Pedagang Klonthong dan Mindering Cina di Jawa Masa Kolonial

Pedagang Klontong Cina tahun 1900 (sumber: kartu pos, koleksi Kraton Kasunanan Surakarta)

Perubahan perekonomian masyarakat Jawa telah berlangsung sejak diperkenalkannya penggunaan uang sebagai alat pembayaran pajak oleh pemerintah kolonial Belanda  pada akhir abad ke 19. Sebelumnya pembayaran pajak yang dikenakan oleh masyarakat pedesaan dapat dibayar dalam bentuk natura ataupun kerja wajib. Peraturan baru yang dikeluarkan oleh pemerintah kolonial Belanda mengharuskan masyarakat desa membayar dengan uang tunai. Akibatnya adalah kebutuhan akan uang tunai di pedesaan semakin meningkat dan masyarakat pedesaan yang sebagian besar petani harus memenuhi pembayaran pajak ini dengan menyewakan lahan-lahan mereka kepada pihak perkebunan. Sehingga masyarakat pedesaan kehilangan lahan sebagai alat produksi, sebagai gantinya mereka bekerja sebagai buruh di perkebunan-perkebunan swasta. Hal ini telah dirancang sedemikian rupa oleh pemerintah kolonial Belanda yang mengetahui benar bahwa untuk memenuhi kebutuhan akan uang tunai, para petani tidak dapat menggantungkan usaha mereka kepada sektor pertanian, sehingga sektor perkebunan menjadi alternatif untuk mendapatkan uang tunai dengan bekerja sebagai buruh. Keuntungan yang diambil oleh pemerintah kolonial Belanda adalah sewa tanah yang murah dari petani untuk perkebunan dan buruh murah untuk terlibat dalam produksi perkebunan. Baca lebih lanjut

Perkembangan Buruh dan Organisasi Buruh Awal Abad 20

Buruh Wanita di Pabrik Kapuk 1900 (Koleksi: Tropen Museum TMnr_60020393)

Tulisan ini adalah Cuplikan tulisan dari buku Gerakan Serikat Buruh Jaman Kolonial Hingga Orde Baru karangan Edy Cahyono dan Soegiri DS Terbitan Hasta Mitra yang berbentuk e-book. Dengan cuplikan ini kita dapat melihat bagaimana perkembangan transformasi petani menjadi buruh dan penderitaan buruh dibawah kekuasaan modal yang mulai masuk ke Hindia Belanda bagai banjir dengan perkebunan-perkebunannya hingga munculnya organisasi buruh yang mencoba untuk memperjuangkan kaum buruh yang tertindas pada masa kolonial Belanda. Baca lebih lanjut

Pekerja Anak Masa Kolonial Belanda

Seorang anak kecil penjual Bunga di Garoet 1926 (Koleksi: http://www.kitlv.nl)

Ketidakadilan memang tidak mengenal batas-batas geografis maupun individu-individu. Masyarakat yang lemah secara ekonomi dan politik selalu dihadapkan pada persoalan bagaimana mampu untuk bertahan hidup dalam memenuhi kebutuhannya, segala upaya dilakukan oleh seuruh anggota keluarga tak terkecuali anak-anak terlibat dalam kegiatan ekonomi ini untuk menopang ekonomi keluarganya. Walaupun kita tahu hingga sekarang pekerja anak masih tetap ada, tetapi sesungguhnya telah berada pada posisi yang terlindungi dengan Undang-Undang yang melarang memperkerjakan anak-anak, dibandingkan dengan masa kolonial Belanda dulu. Baca lebih lanjut