Perubahan Hak Memilih Buat Gemeenteraad Sikap Kommunist Terhadap Parlementarisme (Bagian II)

Kediaman Gubernur Jendral Batavia (Foto Koleksi: Kraton Kasunanan Surakarta)

Kediaman Gubernur Jendral Batavia (Foto Koleksi: Kraton Kasunanan Surakarta)

Pada postingan kali ini kami memberikan lanjutan tulisan di Surat Kabar Api mengenai “Perubahan Hak Memilih Buat Gemeenteraad Sikap Kommunist Terhadap Parlementarisme”. Tulisan yang cukup panjang yang menjelaskan bagaimana kaum komunis bergerak dalam parlemen, sejarah parlemen, dan keinginan kaum komunis untuk menerapkan sistem pemerintahan Soviet. Dalam pemerintahan yang demikian itu semua sumber-sumbernya penghidupan, seperti: pabrik, tanah, tambang, rumah-rumah, kapal, spoor dan lain-lainnya, jadi kepunyaannya Rakyat yang bekerja, dan tidak jadi kepunyaannya satu-dua orang kapitalis saja seperti dalam pergaulan kapital. Baca lebih lanjut

Iklan

Perubahan Hak Memilih Buat Gemeenteraad Sikap Kommunist Terhadap Parlementarisme (Bagian I)

Kediaman Gubernur Jendral Batavia (Foto Koleksi: Kraton Kasunanan Surakarta)

Kediaman Gubernur Jendral Batavia (Foto Koleksi: Kraton Kasunanan Surakarta)

Beberapa waktu lalu telah terjadi sebuah drama politik di parlemen Indonesia yang membuat berang sebagian besar masyarakat karena hak memilih langsung pemimpin daerah dikebiri dengan undang-undang baru mengenai perubahan undang-undang pemilihan kepala daerah dari langsung dipilih oleh rakyat menjadi diwakilkan oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD). Perubahan ini dianggap mematikan hak demokrasi masyarakat dan banyak penolakan terjadi tetapi Dewan Perwakilan Rakyat Pusat (DPR) tetap mengsahkan rancangan undang-undang tersebut menjadi undang-undang.

Bila kita kembali ke masa pergerakan maka kita akan tahu bahwa bagaimana parlemen di Indonesia muncul dan bagi kepentingan siapa parlemen ini dibuat. Dan di bawah ini adalah salah satu artikel dari surat kabar Api tanggal 31 Juli 1925 yang dengan bagus mengupas bagaimana sebenarnya parlemen pada masa pergerakan dan pada masa Indonesia sebelum merdeka. Artikel ini juga bisa menjadi kaca bagi kita semua dalam bersikap terhadap parlemen. Baca lebih lanjut

Penjual Sayur Keliling

Penjual sayur keliling pada masa kolonial menjajakan dagangan mereka dengan pikulan. Berkeliling ke setiap pelosok desa, menawarkan sayur mayur hasil dari kebun mereka yang tidak begitu besar kuantitasnya. Bertelanjang dada, bercaping berjalan tanpa menggunakan alas kaki.

Memasuki jaman modern sekarang penjual sayur keliling semakin langka ditemui karena pusat jual beli berpindah ke pusat-pusat perdagangan besar, pasar tradisional dan mal-mal. Sayur mayur yang dijual di pasar-pasar tradisional dan mal-mal sekarang pun tidak banyak berasal dari kebun-kebun sendiri tetapi banyak mengimpor dari luar negeri.

Perdagangan kecil sekarang perlahan-lahan mati, dan mal-mal besar mengambil alih peran pedagang sayur keliling ini, kapitalisme besar selalu mematikan rakyat kecil…..

Kromo di Jawa

Oleh: Saturnus

Sinar Djawa, 20 Pebruari 1918

 Pagi-pagi pukul lima bangunlah Kromo dari tidurnya akan mengusahakan sawahnya. Ia mengeluarkan kerbau dari kandangnya dan memanggul bajak, menyingsingkan bajunya. Seorang budak kecil yang belum berumur, meskipun belum waktunya bekerja berat, berjalan di belakang bapanya itu membawa cangkul. Bekerjalah Kromo dengan anak sekeras-kerasnya setiap hari. Setelah pukul sebelas pulanglah Kromo dengan perut kosong, tetapi seribu sayang perutnya itu tak dapat diisi dengan segera, karena bini Kromo belum datang dari pekan menjual kayu-kayu dan daun pisang. Kromo terpaksa menunggu kedatangan bininya itu dengan bekerja memotong-motong kayu, mengambil buah nyiur akan dijual, pada esok paginya. Kira-kira jam dua Kromo baru bisa makan dengan nasi merah dan ikan gerih; tetapi kelihatanlah amat lezat cita rasanya karena dia empunya perut “amat kosong.” Habis makan pergi pula Kromo ke sawah, pada pikirannya biarlah lekas selesai pekerjaannya itu. Jam enam sore ia baru pulang, kalau tak ada nasi biasanya makan ketela pohon yang direbus atau dibakar; itulah sudah cukup buat menahan perutnya. Dari payahnya pada waktu malam ia tidur pulas, dan bininya senantiasa: “remrem ayam” sebab merasakan apakah gerangan yang akan dimakan pada esok paginya??? Baca lebih lanjut

SNEEVLIET DIBUANG!!!

Oleh: Marco

Sinar Hindia, 10 Desember 1918.

Seperti yang telah kita kabarkan kemarin, bahwa saudara Sneevliet betul jadi dibuang. Sesungguhnya tidak nama jarang kalau saya mesti memberhentikan diri tidak turut di dalam pergerakan Hindia, terutama Sarekat Islam. Sebab kalau saya hitung, adalah 8 tahun lamanya saya bergerak di lapangan jurnalistik, yaitu mulai tahun 1914 nama saya sudah tercetak di halaman surat kabar Medan Prijaji di Bandung, surat kabar mana yang saya jadi Mede Redacteur-nya. Waktu Sarekat Islam belum lahir di dunia saya sudah berteriak
ada di Medan Prijaji tentang tidak adilnya Pemerintah di Hindia sini dan rendahnya bangsa kita. Teriakan-teriakan itu sekarang sudah menjadi umum, dan asal orang yang mempunyai kemanusiaan dan tidak jilat-jilat kepada orang yang kuat tentu berani berteriak! Baca lebih lanjut

CATATAN SINGKAT TENTANG KAWAN HAJI MISBACH

 Oleh: Rangsang

(Sinar Hindia, 4 Juli 1924)

 Kawan Misbach, ialah seorang Jawa kira-kira sudah usia 48 tahun. Ia dilahirkan di Solo. Sejak masih kanak-kanak sehingga hampir balig ia menerima didikan yang terbanyak  dari pesantren. Sebagai kebiasaan orang-orang di Solo, ketika sudah datang masanya mencari nafkah, kawan Misbach itu juga lalu berniaga. Ia berdagang kain batik. Meskipun sudah sementara lama di Solo terbit pergerakan yang dipimpin oleh H. Samanhoedi, tetapi pada waktu itu kawan Misbach baharulah suka menunjukkan   kesetujuannya saja kepada pergerakan itu. Sesudah S.I. dalam tahun 1914 menampakkan tanda-tanda akan menjadi pecah . . . Sebab terbit perselisihan antara pemimpin Tjokro yang pada waktu itu menjadi vice president, dengan kehendak Samanhoedi, president C.S.I. serta teman-temannya di Solo. . . Sejak itulah kawan Misbach turut campur benar-benar dalam pergerakan S.I. Baca lebih lanjut