Polemik Djawi Hisworo, Abangan Versus Islam (Bagian 3-Tamat)

Gambar Dalam Penanggalan Wuku2

Pembangunan isu baik yang dilakukan melalui vergadering-vergadering, surat-surat kabar maupun pengumpulan dana merupakan bagian aktivitas TKNM yang terlihat pada masa-masa awal.  Pada perjalanan waktu TKNM tidak lebih dari alat pengumpul dana dari CSI pimpinan Tjokroaminoto untuk membangun basis dukungannya. Tidak adanya gerakan yang nyata dari TKNM membawa kekecewaan-kekecewaan bagi pendukungnya.

Setelah TKNM dibentuk dan tampaklah bahwa TKNM tidak memiliki kekuatan dan langkah untuk bergerak seperti yang diharapkan oleh pendukung-pendukungnya. Kekecewaan-kekecewaan mulai bermunculan dikalangan umat Islam. Hal ini dikarenakan TKNM hanya pada awalnya saja mengadakan gerakan anti-Martodharsono dan anti-Djawi Hiswara yang dianggap telah menghina Nabi Muhammad SAW dan agama Islam, tetapi setelah dukungan secara material didapatkan, TKNM tidak memiliki senjata yang ampuh untuk menghukum Martodharsono hanya sebatas himbauan kepada pemerintah kolonial Belanda untuk menghukum Martodharsono dan Djawi Hiswara. Baca lebih lanjut

Iklan

Polemik Djawi Hisworo, Abangan Versus Islam (Bagian 2)

Gambar Dewa Dalam Penanggalan Wuku 1

Kemunculan artikel Djojodikoro yang berjudul Percakapan antara Marto dan Djojo di koran Djawi Hiswara direspon keras oleh anggota-anggota CSI yang berkedudukan di Surabaya. Mereka menganggap apa yang telah dimuat dalam harian Djawi Hiswara sebagai bentuk penghinaan terhadap Nabi Muhammad. Seperti dalam Oetoesan Hindia Abikoesno Tjokrosoejoso, adik Tjokroaminoto dan sekretaris SI Surabaya, berseru agar membela Islam dan menuntut Sunan serta pemerintah Hindia agar menghukum Martodharsono dan Djojodikoro.

Martodharsono menjelaskan bahwa ia telah memberi catatan di bawah tulisan Djojodikoro sebagai maksud bahwa apa yang ditulis oleh Djojodikoro mengandung maksud lain dan tidak berusaha untuk menyalakan api kemarahan kaum muslimin. Dalam catatan Martodharsono menulis:

“rembag makaten poeniko jektosipoen boten kenging dipoen gelar hing serat kabar, hawit sampoen mesti damel sak serik dateng hingkang boten doengkap”.(pertjakapan selakoe ini ini sesoenggoehnja tidak boleh dihampar di soerat kabar, sebab soedah tentoe bikin koerang senang hati pada jang tidak mengerti.). “bahwa saja tidak sadja menegah pada Djojodikoro djoega memaloemkan kalaoe toelisan mana arti lain sopaja djangan ada jang menerima salah, sedangkan dimaksoednja, jang dikatakan rasoel dalam pertjakapan itoe, boekan Nabi kita s.a.w. Kandjeng Nabi Moehammad Rasoel Allah, tetapi rasoel rasa (gevoel) nja masing-masing, djadi siapa jang bertjakap ialah jang mempoenjainja. Demikianlah maananja jang saja kira tiap-tiap orang abangan misti mengarti, asal sadja telah pernah bergoeroe tentang ilmoe jang oemoemnja di bilang ilmoe kematian…”(Djawi Hiswara, 4 Februari 1918). Baca lebih lanjut

Polemik Djawi Hisworo, Abangan Versus Islam (Bagian 1)

Gambar Dewa Dalam Penanggalan Wuku

Perkembangan politik di Surakarta memang menjadi suatu jalur pergerakan nasional yang dinamis tetapi pada sisi yang lain gerakan-gerakan ini juga dilaksanakan melalui gerakan budaya. Kota Surakarta merupakan acuan dari lahir dan berkembangnya pergerakan nasional tidak hanya secara politik tetapi juga menjadi barometer perkembangan budaya Jawa. Pada masa pergerakan nasional terutama pada tahun-tahun awal pergerakan berbagai gerakan budaya muncul sebagai bagian yang tak terpisahkan dari gerakan nasional sendiri. Hal ini menjadi wajar karena terjadi stagnasi dari proses perkembangan budaya Jawa. Perkembangan bahasa sebagai alat pergaulan pada masa pergerakan telah beralih kepada bahasa Melayu sebagai lingua franca, tidak heran ketika pada tahun-tahun 1918 muncul gerakan nasionalisme Jawa yang diusung oleh kekuatan Keraton Surakarta.

Menurut Benedict R. Anderson, Jawa terutama kerajaan-kerajaannya telah mengalami dua krisis yang telah disangga bersama-sama oleh orang Jawa dan rakyat-rakyat terjajah lainnya. Pertama adalah krisis politiko-kultural dimana sejak permulaan abad ke-17 para penguasa Jawa benar-benar telah mengalami serangkaian kesalahan, kehinaan dan bencana yang hampir-hampir tak kunjung henti. Sejak akhir abad ke-18 raja-raja Pakubuwono, Hamengkubuwono dan Mangkunegoro, semuanya telah menjadi raja-raja kecil yang “berkuasa” dengan perkenan belanja dan bertahan hidup secara ekonomi demi subsidi Belanda. Ketidakmampuan golongan elit Jawa membebaskan ketertidasan rakyat dari belenggu penjajahan diungkapan secara gamblang oleh pujangga Keraton Ranggawarsita dalam Serat Kalatidha yaitu:
“Ratune ratu utama, Patihe patih linuwih, Pra nayaka tyas raharja, Panekare becik-becik, Parandene tan dadi, Paliyasing kalabendu….”
(Rajanya raja utama, Perdana menterinya tegak dalam kebenaran, Bupatinya konstan hati, Pembantunya sempurna, Namun tak seorang pun tetap tinggal, Zaman malapetaka) Baca lebih lanjut