Pihak Perempuan Juga Harus Mengenal Politik

Buruh perempuan di perkebunan tembakau di Jawa 1920

Buruh perempuan di perkebunan tembakau di Jawa 1920

Tulisan di bawah ini merupakan tulisan seorang perempuan mungkin juga ibu rumah tangga yang sangat apik mengutarakan bagaimana seharusnya peran perempuan dalam masa pergerakan nasional. Tulisan yang sederhana tetapi dalam bingkai analisis klas yang jarang ditemukan dalam masa pergerakan nasional dan ditulis oleh seorang perempuan. Koran Api memang kerap mempublikasikan tulisan-tulisan tokoh pergerakan nasional perempuan baik lokal maupun nasional.

Selamat membaca dan Selamat Hari Ibu, Perempuan Sejati!!!! Baca lebih lanjut

Iklan

Disiplin Partai, Kritik Darsono dan Perpecahan Sarekat Islam (Bagian 1)

Semaoen dan Darsono

“Partai Tanpa Disiplin Ibarat Tembok Tanpa Semen dan Mesin Tanpa Baut”

Peristiwa Afdeeling B  di Garut tahun 1919 dan kekalahan pemogokan umum buruh PFB (Personeel Fabrik Bond) pimpinan Soerjopranoto pada tahun 1920 menjadi sebuah titik balik perjuangan Sarekat Islam (SI) dalam mengatasi konflik yang terjadi di dalam organisasi pergerakan nasional ini. Peristiwa afdeeling B telah menempatkan beberapa pimpinan CSI (Central Sarekat Islam) sebagai tersangka termasuk Tjokroaminoto. Akibat peristiwa ini beberapa anggota CSI mengusulkan untuk diadakan sebuah disiplin partai. Disiplin partai yang diusulkan pasca peristiwa Afdeeling B adalah mencoba mendisiplinkan SI Lokal agar tidak melakukan aksi-aksi sepihak tanpa sepengetahuan CSI. Sedangkan disiplin partai yang berkembang pasca pemogokan umum PFB dan dimotori oleh kelompok Jogjakarta, Agoes Salim, Abdoel Moeis dan Soerjopranoto adalah menghilangkan unsur-unsur non SI secara tegas. Tujuannya jelas mengeluarkan unsur komunis dan pengaruh mereka yang begitu kuat di tubuh SI dan CSI khusunya, karena di SI para pemimpin komunis menduduki posisi yang penting di dalam kepengurusan CSI dan Persatoean Perserikatan Kaoem Boeroeh (PPKB) atau lebih sering disebut sebagai Vak Sentral. Baca lebih lanjut