Pedagang Minuman Pada Masa Kolonial

Penjual Minuman di Nederlands-Indië 1900 (Koleksi: http://www.kitlv.nl)

Perdagangan telah menjadi aktifitas masyarakat yang cukup lama. Mulai dari barter barang sebagai cikal bakal perdagangan hingga akhirnya dengan adanya uang, suatu barang dinilai dengan uang tersebut. Perdagangan juga dijadikan tingkat kemakmuran sebuah wilayah, karena dengan perdagangan sebuah wilayah menjadi hidup dan berkembang sehingga mempengaruhi berbagai kehidupan sosial masyarakat lainnya. Perkembangan kota terlihat melalui ramainya pusat-pusat perdagangan ini. Perdagangan ini juga memiliki kuantitas yang berbeda, dari perdagangan besar hingga perdagangan kecil yang dilakukan oleh masyarakat dengan alat-alat sederhana. Baca lebih lanjut

Iklan

Mengenang Lapo Tuak dan Penjaja Tuak Keliling

Penjual Tuak Keliling di Jawa Tahun 1920 (Koleksi: http://www.kitlv.nl)

Tuak atau juga disebut arak di Nusantara adalah sejenis minuman yang merupakan hasil fermentasi dari bahan minuman/buah yang mengandung gula. Tuak sering juga disebuat pula arak adalah produk yang mengandung alkohol. Bahan baku yang biasa dipakai adalah: beras atau cairan yang diambil dari tanaman seperti nira kelapa atau aren, legen dari pohon siwalan atau tal, atau sumber lain.

Tuak telah dikenal cukup lama dan menjadi minuman yang dijajakan secara bebas sejak dulu oleh masyarakat di berbagai wilayah di Nusantara. Masyarakat di berbagai tempat di Nusantara membangun tempat penjualan dan warung tuak atau yang disebut juga Lapo Tuak.

Biasanya laki-laki yang menyelesaikan kerjanya berkumpul di kedai pada sore hari. Mereka berbincang-bincang, menyanyi, memain kartu, sambil minum tuak. Pada umumnya seorang petani biasa minum tuak beberapa gelas sehari. Kalau laki-laki, baik yang muda maupun yang tua minum tuak di kedai, tetapi jarang terdapat perempuan yang minum tuak di kedai bersama laki-laki, kecuali pemilik kedai atau isterinya. Ada juga laki-laki yang membeli tuak di kedai dan membawa botol yang terisi tuak ke rumahnya atau ke rumah kawannya untuk minum tuak di situ.

Penjual Tuak di pasar Leneke Lombok Timur tahun 1920 (Koleksi: http://www.kitlv.nl)

Tidak hanya warung tuak sebagai tempat minum bersama, tuak atau arak dijual berkeliling oleh pedagang di Jawa, Sumatra Utara, Nusa Tenggara Timur, Bali dan diberbagai tempat di Nusantara. Beberapa foto pada masa jaman kolonial Belanda menunjukkan bahwa tuak dijual berkeliling oleh para pedagang dengan memakai bambu sebagai tempat tuak dan dijinjing secara sederhana. Masyarakat pembeli meminum tuak tersebut di jalan. Tuak sejak dahulu merupakan minuman sebagai penghangat badan sehingga banyak digemari.

Keberadaan warung-warung tuak dan penjaja tuak keliling pada masa kini mungkin hanya tinggal kenangan karena selain kalah bersaing dengan minuman beralkohol impor juga adanya pelarangan dari masyarakat dan pihak pemerintah untuk secara bebas memperjualbelikan minuman beralkohol. Hal ini menambah daftar panjang budaya Nusantara yang musnah, tidak hanya penjaja keliling tuak kemungkinan teknologi fermentasi tradisional juga akan turut musnah.

———————-0000000000000——————-