Hari Kartini dan Perubahan Pandangan Terhadap Kaum Perempuan

Hari Kartini yang jatuh setiap tahun pada tanggal 21 April memiliki makna yang luar biasa bagi kaum perempuan. Berkat pemikiran-pemikiran yang revolusioner dari Kartini, seorang perempuan ningrat Jawa terhadap perlunya membebaskan kaum perempuan dari ketertindasan dan dominasi budaya patriarki telah membawa kaum perempuan Indonesia kepada kemajuan-kemajuan yang terus dan akan terus diperjuangkan. Sebenarnya bentuk-bentuk perjuangan kaum perempuan dalam memposisikan dirinya setara dengan laki-laki merupakan sebuah emansipasi revolusioner yang terus berjalan. Seperti yang diungkapkan oleh Wertheim bahwa emansipasi bukanlah penganugerahan pembebasan dari atas kepada seseorang atau sekelompok orang. Emansipasi baginya adalah hasil atau produk perjuangan kolektif dari kelompok atau kalangan yang tidak diuntungkan oleh sistem. Dalam konteks inilah bahwa hari Kartini harus diarahkan kepada gerakan-gerakan emansipasi yang mampu membebaskan kaum perempuan dari sistem yang menindas apapun bentuknya. Hari Kartini bukan sekedar perayaan semata dengan gebyar pakaian tradisional tetapi memberikan pemahaman-pemahaman kepada generasi muda akan pentingnya perjuangan pembebasan dari sistem yang menindas. Baca lebih lanjut

Hari Kartini dan Karnaval Kebaya

Wanita pada Masa Kolonial dengan Kebaya 1900 (Koleksi: http://www.kitlv.nl)

Ada fenomena menarik setiap tahun bila kita merayakan Hari Kartini, pasti dimana-mana baik dilingkungan lembaga pemerintah hingga lembaga pendidikan, kita akan menyaksikan para wanita mengenakan pakaian Kebaya sebagai manifestasi perayaan Hari Kartini tersebut. Hal ini bisa dianggap bahwa memaknai Hari Kartini dapat dilakukan melalui penggunaan identitas yang dipakai oleh sang tokoh sehingga tidak begitu penting lagi untuk mengkaji bahwa perjuangan Kartini harus diungkap lebih luas karena dalam keterkungkungan budaya feodal dan mulai munculnya sebuah gerakan emansipasi melalui pendidikan yang dapat mensejajarkan diri dengan bangsa penjajah Belanda, Kartini tetap mengikuti sebuah kebudayaan feodal dalam bentuk pemakaian baju Kebaya dengan gaya dan motif yang telah digariskan oleh sebuah kekuasaan feodal. Hanya melalui tulisan-tulisannya Kartini berkeluh-kesah tentang keterkungkungannya terhadap budaya feodal itu sendiri. Baca lebih lanjut