Perkara Bom H. M. Misbach di Boeang?

Surat Kabar Neratja 17 Maret 1924 (Koleksi: Perpustakaan Sana Pustaka Kraton Surakarta)

Dalam beberapa soerat kabar poetih soedah dikabarkan, bahwa perkaranja Hadji Misbach tidak dapat diperiksa dalam landraad, karena tiada boekti-boektinja  jang perkaranja haroes dibawa ke landraad. Sekarang orang soedah dapat mengatakan bahwa Hadji Misbach tiada boektinja, hingga hari ini masih sadja ditahan boei. Inilah jang tidak mengertikan tingkah lakoenja wakil pemerintah. Apakah ini djoega disetoedjoei oleh Bogor? Soeatoe pertanjaan mesti ada boentoetnja.

Masih sadja orang beloem poeas hatinja dengan siksaan ini, jaitoe menahan orang (manoesia) jang tidak bersala. Sekarang ditjarikan djalan lain, soepaja Hadji Misbach dapat diboeang dari tanah kelahirannja.Ini tidak dengan alasan lain, melainkan pemerintah di Bogor ada koeasa memboeang orang dari soeatoe tempat ketempat lain atau dari tanah Hindia ke negeri lain, jang berdasarkan soeatoe artikel dalam regeeering reglement. Orang jang koeasa memang boleh sadja mendjalankan kekoeasaannja. Ini soedah semesthinja. Tetapi oerang tentoenja djoega merasa bahwa kekoesaan itu diberikan kepada jang hanja dilakoekan atau terpakai djika ada sebab-sebabnja. Baca lebih lanjut

Iklan

Nasib Goeroe Bantoe Pada Masa Kolonial

Surat Kabar Neratja 1 Maret 1924 (Koleksi: Sanapustaka Kraton Surakarta)

Hindia Belanda tahun 1920-an memasuki masa-masa sulit dalam perekonomian setelah memasuki masa-masa booming ekonomi dengan ekspor produk-produk perkebunan yang begitu menguntungkan pemerintah kolonial Belanda. Hal ini juga merupakan imbas dari kesulitan-kesulitan ekonomi di Eropa yang menyebabkan turunnya harga mata uang sehingga harga produk ekspor perkebunan menukik tajam di pasar dunia. Yang menyedihkan adalah kesulitan ekonomi ini menyebabkan bangkrutnya perusahaan-perusahaan kecil dan membawa kegoncangan di berbagai perusahaan besr di Hindia Belanda. Seperti yang diberitakan harian Sinpo tanggal 31 Desember 1921 bahwa banyak perusahaan kecil yang berhenti beroperasi akibat kerugian yang terus menerus dan iklim ekonomi baik pertanian maupun perdagangan belum menunjukan titik terang sehingga banyak perusahaan yang mati atau ditutup sementara. Dengan ditutupnya perusahaan-perusahaan maka semakin menambah pengangguran di Hindia Belanda. Baca lebih lanjut