Pemukiman Tionghoa di Surakarta Masa Kolonial

Pemukiman Tionghoa di Surakarta Tahun 1901 (Koleksi: http://www.kitlv.nl)

Pemukiman masyarakat Tionghoa terletak di utara Sungai Pepe sekitar Pasar Besar ke timur di Ketandhan hingga Limalasan, ke utara sampai di Balong, ke sebelah utara menuju Warungpelem. Sedangkan pemukiman masyarakat Arab terletak di Pasar Kliwon dan Kedung Lumbu. Pemisahan ini menunjukan adanya sebuah politik segregasi yang diciptakan oleh pemerintah kolonial sebagai kontrol atas kekuasaan politiknya. Hingga saat ini pemukiman-pemukiman tersebut masih bertahan walaupun telah terjadi persebaran penduduk ke wilayah-wilayah lain di Surakarta. Sebagian besar etnik Tionghoa di Surakarta tinggal di kota, pada umumnya tempat tinggal mereka merupakan deretan rumah yang berhadap-hadapan di sepanjang jalan utama. Deretan rumah-rumah tersebut merupakan rumah-rumah petak di bawah satu atap dan tidak memiliki pekarangan. Bentuk rumah diperkampungan etnik Tionghoa juga dapat terlihat dengan jelas karena memiliki ciri-ciri yang khas yaitu pada ujung atapnya selalu lancip dan ada ukiran-ukiran yang berbentuk naga. Perumahan semacam ini nampak di daerah Pasar Legi, Pasar Gedhe dan daerah Secoyudan. Baca lebih lanjut

Iklan

Pertunjukan Seni Keliling Yang Semakin Langka

Rombongan Tajoeb di sebuah desa di Jawa (Koleksi: Sanapustaka Kraton Surakarta)

Memori masa kecil kadang-kadang datang melintas tanpa sebab memberi inspirasi, membawa kembali kenangan yang bila dicari kembali sulit untuk ditemui. Dahulu di desaku aku sering melihat sebuah pertunjukan orang menari diiringi gamelan, tidak begitu banyak anggota penari tersebut. Mereka beranggotakan 3 orang penari, dan 4-5 pemain musik gamelan, mereka sering berkeliling dari satu desa ke desa lainnya. Kata orangtua di desaku mereka adalah rombongan ledek. Rombongan tersebut berkeliling tidak setiap hari, hanya hari-hari tertentu saja menurut tanggalan Jawa ataupun ketika sebuah desa mengalami panen. Mereka memainkan musik dan menari di punden desa, terkadang ketika menari ibu-ibu yang menonton sambil menggendong anak-anak kecil meminta penari-penari tersebut untuk memberi doa (suwuk) kepada anak-anak mereka agar terhindar dari malapetaka. Tentunya dulu aku juga pernah mengalami hal ini di (suwuk). Baca lebih lanjut

Pedagang Buah Masa Kolonial

Pedagang Buah di Batavia, Jawa 1900 (Koleksi: Tropenmuseum TMnr_10002442)

Pikiranku selalu menerawang penuh dengan pertanyaan, Negara mana yang memiliki begitu banyak musim di dunia ini? Berbagai informasi di internet telah aku cari tetapi setelah membandingkan ternyata Indonesia memiliki banyak musim darpada Negara lain di dunia. Ya, Indonesia, kepulauan nusantara ini memiliki banyak musim didasarkan pada hasil panen buah-buahan yang dihasilkan para petani. Bayangkan saja bahkan dalam satu bulan kita bisa merasakan berbagai musim buah, musim mangga, rambutan, duren, duku, musim jambu dan berbagai musim yang diambil dari melimpahnya panen buah diberbagai daerah nusantara ini. Ah betapa kayanya nusantara ini. Baca lebih lanjut

Pengemis Masa Kolonial Belanda

Pengemis di Banten Jawa Barat 1933 (Koleksi: Tropenmuseum TMnr_10005192)

Hampir setiap pagi tempatku bekerja selalu kedatangan para pengemis, sehingga aku harus menyediakan uang receh untuk diberikan kepada mereka. Mereka terdiri dari ibu-ibu, anak-anak, bahkan laki-laki, terkadang sendiri-sendiri tapi dilain waktu datang berkelompok. Pemandangan ini selalu terjadi setiap hari dan jam-jam yang sama pula. Mungkin pertama-tama kita akan merasa kurang berkenan tetapi lama-lama terbiasa dengan pemandangan ini dan hanya bisa trenyuh. Baca lebih lanjut

Pedagang Minuman Pada Masa Kolonial

Penjual Minuman di Nederlands-Indië 1900 (Koleksi: http://www.kitlv.nl)

Perdagangan telah menjadi aktifitas masyarakat yang cukup lama. Mulai dari barter barang sebagai cikal bakal perdagangan hingga akhirnya dengan adanya uang, suatu barang dinilai dengan uang tersebut. Perdagangan juga dijadikan tingkat kemakmuran sebuah wilayah, karena dengan perdagangan sebuah wilayah menjadi hidup dan berkembang sehingga mempengaruhi berbagai kehidupan sosial masyarakat lainnya. Perkembangan kota terlihat melalui ramainya pusat-pusat perdagangan ini. Perdagangan ini juga memiliki kuantitas yang berbeda, dari perdagangan besar hingga perdagangan kecil yang dilakukan oleh masyarakat dengan alat-alat sederhana. Baca lebih lanjut

Pekerja Anak Masa Kolonial Belanda

Seorang anak kecil penjual Bunga di Garoet 1926 (Koleksi: http://www.kitlv.nl)

Ketidakadilan memang tidak mengenal batas-batas geografis maupun individu-individu. Masyarakat yang lemah secara ekonomi dan politik selalu dihadapkan pada persoalan bagaimana mampu untuk bertahan hidup dalam memenuhi kebutuhannya, segala upaya dilakukan oleh seuruh anggota keluarga tak terkecuali anak-anak terlibat dalam kegiatan ekonomi ini untuk menopang ekonomi keluarganya. Walaupun kita tahu hingga sekarang pekerja anak masih tetap ada, tetapi sesungguhnya telah berada pada posisi yang terlindungi dengan Undang-Undang yang melarang memperkerjakan anak-anak, dibandingkan dengan masa kolonial Belanda dulu. Baca lebih lanjut