Pemburu Anjing Liar Jaman Kolonial

 

Anjing sebenarnya hewan yang bersahabat dan penuh kesetiaan. Keberadaan hewan ini bagi sebagian masyarakat mampu menjadi penjaga keamanan tetapi bagi penguasa malah dianggap sebagai pengganggu dan penyebar penyakit rabies, sehingga pemerintah menyatakan bahwa anjing2 liar ini patut dimusnahkan. Menjelang Sea Games  ke-26 di Palembang, Dinas PeternakanKabupaten Sumatera Selatan mencanangkan gerakan pembasmian anjing-anjing liar tersebut guna suksesnya acara olahraga se ASEAN. Pembasmian anjing-anjing liar di wilayah Jaka Baring ini menggunakan racun yang mematikan. Sebuah ironi.

Mari kita perhatikan gambar pada masa kolonial di atas, aktifitas masyarakat di atas pada jaman kolonial adalah sebagai pemburu anjing-anjing liar (Hondenvangers) yang berkeliaran di jalan-jalan kota, cara menangkap anjing-anjing ini cukup sederhana menggunakan kait dan bambu, tanpa membunuh anjing-anjing tersebut dan setelah tertangkap dimasukkan ke dalam gerobak yang telah disiapkan.

Mungkin Dinas Peternakan Kabupaten Sumatera Selatan perlu belajar menangani anjing-anjing liar dari sejarah agar tidak melakukan pembantaian hewan terutama anjing-anjing liar.

————–0000000——————

Iklan

Tukang Cukur Madura Pada Masa Kolonial di Surabaya

tukang cukur madura 1911 (Koleksi: http://www.kitlv.nl)

Bangsa kita adalah bangsa pekerja keras, bukan bangsa yang pemalas. Sejak jaman dahulu hingga masa kolonial Belanda masyarakat kita mampu menciptakan lapangan kerja kreatif yang mampu bertahan dari segala krisis ekonomi kapitalis dunia. Sebagaimana kita lihat bahwa usaha potong rambut telah bertahan begitu lama hingga saat ini dilakukan oleh  masyarakat Madura dan menyebar ke berbagai pulau di Indonesia.

Tukang Cukur Madura di Soerabaja 1911 (Koleksi: http://www.kitlv.nl)

Usaha potong rambut Madura yang begitu sederhana, bersahabat dan komunikatif dilakukan di tepi jalan berlindungkan pohon-pohon besar di kota surabaya tahun 1911. Sebuah cerita masyarakat urban yang hingga sekarang terus bertahan.

—————–0000000000000000000000——————-

Permainan Kartu Remi dan Gaple

Permainan kartu atau biasa disebut remi dan gaple telah menjadi permainan yang digemari masyarakat luas dari masa kolonial Belanda hingga kini. Permainan kartu remi dan gaple ini biasa dilakukan dalam berbagai acara tradisional seperti kelahiran bayi, pernikahan,  hingga peringatan kematian seseorang dikampung-kampung. Permainan ini bila ditilik lebih jauh merupakan bentuk komunikasi masyarakat karena didalam permainan ini terdapat celotehan-celotehan dan canda-canda serta perbincangan permasalahan kehidupan sehari-hari antara masyarakat.

Permainan kartu remi dan gaple biasanya juga dijadikan sebagai ajang berjudi dengan mempertaruhkan uang, sehingga keberadaan kartu remi ataupun gaple berubah dari permainan pengisi waktu luang menjadi permainan judi yang sebagian besar masyarakat menentang permainan ini diadakan dalam acara-acara upacara siklus hidup. Karena perubahan tujuan permainan kartu inilah pada saat ini, keberadaan permainan kartu remi dan gaple telah jarang terlihat dilakukan di berbagai acara upacara siklus hidup masyarakat.

Pedagang Pribumi

 

Pada masa kolonial Belanda pedagang keliling merupakan pemandangan yang sering terlihat, walaupun pusat-pusat perdagangan telah terpusat di berbagai pasar. Pedagang keliling ini senantiasa mangkal diberbagai tempat untuk menjajakan dagangannya, para pembeli ramai untuk membeli dagangan tersebut yang berupa makanan dan minuman. Tetapi menjadi pertanyaan adalah apakah mereka tidak dikejar-kejar oleh polisi pada saat itu karena mengganggu pemandangan kota, seperti yang terjadi pada masa kini???

Douwes Dekker Tidak Berobah Haluannya

Oleh: Marco

Sinar Hindia, 17 Agustus 1918.

Wat zou Ik niet willwen
Geven, als mijn broer
(D.D. Mc) op Java terug
moch keeren. Mijn gedach
ten zijn eigenijk aldoor bij

hem . . .

(Apa saja yang saya tiada suka kasih, kalau saya punya saudara (D.D. Mc.) boleh kembali ke tanah Jawa. Saya selalu memikirkan dia.)

Waktu saja mendengar kabar bahwa D.D. telah diberi izin pulang ke tanah Jawa, saja ingat bunyi suratnya Mej. A.D.D. yang dikirim kepada saya seperti yang tersebut di atas itu. Ketika saya masih ada di dalam penjara di Betawi saya pertiada tuturkan fatsal sikapnya Insulinde pada Semarangsche lesvereeniging, karena ada tiada begitu perlu lagi dikata di sini, yaitu fatsal empat dalam Gemeente yang di buat rebutan oleh antara kaum kapitalis dan kaum miskin, yang mana pembaca sudah mengetahui.

Barangkali tiada jarang kalau Mej. A.D.D. mengatakan saya seorang yang berubah ingatan, karena waktu saya saya berkata bahwa D.D. bisa kembali ke tanah Jawa. Barangkali itu waktu Insulinde belum ada niat buat minta kembali D.D. pulang ke tanah Jawa kepada regeering.

Lantaran S.I. Semarang dan I.S.D.V. tidak bisa cocok dengan Insulinde, maka saya mengira bahwa D.D. sudah tidak bisa cocok lagi dengan saya, sebab D.D. fihaknya Insulinde sedang saya fihaknya S.I. dan I.S.D.V.  Dari itu saya lalu tidak memperhatikan pula keadaan D.D. dan Insulinde.

Tetapi sekarang rupa-rupanya D.D. baru saja berdaya upaya supaya Insulinde suka memberikan tangan kepada S.I. dan I.S.D.V.  seperti tulisan yang saya kutip dari Jawa Tengah di bawah ini:
Baca lebih lanjut