Budaya Barat Dan Fashion (Mode): Surakarta Masa Kolonial

Iklan Pembuatan Pakaian di Surat Kabar Kawan Kita Jang Toeloes (Sumber: Surat Kabar Kawan Kita Yang Toeloes tahun 1918, Koleksi Bapak Bambang Surakarta)

“Aku Berbicara Lewat Pakaianku” (Dick Hebdige, Sub Culture: The Meaning Of Style, Routledge, 1979)

Pada awal abad XX dalam kehidupan masyarakat di Pulau Jawa terjadi suatu perubahan yang mengarah kepada suatu proses transformasi kebudayaan.[1] Proses perubahan kebudayaan yang menurut Sartono Kartodirdjo[2] disebut sebagai proses modernisasi dapat terjadi karena diakibatkan oleh faktor-faktor pemicu antara lain: pesatnya laju pertumbuhan penduduk, perkembangan sekolah Barat, liberalisasi perekonomian yang meningkatkan arus migrasi penduduk asing dan arus investasi modal asing, pesatnya industrialisasi, pesatnya pembangunan infrastruktur dan sistem komunikasi modern, pembaharuan sistem administrasi dan birokrasi pemerintahan kolonial Belanda. Modernisasi kehidupan masyarakat perkotaan serta terjadinya diferensiasi dan spesialisasi lapangan pekerjaan. Proses modernisasi yang diakibatkan karena terjadinya kontak secara intensif antar unsur-unsur kebudayaan yang didukung oleh agen-agen perubahan yaitu elit birokrat dan elit ekonomi, serta elit pribumi yang terdididik secara Barat yang lebih mengarah kepada dominasi kebudayaan Barat atas kebudayaan agraris tradisional yang oleh Wertheim dimaksudkan sebagai proses Westernisasi.[3] Baca lebih lanjut

Iklan

Hari Kartini dan Karnaval Kebaya

Wanita pada Masa Kolonial dengan Kebaya 1900 (Koleksi: http://www.kitlv.nl)

Ada fenomena menarik setiap tahun bila kita merayakan Hari Kartini, pasti dimana-mana baik dilingkungan lembaga pemerintah hingga lembaga pendidikan, kita akan menyaksikan para wanita mengenakan pakaian Kebaya sebagai manifestasi perayaan Hari Kartini tersebut. Hal ini bisa dianggap bahwa memaknai Hari Kartini dapat dilakukan melalui penggunaan identitas yang dipakai oleh sang tokoh sehingga tidak begitu penting lagi untuk mengkaji bahwa perjuangan Kartini harus diungkap lebih luas karena dalam keterkungkungan budaya feodal dan mulai munculnya sebuah gerakan emansipasi melalui pendidikan yang dapat mensejajarkan diri dengan bangsa penjajah Belanda, Kartini tetap mengikuti sebuah kebudayaan feodal dalam bentuk pemakaian baju Kebaya dengan gaya dan motif yang telah digariskan oleh sebuah kekuasaan feodal. Hanya melalui tulisan-tulisannya Kartini berkeluh-kesah tentang keterkungkungannya terhadap budaya feodal itu sendiri. Baca lebih lanjut