormat kepada perjuangan mereka, karena kita bukan bangsa yang gila.

———–0000———-

Surakarta, 26 Februari 2014

Buat Kawanku Oelan Tri Handayani


[1] Pramoedya Ananta Toer, Rumah Kaca, Jakarta: Lentera Dipantara, 2007.

 [2] Lihat juga Soewarsono, Berbareng Bergerak: Sepenggal Riwayat Pemikiran Semaoen, Yogyakarta: LKiS, 2000.

[3] Beberapa kali Mas Marco menyerang D.A. Rinkes dalam masalah Welvaartscommisie dan juga Tjokroaminoto yang dianggapnya telah jatuh ke tangan pemerintah kolonial Belanda,Takashi Shiraishi, Zaman Bergerak: Radikalisme Rakyat di Jawa 1912-1926, Jakarta: Grafiti Press, 1997.

 [4] John Ingleson, “Tangan dan Kaki Terikat, Pemogokan Buruh Kereta Api (1923)” dalam Perkotaan Jawa, Masalah Sosial dan Perburuhan Masa Kolonial, Jakarta: Penerbit Komunitas Bambu, 2013.

Iklan

2 comments on “Para Propagandis

  1. Mas Prayitno, salam kenal Mas. Sebetulnya secara rutin saya selalu mengintip blog ini. Postingannya selalu menarik apalagi dilengkapi dengan gambar yang ajaib. salam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s