Sekolah Hakim dan Dokter Pandangan Tirto Adhi Soerjo

 

Sekolah Kedokteran STOVIA tahun 1902 (Koleksi: www.kitlv.nl)

Sekolah Kedokteran STOVIA tahun 1902 (Koleksi: http://www.kitlv.nl)

Dalam surat mingguan Jong Indie, tuan Zaalberg Hoofd Redacteur Bataviaasch Nieuwsblad sudah ajak bangsanya Indo Europeaan beramai-ramai bermohon pada staten Generaal mudah-mudahan sekolahan-sekolahan dokter dan hakim dibuka buat bangsa Europa.

Sudah lama surat kabar bataviaasch Nieuwsblad menambur pembukaannya sekolahan dokter itu buat bukan anak negri, dan tuan Colijn yang baru ini diangkat jadi lid Staten Generaal sudah membicarakan keperluannya sekolahan hakim dibuka buat bangsa Europa, karena ini maka tuan Zaalberg berseru dalam Jong Indie seperti yang sudah diceritakan di atas. Baca lebih lanjut

Iklan

Sekolah Sarekat Islam Semarang: Pendidikan Yang Humanis

Where is Revolutions black white

Tan Malaka sebagai penggagas pendirian sekolah Sarekat Islam Semarang dan Sekolah Sarekat Islam Bandung memberikan penjelasan mengenai sistem pengajaran yang akan dilaksanakan bagi sekolah ini. Ada tiga tujuan yang hendak dicapai dengan didirikannya sekolah Sarekat Islam Semarang ini:

  1. Memberi coekoep banjak djalan (kepada para moerid) oentoek mendapatkan mata pencaharian di dunia jang kapitalistis (berhitoeng, menoelis, ilmoe boemi, bahasa Belanda, Melaju, Djawa).
  2. Memberi hak kepada para moerid oentoek mengikoeti kegemaran (hobi) mereka dengan membentoek perkoempoelan-perkoempoelan.
  3. Mengarahkan perhatian para moerid pada kewadjiban mereka jang akan datang terhadap djutaan keloearga Pak Kromo.[1]

Baca lebih lanjut

KONDISI DAN PERKEMBANGAN PENDIDIKAN DI HINDIA BELANDA AWAL ABAD XX

Kampongschool. Kedoe. Village school. Central Java 1910 (Koleksi:www.kitlv.nl)

A. Kondisi dan Perkembangan Pendidikan Hindia Belanda

Sebelum pemerintah kolonial menguasai Indonesia, sejarah pendidikan di Indonesia sudah dimulai. Ketika itu pendidikan pribumi hanya mengenal satu jenis pendidikan yang biasa disebut lembaga pengajaran asli yaitu sekolah-sekolah agama Islam dalam berbagai bentuknya seperti langgar, surau atau pesantren. Di tempat tersebut murid-murid dilatih untuk belajar membaca Al-Qur’an dan mempelajari kepercayaan dan syariat agama Islam.[1] Kemudian pada awal abad XX, melalui peraturan pemerintah tahun 1818, maka pemerintah Belanda menetapkan bahwa orang-orang pribumi diperbolehkan masuk sekolah-sekolah Belanda. Pemerintah juga akan menetapkan peraturan-peraturan tata tertib yang diperlukan mengenai sekolah-sekolah bagi penduduk pribumi.[2] Baca lebih lanjut

MASYARAKAT DAN PERUBAHAN SOSIAL: SURAKARTA AWAL ABAD XX

Tengah Passar Besar-Solo 1895 (Koleksi: http://www.kitlv.nl)

Pada awal abad XX tumbuh elit modern Indonesia yang gejala dan prosesnya juga tampak dalam konteks lokal Surakarta yang semula merupakan kota kerajaan di pedalaman yang diawasi pemerintah kolonial, mulai berubah wajah dan semangatnya. Perubahan ini disebabkan berbagai faktor yang mendorong berbagai kemajuan di tanah kerajaan berkaitan dengan berbagai kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah kolonial Belanda, mulai dari status kerajaan hingga berbagai kebijakan ekonomi – politik kolonial. Baca lebih lanjut

Ki Hadjar Dewantara dan Wilden Scholen Ordonantie

Ki Hadjar Dewantara

Kita baru saja memperingati hari pendidikan nasional  ditengah berbagai kekisruhan yang terjadi dalam pratek pendidikan kita. Tidak perlu disebutkan di sini kekisruhan apa saja yang terjadi dan secara kasat mata dapat terlihat. Sementara, bila kita kembali melongok ke belakang bagaimana bapak pendidikan kita Ki Hadjar Dewantara melalui perjuangannya berusaha untuk memerdekakan bangsa kita dari belenggu diskriminasi dibidang pendidikan yang dilakukan oleh pemerintah kolonial Belanda.

Ketika Ordonansi sekolah liar akan diberlakukan oleh pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1932, Ki Hadjar Dewantara mengirimkan telegram kepada Gubernur Jendral, meminta Gubernur Jendral untuk membatalkan ordonansi tersebut. Telegram ini di publikasikan oleh Majalah Timboel tanggal 6 November 1932. Baca lebih lanjut

SI Semarang dan Onderwijs (1921)

Sekolah Lagere School di Jawa 1920 (Koleksi: http://www.kitlv.nl)

Kekuasaan Kaum – Modal Berdiri atas didikan yang berdasar kemodalan.
Kekuasaan Rakyat hanyalah bisa diperoleh dengan didikan kerakyatan.

Sarekat Islam Semarang menjadi model pergerakan yang memberikan pendidikan kepada masyarakat yang berbeda dari model pendidikan yang diberikan oleh pemerintah kolonial Belanda. Model pendidikan yang dirancang oleh Tan Malaka melalui brosur kecilnya pada tahun 1921 menunjukan pendidikan kerakyatan, pendidikan yang mendekatakan murid terhadap realitas sosial masyarakatnya. Pendidikan yang akan membawa murid-murid sekolah Sarekat Islam Semarang menjadi pemimpin-pemimpin pergerakan melawan kekuasaan kolonial Belanda.

Tulisan Tan Malaka mengenai sekolah Sarekat Islam Semarang dan pendirian sekolah Sarekat Islam ini, mengharuskan pemerintah kolonial Belanda untuk menangkap dan membuang Tan Malaka ke luar Hindia Belanda. Tan Malaka dianggap mengganggu ketertiban dan keamanan bagi kekuasaan kolonial Belanda. Brosur singkat ini member gambaran bagaimana sekolah Sarekat Islam Semarang didirikan dan dijalankan. Baca lebih lanjut