Pihak Perempuan Juga Harus Mengenal Politik

Buruh perempuan di perkebunan tembakau di Jawa 1920

Buruh perempuan di perkebunan tembakau di Jawa 1920

Tulisan di bawah ini merupakan tulisan seorang perempuan mungkin juga ibu rumah tangga yang sangat apik mengutarakan bagaimana seharusnya peran perempuan dalam masa pergerakan nasional. Tulisan yang sederhana tetapi dalam bingkai analisis klas yang jarang ditemukan dalam masa pergerakan nasional dan ditulis oleh seorang perempuan. Koran Api memang kerap mempublikasikan tulisan-tulisan tokoh pergerakan nasional perempuan baik lokal maupun nasional.

Selamat membaca dan Selamat Hari Ibu, Perempuan Sejati!!!! Baca lebih lanjut

Iklan

Pemogokan Besar Buruh di Surabaya 1925

Daerah Kali Mas Surabaya 1890 Pusat Industri dan Perdagangan Kota Surabaya (Koleksi: www.kitlv.nl)

Daerah Kali Mas Surabaya 1890 Pusat Industri dan Perdagangan Kota Surabaya (Koleksi: http://www.kitlv.nl)

Di waktu pemogokan besar ini dimaloemkan orang mesti putar kajoen di seluruh kota Surabaya dan orang nanti bisa dapat pemandangan luas tentang pabrik mesin yang dimogoki. Baca lebih lanjut

Pemogokan di Stooomkoffie Brandery Karangredjo di Blitar

 

Perkebunan kopi Karangredjo di Blitar 1925 (koleksi: www.kitlv.nl)

Perkebunan kopi Karangredjo di Blitar 1925 (koleksi: http://www.kitlv.nl)

Pada tanggal 25 November 1925 kaum buruh di Stoomkoffie Brandery Karangredjo kira-kira jam 9.30 sama didatangi oleh serombongan polisi terdiri dari asisten residen, patih, asisten wedana dan lain-lainnya, berhubung dengan tuntutannya kaum buruh di situ pada tanggal 23 ini bulan. Waktu itu juga mesin pabrik diberhentikan dan sebagian kaum buruh yang dianggap berbahaya dilepas lebih dulu, sedang yang ketinggalan di situ sama dikumpulkan dan dibujuk dengan perkataan manis-manis, agar itu tidak membikin pemogokan. Di situ patih tanya: “siapa yang akan mogok?” Lalu ada 5 pegawai yang maju dihadapan patih, yang mana mereka itu terus dituntut saja dan ditahan di algemeene polisi, tetapi lalu dilepaskan lagi, dengan ancaman jika mereka itu berjalan-jalan mendekati pabrik akan ditangkap. Baca lebih lanjut

Perubahan Hak Memilih Buat Gemeenteraad Sikap Kommunist Terhadap Parlementarisme (Bagian II)

Kediaman Gubernur Jendral Batavia (Foto Koleksi: Kraton Kasunanan Surakarta)

Kediaman Gubernur Jendral Batavia (Foto Koleksi: Kraton Kasunanan Surakarta)

Pada postingan kali ini kami memberikan lanjutan tulisan di Surat Kabar Api mengenai “Perubahan Hak Memilih Buat Gemeenteraad Sikap Kommunist Terhadap Parlementarisme”. Tulisan yang cukup panjang yang menjelaskan bagaimana kaum komunis bergerak dalam parlemen, sejarah parlemen, dan keinginan kaum komunis untuk menerapkan sistem pemerintahan Soviet. Dalam pemerintahan yang demikian itu semua sumber-sumbernya penghidupan, seperti: pabrik, tanah, tambang, rumah-rumah, kapal, spoor dan lain-lainnya, jadi kepunyaannya Rakyat yang bekerja, dan tidak jadi kepunyaannya satu-dua orang kapitalis saja seperti dalam pergaulan kapital. Baca lebih lanjut

Kuli, Buruh Dan Penulisan Sejarah Mereka

Kuli di Pelabuhan Belawan Medan Turun Dari Kapal Jacob sebagian Besar adalah Kuli dari China (Koleksi: TropenMuseum TMnr_10001445)

Kuli di Pelabuhan Belawan Medan Turun Dari Kapal Jacob sebagian Besar adalah Kuli dari China (Koleksi: TropenMuseum TMnr_10001445)

Ada yang menarik ketika membaca buku John Ingleson “Perkotaan, Masalah Sosial dan Perburuhan di Jawa Masa Kolonial” sebuah kumpulan essay yang diterbitkan oleh Penerbit Komunitas Bambu. John Ingleson dalam Essay pertamanya yang berjudul “Kehidupan dan Kondisi Kerja: Buruh Pelabuhan antara 1910-1920-an”, alih-alih mencoba untuk bersikap netral dalam memandang kehidupan mereka dan bagaimana mereka mempertahankan diri dari guncangan ekonomi yang melanda Hindia Belanda, Ia seakan-akan bahkan mendorong untuk menuliskan kehidupan dan peran mereka lebih banyak lagi. Baca lebih lanjut

Lembaga Tripartit Mengadopsi Lembaga Prapat

Petani sedang menggarap perkebunan tebu di Jawa Timur tahun 1921 (Koleksi: www.kitlv.nl)

Petani sedang menggarap perkebunan tebu di Jawa Timur tahun 1921 (Koleksi: http://www.kitlv.nl)

Konflik antara buruh terutama petani dan pengusaha memang telah lama terjadi ketika kapital masuk ke Indonesia melalui Tanam Paksa (1830) berlanjut pada masa Ekonomi Liberal (1870) ketika industri perkebunan merangsek masuk mengambil tanah-tanah pertanian dan mengubah mereka menjadi buruh-buruh perkebunan.  Pemerintah kolonial Belanda demi mengeksploitasi tanah dan petani, melakukan berbagai perubahan dalam hal administrasi dan pertanian yaitu mengubah sistem maron menjadi sistem glebagan di perkebunan indigo, gula dan tembakau. Baca lebih lanjut