Larangan Rumah Berjobin bagi Masyarakat Kelas Bawah di Wilayah Surakarta Masa Kolonial

Rumah di Jawa tahun 1800-an, Dinding bambu dan jobin tanah (Koleksi: www.kitlv.nl)

Rumah di Jawa tahun 1800-an, Dinding bambu dan jobin tanah (Koleksi: http://www.kitlv.nl)

Pernahkah kita memperhatikan bahwa rumah-rumah penduduk di Jawa, terutama yang berada dalam wilayah kerajaan Surakarta pada umumnya berlantaikan tanah jarang yang berjobin? Usut punya usut ternyata untuk urusan lantai memang kerajaan memberlakukan kebijakan diskriminatif kepada masyarakat yaitu pemerintah kerajaan Surakarta melarang masyarakat kelas bawah memiliki rumah dengan lantai jobin. Hal ini terungkap dalam Surat Laporan Sasradiningrat kepada Residen Surakarta 14 Agustus 1837 yang berbunyi: Baca lebih lanjut

Iklan

Mobil Masa Kolonial Belanda, Sebuah Pameran Kekuasaan

Masyarakat Takjub Melihat Mobil di Solo 1922 (Koleksi: http://www.kitlv.nl)

Jaman modernisasi di Hindia Belanda mulai berlangsung pada akhir abad ke-19 dengan semakin meningkatnya laju pertumbuhan penduduk, perkembangan sekolah-sekolah modern Barat, liberalisasi perekonomian yang meningkatkan arus migrasi penduduk asing dan arus investasi modal asing, pesatnya industrialisasi, pesatnya pembangunan infrastruktur dan sistem komunikasi modern, pembaharuan sistem administrasi dan birokrasi pemerintah Kolonial Belanda, modernisasi kehidupan masyarakat perkotaan, serta terjadinya differensiasi dan spesialisasi lapangan pekerjaan.

Mobil sebagai bentuk modernisasi masyarakat Hindia Belanda mulai masuk pada pada akhir abad ke-19. Mobil merek Benz menjadi mobil pertama yang dimiliki oleh pihak Kerajaan Kasunanan Surakarta, dan mobil tersebut adalah mobil pesanan pribadi Pakubuwono X pada tahun 1894. Tahun 1907 salah seorang keluarga raja lain di Solo, Kanjeng Raden Sosrodiningrat membeli sebuah mobil merk Daimler. Mobil merk ini memang tergolong mobil mahal dan hanya dimiliki oleh orang-orang berkedudukan tinggi. Mobil ini bekerja dengan empat silinder sama dengan kendaraan yang dipakai oleh Gubernur Jenderal di Batavia. Pembelian mobil Daimler tersebut oleh keluarga Sunan Solo, disebabkan karena Sunan tidak mau kalah gengsi dengan Gubernur Jenderal. Sebelumnya, ketika Gubernur masih menggunakan mobil merk Fiat atau sebuah kereta yang ditarik dengan 40 ekor kuda, tidak seorang pun berani menyainginya. Tetapi tiba-tiba saja Sunan Solo memesan mobil dari pabrik dan merk yang sama, Kanjeng Raden Sosrodiningrat memesan mobil Daimlernya lewat Prottel & Co.
Baca lebih lanjut