Pemogokan di Stooomkoffie Brandery Karangredjo di Blitar

 

Perkebunan kopi Karangredjo di Blitar 1925 (koleksi: www.kitlv.nl)

Perkebunan kopi Karangredjo di Blitar 1925 (koleksi: http://www.kitlv.nl)

Pada tanggal 25 November 1925 kaum buruh di Stoomkoffie Brandery Karangredjo kira-kira jam 9.30 sama didatangi oleh serombongan polisi terdiri dari asisten residen, patih, asisten wedana dan lain-lainnya, berhubung dengan tuntutannya kaum buruh di situ pada tanggal 23 ini bulan. Waktu itu juga mesin pabrik diberhentikan dan sebagian kaum buruh yang dianggap berbahaya dilepas lebih dulu, sedang yang ketinggalan di situ sama dikumpulkan dan dibujuk dengan perkataan manis-manis, agar itu tidak membikin pemogokan. Di situ patih tanya: “siapa yang akan mogok?” Lalu ada 5 pegawai yang maju dihadapan patih, yang mana mereka itu terus dituntut saja dan ditahan di algemeene polisi, tetapi lalu dilepaskan lagi, dengan ancaman jika mereka itu berjalan-jalan mendekati pabrik akan ditangkap. Baca lebih lanjut

Iklan

Sekolah Hakim dan Dokter Pandangan Tirto Adhi Soerjo

 

Sekolah Kedokteran STOVIA tahun 1902 (Koleksi: www.kitlv.nl)

Sekolah Kedokteran STOVIA tahun 1902 (Koleksi: http://www.kitlv.nl)

Dalam surat mingguan Jong Indie, tuan Zaalberg Hoofd Redacteur Bataviaasch Nieuwsblad sudah ajak bangsanya Indo Europeaan beramai-ramai bermohon pada staten Generaal mudah-mudahan sekolahan-sekolahan dokter dan hakim dibuka buat bangsa Europa.

Sudah lama surat kabar bataviaasch Nieuwsblad menambur pembukaannya sekolahan dokter itu buat bukan anak negri, dan tuan Colijn yang baru ini diangkat jadi lid Staten Generaal sudah membicarakan keperluannya sekolahan hakim dibuka buat bangsa Europa, karena ini maka tuan Zaalberg berseru dalam Jong Indie seperti yang sudah diceritakan di atas. Baca lebih lanjut

Rekest C.S.I tentang Inlandsche Verponding pada Gubernur Generaal

Kediaman Gubernur Jendral Batavia (Foto Koleksi: Kraton Kasunanan Surakarta)

Kediaman Gubernur Jendral Batavia (Foto Koleksi: Kraton Kasunanan Surakarta)

Tahun 1920-an merupakan tahun-tahun dimana kesulitan ekonomi mulai melanda Hindia Belanda setelah booming industri gula pada tahun-tahun sebelumnya. Penurunan pendapatan pemerintah kolonial Belanda membuat Gubernur Jendral Dirk Fock memberlakukan kebijakan ekonomi yang ketat dengan melakukan pemangkasan terhadap pengeluaran pemerintah dan menaikkan berbagai pajak salah satunya adalah dengan memberlakukan “Inlandsche Verponding”. Pajak baru ini ditentang oleh berbagai elemen kaum pergerakan karena dianggap semakin membuat rakyat terpuruk. Di bawah adalah rekest (petisi) dari Centraal Sarekat Islam yang berisi penolakan terhadap diberlakukannya pajak baru tersebut. Baca lebih lanjut

Perubahan Hak Memilih Buat Gemeenteraad Sikap Kommunist Terhadap Parlementarisme (Bagian II)

Kediaman Gubernur Jendral Batavia (Foto Koleksi: Kraton Kasunanan Surakarta)

Kediaman Gubernur Jendral Batavia (Foto Koleksi: Kraton Kasunanan Surakarta)

Pada postingan kali ini kami memberikan lanjutan tulisan di Surat Kabar Api mengenai “Perubahan Hak Memilih Buat Gemeenteraad Sikap Kommunist Terhadap Parlementarisme”. Tulisan yang cukup panjang yang menjelaskan bagaimana kaum komunis bergerak dalam parlemen, sejarah parlemen, dan keinginan kaum komunis untuk menerapkan sistem pemerintahan Soviet. Dalam pemerintahan yang demikian itu semua sumber-sumbernya penghidupan, seperti: pabrik, tanah, tambang, rumah-rumah, kapal, spoor dan lain-lainnya, jadi kepunyaannya Rakyat yang bekerja, dan tidak jadi kepunyaannya satu-dua orang kapitalis saja seperti dalam pergaulan kapital. Baca lebih lanjut

Opas sang Penjaga dan Pelayan

Dua opas Asisten Residen di Jawa tahun 1870 (Koleksi: www.kitlv.nl)

Dua opas Asisten Residen di Jawa tahun 1870 (Koleksi: http://www.kitlv.nl)

Oppasser atau oppas dalam kamus bahasa Belanda-Indonesia dapat diartikan sebagai penjaga atau pelayan. Oppasser (opas) memang bagian dari kehidupan masa lampau Hindia Belanda. Oppasser dapat dikatakan bagian dari pekerja domestik bagi keluarga-keluarga Belanda maupun bangsawan dan pejabat pemerintahan kolonial yang tinggal di Hindia Belanda juga ia adalah para pegawai rendahan di instansi milik pemerintah kolonial Belanda. Baca lebih lanjut

Para Tukang Cukur Rambut

Tukang cukur di Jawa 1935 (Koleksi: www.kitlv.nl)

Tukang cukur di Jawa 1935 (Koleksi: http://www.kitlv.nl)

Rambut memang anugrah tersendiri yang dimiliki manusia. Ia bisa merubah penampilan seseorang, bisa membuat sebuah ekspresi politik sebagai bentuk perlawanan terhadap status quo. Rambut juga menjadi sebuah simbol kesehatan yang dimanfaatkan oleh beberapa produk kecantikan untuk menjual barang mereka. Dalam banyak artian dapat dikatakan bahwa rambut memiliki makna budaya dengan berbagai macam ragamnya. Maka aktivitas mencukur rambut bukan semata-mata rutinitas untuk memendekan rambut, tetapi memiliki makna lebih dari itu. Baca lebih lanjut