Merdeka VS Harian Rakyat: Manipol dan Ideologi

Karikatur Surat Kabar Merdeka Tanggal 18 Juni 1964

Isu mengenai penyederhanaan partai yang dilontarkan oleh surat kabar Merdeka atau dalam bahasa surat kabar Harian Rakyat berarti pembubaran partai telah menyeret kedua surat  kabar ini ke dalam polemik yang lebih luas dan menyentuh masalah fundamental yaitu mengenai manipol dan idiologi. Polemik ini berawal dari lontaran surat kabar Harian Rakyat yang menganggap surat kabar Merdeka di luar revolusi nasional, menunjukkan kecenderungan yang anti demokrasi, komunis-phobi, tak ubahnya pers imperialis yang menghasut kaum nasionalis untuk memusuhi kaum kiri sambil mencerca kaum nasionalis sebagai kaum yang tidak bisa apa-apa. Pendirian surat kabar Merdeka yang dianggap mengadu domba ini dikatakan oleh surat kabar Harian Rakyat sebagai pendirian kanan.[1] Baca lebih lanjut

Iklan

Merdeka VS Harian Rakyat: Penyederhanaan Partai

Karikatur di Harian Rakyat Tanggal 20 Juni 1964

Kondisi pers masa Demokrasi Terpimpin ditandai dengan munculnya pers yang membawa suara-suara partai politik. Penyajian berita-berita surat kabar disesuaikan dengan kepentingan partai-partai politik, sehingga terkadang muncul sebuah pertarungan-pertarungan wacana yang sangat panjang dan menarik, bahkan terkadang melibatkan berbagai elemen masyarakat untuk ikut berlomentar dan berargumentasi menjadikan media massa menjadi sesuatu yang menarik untuk dinikmati.

Surat kabar yang menjadi corong partai politik pada masa Demokrasi Terpimpin membawa ketegangan-ketegangan dan polemik yang berkepanjangan antar kelompok maupun partai politik yang dilakukan melalui surat kabar. Polemik antar kelompok di surat kabar membawa berbagai isu yang penting dan krusial pada masa demokrasi terpimpin. Polemik yang panjang terjadi antara surat kabar Harian Rakyat dengan Merdeka yang berlangsung selama sebulan. Polemik kedua surat kabar tersebut mengangkat berbagai isu aktual yang sedang berkembang pada masa tersebut. Baca lebih lanjut