Sekolah Sarekat Islam Semarang: Pendidikan Yang Humanis

Where is Revolutions black white

Tan Malaka sebagai penggagas pendirian sekolah Sarekat Islam Semarang dan Sekolah Sarekat Islam Bandung memberikan penjelasan mengenai sistem pengajaran yang akan dilaksanakan bagi sekolah ini. Ada tiga tujuan yang hendak dicapai dengan didirikannya sekolah Sarekat Islam Semarang ini:

  1. Memberi coekoep banjak djalan (kepada para moerid) oentoek mendapatkan mata pencaharian di dunia jang kapitalistis (berhitoeng, menoelis, ilmoe boemi, bahasa Belanda, Melaju, Djawa).
  2. Memberi hak kepada para moerid oentoek mengikoeti kegemaran (hobi) mereka dengan membentoek perkoempoelan-perkoempoelan.
  3. Mengarahkan perhatian para moerid pada kewadjiban mereka jang akan datang terhadap djutaan keloearga Pak Kromo.[1]

Baca lebih lanjut

Iklan

Kromo di Jawa

Oleh: Saturnus

Sinar Djawa, 20 Pebruari 1918

 Pagi-pagi pukul lima bangunlah Kromo dari tidurnya akan mengusahakan sawahnya. Ia mengeluarkan kerbau dari kandangnya dan memanggul bajak, menyingsingkan bajunya. Seorang budak kecil yang belum berumur, meskipun belum waktunya bekerja berat, berjalan di belakang bapanya itu membawa cangkul. Bekerjalah Kromo dengan anak sekeras-kerasnya setiap hari. Setelah pukul sebelas pulanglah Kromo dengan perut kosong, tetapi seribu sayang perutnya itu tak dapat diisi dengan segera, karena bini Kromo belum datang dari pekan menjual kayu-kayu dan daun pisang. Kromo terpaksa menunggu kedatangan bininya itu dengan bekerja memotong-motong kayu, mengambil buah nyiur akan dijual, pada esok paginya. Kira-kira jam dua Kromo baru bisa makan dengan nasi merah dan ikan gerih; tetapi kelihatanlah amat lezat cita rasanya karena dia empunya perut “amat kosong.” Habis makan pergi pula Kromo ke sawah, pada pikirannya biarlah lekas selesai pekerjaannya itu. Jam enam sore ia baru pulang, kalau tak ada nasi biasanya makan ketela pohon yang direbus atau dibakar; itulah sudah cukup buat menahan perutnya. Dari payahnya pada waktu malam ia tidur pulas, dan bininya senantiasa: “remrem ayam” sebab merasakan apakah gerangan yang akan dimakan pada esok paginya??? Baca lebih lanjut