Para Propagandis

Semaoen dan Darsono Propagandis Sarekat Islam (Koleksi: Gambar pada buku DE COMMUNISTISCHE BEWEGING IN NEDERLANDSCH-INDIE karya J. TH. PETRUS BLUMBERGER)

Semaoen dan Darsono Propagandis Sarekat Islam (Koleksi: Gambar pada buku DE COMMUNISTISCHE BEWEGING IN NEDERLANDSCH-INDIE karya
J. TH. PETRUS BLUMBERGER)

“…Tinju gadis itu antara sebentar terangkat, kadang telunjuknya menuding. Telapak tangannya yang halus itu malahan pernah menggebrak meja podium. Mukanya yang pucat jadi merah berseri, kelelahan lenyap dari wajahnya.

Tiba-tiba terdengar pekikan keluar dari kerongkongan putrinya. Ia tak dengar apa yang dikatakannya. Dan kepala gadis itu menunduk takzim, memberi hormat pada hadirin.Tepuk tangan dan seruan Hidup Juffrouw Soendari berderai tiada kan habis-habisnya, mengiringinya turun dari podium.”[1]

Baca lebih lanjut

Iklan

Kuli, Buruh Dan Penulisan Sejarah Mereka

Kuli di Pelabuhan Belawan Medan Turun Dari Kapal Jacob sebagian Besar adalah Kuli dari China (Koleksi: TropenMuseum TMnr_10001445)

Kuli di Pelabuhan Belawan Medan Turun Dari Kapal Jacob sebagian Besar adalah Kuli dari China (Koleksi: TropenMuseum TMnr_10001445)

Ada yang menarik ketika membaca buku John Ingleson “Perkotaan, Masalah Sosial dan Perburuhan di Jawa Masa Kolonial” sebuah kumpulan essay yang diterbitkan oleh Penerbit Komunitas Bambu. John Ingleson dalam Essay pertamanya yang berjudul “Kehidupan dan Kondisi Kerja: Buruh Pelabuhan antara 1910-1920-an”, alih-alih mencoba untuk bersikap netral dalam memandang kehidupan mereka dan bagaimana mereka mempertahankan diri dari guncangan ekonomi yang melanda Hindia Belanda, Ia seakan-akan bahkan mendorong untuk menuliskan kehidupan dan peran mereka lebih banyak lagi. Baca lebih lanjut

Larangan Rumah Berjobin bagi Masyarakat Kelas Bawah di Wilayah Surakarta Masa Kolonial

Rumah di Jawa tahun 1800-an, Dinding bambu dan jobin tanah (Koleksi: www.kitlv.nl)

Rumah di Jawa tahun 1800-an, Dinding bambu dan jobin tanah (Koleksi: http://www.kitlv.nl)

Pernahkah kita memperhatikan bahwa rumah-rumah penduduk di Jawa, terutama yang berada dalam wilayah kerajaan Surakarta pada umumnya berlantaikan tanah jarang yang berjobin? Usut punya usut ternyata untuk urusan lantai memang kerajaan memberlakukan kebijakan diskriminatif kepada masyarakat yaitu pemerintah kerajaan Surakarta melarang masyarakat kelas bawah memiliki rumah dengan lantai jobin. Hal ini terungkap dalam Surat Laporan Sasradiningrat kepada Residen Surakarta 14 Agustus 1837 yang berbunyi: Baca lebih lanjut

Festival Cioko Penghormatan Kepada Leluhur

Festival Rebutan (Cioko) di Surabaya tahun 1890 (Koleksi: www.kitlv.nl)

Festival Rebutan (Cioko) di Surabaya tahun 1890 (Koleksi: http://www.kitlv.nl)

Melihat-lihat hasil unduhan foto dari situs kitlv ada yang menarik hati, sebuah foto perayaan keagamaan di Surabaya. Dalam keterangan disebutkan dengan nama rebutan festival atau orang Tionghoa menyebutnya festival Cioko. Festival Cioko ini dilaksanakan oleh masyarakat Tionghoa sejak lama dan hingga kini masih terus dilakukan. Foto masa kolonial tersebut menunjukkan bahwa festival Cioko tersebut dilaksanakan pada tahun 1890 di kota Surabaya dengan kemegahan dan keramaian masa tersebut yang cukup mempesona. Tidak dipungkiri bahwa Festival Cioko ini juga menjadi kekayaan khasanah budaya Indonesia yang semakin beragam. Di bawah ini adalah sejarah muculnya Festival Cioko tersebut di negeri Tionghoa yang diambil dari berbagai sumber. Baca lebih lanjut

Sekilas Sejarah Barongsai dan Wayang Potehi

Kesenian Liong dan Barongsai Masa Kolonial 1900 (Koleksi: www.kitlv.nl)

Kesenian Liong dan Barongsai Masa Kolonial 1900 (Koleksi: http://www.kitlv.nl)

Barongsai

Kesenian Liong dan Barongsai merupakan salah satu kesenian dari sekian banyak kesenian dalam masyarakat Tionghoa. Kesenian ini sudah cukup tua dan di Tiongkok berkembang pada masa pemerintahan Dinasti Utara Selatan tahun 420-589 M. Kesenian ini muncul bersamaan dengan mitologi dan cerita rakyat yang berkembang pada masyarakat Tiongkok. Dalam mitologi dan cerita rakyat Tiongkok ada beberapa versi mengenai munculnya Barongsai. Versi pertama sejarah munculnya Barongsai berawal dari kemunculan mahluk aneh yang sangat besar, yang dinamakan Nien artinya tahun. Disebut demikian karena kemunculan mahluk aneh itu setiap satu tahun sekali. Binatang tersebut biasanya muncul setiap musim semi atau saat musim panen untuk memangsa apa saja yang dilihatnya, sehingga membuat masyarakat ketakutan. Setelah binatang tersebut mendapatkan makanannya maka ia kembali ke hutan untuk tidur selama satu tahun. Hal ini berlanjut terus menerus dan membuat takut masyarakat ketika musim semi tiba. Baca lebih lanjut

Perhimpunan Fu Qing (Fu Jing) di Surakarta Sebuah Sejarah Singkat

Perkampungan China di Surakarta (Koleksi: www.kitlv.nl)

Perkampungan China di Surakarta (Koleksi: http://www.kitlv.nl)

Kota Fu Qing (Yu Rong) merupakan sebuah Kabupaten di Republik Rakyat China dimana masyarakat suku Fu Qing banyak meninggalkan kota kelahiran mereka dikarenakan tanah di kota tersebut kurang subur sehingga untuk mencari penghidupan masyarakat Fu Qing merantau keluar dari kota Fu Qing. Hingga saat ini telah tercatat hampir 800 ribu masyarakat Fu Qing yang tersebar di negara-negara Asia Tenggara, Eropa, Amerika, dan Afrika dan lebih dari 100 negara dan daerah.[1] Sebagai masyarakat perantau masyarakat Fu Qing di berbagai negara mendirikan perkumpulan kedaerahan sebagai bentuk solidaritas dan tempat saling membantu antar sesama anggota. Baca lebih lanjut