Sekilas Sejarah Barongsai dan Wayang Potehi

Kesenian Liong dan Barongsai Masa Kolonial 1900 (Koleksi: www.kitlv.nl)

Kesenian Liong dan Barongsai Masa Kolonial 1900 (Koleksi: http://www.kitlv.nl)

Barongsai

Kesenian Liong dan Barongsai merupakan salah satu kesenian dari sekian banyak kesenian dalam masyarakat Tionghoa. Kesenian ini sudah cukup tua dan di Tiongkok berkembang pada masa pemerintahan Dinasti Utara Selatan tahun 420-589 M. Kesenian ini muncul bersamaan dengan mitologi dan cerita rakyat yang berkembang pada masyarakat Tiongkok. Dalam mitologi dan cerita rakyat Tiongkok ada beberapa versi mengenai munculnya Barongsai. Versi pertama sejarah munculnya Barongsai berawal dari kemunculan mahluk aneh yang sangat besar, yang dinamakan Nien artinya tahun. Disebut demikian karena kemunculan mahluk aneh itu setiap satu tahun sekali. Binatang tersebut biasanya muncul setiap musim semi atau saat musim panen untuk memangsa apa saja yang dilihatnya, sehingga membuat masyarakat ketakutan. Setelah binatang tersebut mendapatkan makanannya maka ia kembali ke hutan untuk tidur selama satu tahun. Hal ini berlanjut terus menerus dan membuat takut masyarakat ketika musim semi tiba. Baca lebih lanjut

Iklan

Penukar Uang (Geldwisselaars) Pada Masa Kolonial

Geldwisselaars 1853-1856 (Koleksi: http://www.kitlv.nl)

Hari Raya Idul Fitri, memang masih beberapa minggu lagi, tetapi masyarakat telah siap-siap menantikan hari raya tersebut. Dan biasanya yang menarik adalah bahwa pada hari raya Idul Fitri tersebut masyarakat memberikan sejumlah uang kepada para tamu, terutama anak-anak yang datang ke rumah mereka dalam acara silahturahmi. Hal ini juga dilakukan dalam adat masyarakat Tionghoa dengan memberikan angpao pada hari raya Imlek. Apakah kebiasaan masyarakat kita ini adopsi dari budaya Tionghoa atau memang sejak jaman dahulu sudah ada? Sebuah pertanyaan yang membutuhkan penelitian lebih lanjut.

Tetapi yang lebih menarik adalah terutama di kota Solo, dan mungkin juga di kota-kota besar lainnya, biasanya seminggu sebelum hari raya Idul Fitri banyak masyarakat yang berdiri di jalan utama kota Solo sambil membawa berbagai bendel uang pecahan kecil mulai dari ribuan hingga puluhan ribu. Mereka adalah para penukar uang (dalam Belanda disebut geldwisselaars) Uang tersebut akan dipertukarkan kepada masyarakat yang membutuhkan uang kecil tersebut sebagai angpao di hari raya Idul Fitri nanti. Biasanya para penukar uang ini akan diberikan jasa sebesar lima hingga sepuluh persen dari masyarakat yang menukarkan uangnya. Baca lebih lanjut