Kuli, Buruh Dan Penulisan Sejarah Mereka

Kuli di Pelabuhan Belawan Medan Turun Dari Kapal Jacob sebagian Besar adalah Kuli dari China (Koleksi: TropenMuseum TMnr_10001445)

Kuli di Pelabuhan Belawan Medan Turun Dari Kapal Jacob sebagian Besar adalah Kuli dari China (Koleksi: TropenMuseum TMnr_10001445)

Ada yang menarik ketika membaca buku John Ingleson “Perkotaan, Masalah Sosial dan Perburuhan di Jawa Masa Kolonial” sebuah kumpulan essay yang diterbitkan oleh Penerbit Komunitas Bambu. John Ingleson dalam Essay pertamanya yang berjudul “Kehidupan dan Kondisi Kerja: Buruh Pelabuhan antara 1910-1920-an”, alih-alih mencoba untuk bersikap netral dalam memandang kehidupan mereka dan bagaimana mereka mempertahankan diri dari guncangan ekonomi yang melanda Hindia Belanda, Ia seakan-akan bahkan mendorong untuk menuliskan kehidupan dan peran mereka lebih banyak lagi. Baca lebih lanjut

Iklan

Mengenang Penderitaan Sang Kuli

Kontrolir Menunjukkan kekuasaannya di Onderneming Tembakau Sumatra Utara (Koleksi: Tropen Museum Nederland TMnr_60001693)

Eksploitasi memang tak akan pernah habis untuk selalu digunakan, baik untuk mengeruk kekayaan alam maupun manusianya. Dapat juga dipadukan keduanya eksploitasi manusia dan sumber daya alam sekaligus. Hindia Belanda masa kolonial adalah tempat dimana pemerintah kolonial Belanda melakukan eksploitasi sumber daya alam dan manusia begitu massif melalui industri perkebunannya, baik yang dilakukan di Jawa maupun luar Jawa. Eksploitasi sumber daya alam yang memanfaatkan manusia sebagai tenaga kerja menjadi polemik yang berkepanjangan karena sifat eksploitasinya yang merugikan. Tenaga kerja ini dinamakan budak, atau menurut Anthony Reid, budak dapat diartikan sebagai pemiutang atau dengan istilah lainnya disebut orang tanggungan, atau kawula karena mereka mendapatkan uang panjar sebelum bekerja. Istilah perbudakan ini berangsur-angsur digantikan dengan istilah kuli dan buruh. Baca lebih lanjut

Pekerja Anak Masa Kolonial Belanda

Seorang anak kecil penjual Bunga di Garoet 1926 (Koleksi: http://www.kitlv.nl)

Ketidakadilan memang tidak mengenal batas-batas geografis maupun individu-individu. Masyarakat yang lemah secara ekonomi dan politik selalu dihadapkan pada persoalan bagaimana mampu untuk bertahan hidup dalam memenuhi kebutuhannya, segala upaya dilakukan oleh seuruh anggota keluarga tak terkecuali anak-anak terlibat dalam kegiatan ekonomi ini untuk menopang ekonomi keluarganya. Walaupun kita tahu hingga sekarang pekerja anak masih tetap ada, tetapi sesungguhnya telah berada pada posisi yang terlindungi dengan Undang-Undang yang melarang memperkerjakan anak-anak, dibandingkan dengan masa kolonial Belanda dulu. Baca lebih lanjut