Para Penjahit Pakaian Perempuan Eropa Masa Kolonial

Sketsa Penjahit yang sedang bekerja di sebuah Rumah milik Eropa 1880 (Koleksi: www.kitlv.nl)

Sketsa Penjahit yang sedang bekerja di sebuah Rumah milik Eropa 1880 (Koleksi: http://www.kitlv.nl)

Kehidupan masyarakat Eropa semakin mudah di Hindia Belanda berkat adanya para pembantu-pembantu pribumi yang dapat disebut juga Domestic Worker. Pembantu-pembantu ini terspesialisasikan dalam berbagai kerja rumah tangga yang cukup banyak, mulai dari mengasuh anak, menjaga keamanan rumah tuan Eropa, merawat kebun, memasak hingga membuatkan pakaian tuan-tuan dan nyonya-nyonya Eropa itu sendiri. Tentunya hal ini membutuhkan tenaga penjahit pakaian tersendiri yang masuk dalam kategori Domestic Worker. Baca lebih lanjut

Iklan

Budaya Barat Dan Fashion (Mode): Surakarta Masa Kolonial

Iklan Pembuatan Pakaian di Surat Kabar Kawan Kita Jang Toeloes (Sumber: Surat Kabar Kawan Kita Yang Toeloes tahun 1918, Koleksi Bapak Bambang Surakarta)

“Aku Berbicara Lewat Pakaianku” (Dick Hebdige, Sub Culture: The Meaning Of Style, Routledge, 1979)

Pada awal abad XX dalam kehidupan masyarakat di Pulau Jawa terjadi suatu perubahan yang mengarah kepada suatu proses transformasi kebudayaan.[1] Proses perubahan kebudayaan yang menurut Sartono Kartodirdjo[2] disebut sebagai proses modernisasi dapat terjadi karena diakibatkan oleh faktor-faktor pemicu antara lain: pesatnya laju pertumbuhan penduduk, perkembangan sekolah Barat, liberalisasi perekonomian yang meningkatkan arus migrasi penduduk asing dan arus investasi modal asing, pesatnya industrialisasi, pesatnya pembangunan infrastruktur dan sistem komunikasi modern, pembaharuan sistem administrasi dan birokrasi pemerintahan kolonial Belanda. Modernisasi kehidupan masyarakat perkotaan serta terjadinya diferensiasi dan spesialisasi lapangan pekerjaan. Proses modernisasi yang diakibatkan karena terjadinya kontak secara intensif antar unsur-unsur kebudayaan yang didukung oleh agen-agen perubahan yaitu elit birokrat dan elit ekonomi, serta elit pribumi yang terdididik secara Barat yang lebih mengarah kepada dominasi kebudayaan Barat atas kebudayaan agraris tradisional yang oleh Wertheim dimaksudkan sebagai proses Westernisasi.[3] Baca lebih lanjut

Pakaian, Politik dan Gaya Hidup Masyarakat Surakarta Masa Kolonial

Iklan Tembakau Van dalam Majalah Pawartos Surakarta tahun 1940 Perhatikan Gaya Berpakaian dalam Iklan tersebut.

Perkembangan gaya berpakaian di kalangan masyarakat kota Surakarta pada masa kolonial Belanda menimbulkan pengaruh yang cukup besar bagi kehidupan masyarakat kota Surakarta. Tidak hanya golongan priyayi tetapi juga bagi kaum elit baru yang menginginkan perubahan dan persamaan hak dalam berbagai hal kehidupan terutama kehidupan bergaya Eropa yang bebas dan tanpa aturan tradisional dalam melakukan aktivitasnya. Selain itu juga, pendobrakan terhadap diskriminasi yang diciptakan oleh pemerintah kolonial Belanda dan Kraton melalui budaya politik pakaian yang telah dilakukan sejak jaman VOC hingga politik Etis dilaksanakan. Kaum pergerakan melakukan perlawanan terhadap diskriminasi ini.

Pakaian sejak lama telah menjadi bentuk pembeda dari bermacam-macam golongan masyarakat di berbagai belahan dunia. Pakaian menjadi simbol strukturasi dan pembagian kelas dalam masyarakat. Masyarakat dapat dilihat secara jelas melalui cara berpakaian, bahan pakaian serta mode pakaian yang digunakan, berasal dari kelas mana individu itu berada. Pakaian menjadi simbol kekayaan dalam pembagian struktur masyarakat. Baca lebih lanjut