Candi Sojiwan: Lambang Kerukunan dan Kebajikan

Candi Sojiwan, Jawa Tengah (Koleksi: BP3 Jawa Tengah)

Candi Sojiwan, Jawa Tengah (Koleksi: BP3 Jawa Tengah)

Masalah intoleransi di negeri ini sepertinya terus memuncak dan menjadi-jadi saja baik antara sesama umat beragama maupun antar umat beragama. Setelah warga Ahmadiyah yang mengalami kekerasan dan pengusiran, giliran warga penganut Syiah di Madura diusir dari tanah mereka dan tempat mereka mengungsi oleh kelompok masyarakat Sunni. Saya tidak habis pikir mengenai hal ini, bagaimana bisa masyarakat yang mengatasnamakan agama “Rahmatan Lil Alamin” mengusir saudara-saudara mereka sendiri, tentunya saudara sebangsa dan setanah air. Apakah memang tidak ada lagi jalan yang lebih damai untuk ditempuh tanpa harus melakukan tindakan yang tidak berperikemanusiaan tersebut. Mungkin untuk saat ini kaum minoritas satu agama dan bisa jadi ke depan kaum minoritas lain akan menjadi korbannya bila tidak segera dicegah.

Rakyat diusir dari tempat kelahirannya sendiri tanpa bisa dicegah oleh Negara membuktikan bahwa Negara kita memang tidak mampu menjadi tempat berlindung bagi seluruh pemeluk agama dan kepercayaan walaupun Undang-Undang Dasar telah menjamin itu semua. Masih banyak kelompok-kelompok yang berusaha menghegemoni kebenaran dalam ber-Tuhan, padahal masalah Ketuhanan adalah wilayah pribadi masing-masing. Negara melalui pemerintah seharusnya bertindak tegas terhadap kelompok yang melakukan pengusiran tersebut dan melindungi kelompok minoritas Syiah untuk kembali ke tempat asal mereka bukan merelokasinya. Ya, mau apalagi pemerintah kita memang dungu dan kelompok pengusir adalah masyarakat bebal yang sulit untuk diajak bicara untuk lebih toleran dengan kelompok penganut kepercayaan lain seharusnya ada solusi yang saling menghormati, apalagi melihat kenyataan sejarah bahwa telah banyak momen-momen maupun artefak yang menunjukkan bahwa Negara kita dibangun dari toleransi-toleransi yang harmonis antara kepercayaan pendatang dan lokal. Salah satu contohnya adalah artefak bangunan candi Sojiwan di wilayah Prambanan, Klaten, Jawa Tengah. Baca lebih lanjut

Iklan

Bencana Lahar Dingin Merapi Tahun 1931

 

Letusan Gunung Merapi di wilayah Jawa Tengah telah banyak menimbulkan korban jiwa dan kerugian material yang cukup besar. Banyak desa yang rusak dan tinggal menjadi puing-puing, tidak berhenti di situ, ancaman lain adalah banjir lahar dingin yang sewaktu-waktu selalu mengancam masyarakat. Banjir lahar dingin ini menimbulkan kerusakan yang tak kalah dahsyat bagi masyarakat, bahkan mampu memutuskan jalur transportasi sehingga mengganggu mobilitas masyarakat.

Sebenarnya sejarah telah mencatat dampak terjangan lahar dingin ini bagi masyarakat di wilayah dan kota-kota yang dekat dengan Gunung Merapi. Gambar di atas menunjukkan bagaimana dampak lahar dingin menerjang dan merusak jalur kereta api yang menghubungkan kota Yogyakarta dan Magelang di wilayah Muntilan tahun 1931. Dalam gambar di atas memperlihatkan kerusakan jalur kereta api dan para pekerja sibuk membersihkan jalur kereta api dari material vulkanik.

Peristiwa-peristiwa ini seharusnya menjadikan masyarakat dan terutama pemerintah lebih siap agar penanganan korban bencana berjalan dengan baik.