Para Penjahit Pakaian Perempuan Eropa Masa Kolonial

Sketsa Penjahit yang sedang bekerja di sebuah Rumah milik Eropa 1880 (Koleksi: www.kitlv.nl)

Sketsa Penjahit yang sedang bekerja di sebuah Rumah milik Eropa 1880 (Koleksi: http://www.kitlv.nl)

Kehidupan masyarakat Eropa semakin mudah di Hindia Belanda berkat adanya para pembantu-pembantu pribumi yang dapat disebut juga Domestic Worker. Pembantu-pembantu ini terspesialisasikan dalam berbagai kerja rumah tangga yang cukup banyak, mulai dari mengasuh anak, menjaga keamanan rumah tuan Eropa, merawat kebun, memasak hingga membuatkan pakaian tuan-tuan dan nyonya-nyonya Eropa itu sendiri. Tentunya hal ini membutuhkan tenaga penjahit pakaian tersendiri yang masuk dalam kategori Domestic Worker. Baca lebih lanjut

Iklan

Tentara KNIL di Hindia Belanda Dalam Goresan Kanvas

Perwira Infanteri dari KNIL dalam pakaian baru, Februari 1896 di Hindia Belanda (Koleksi: http://www.kitlv.nl)

Ketika berlangsung Perang Diponegoro, pada tahun 18261827 pemerintah Hindia Belanda membentuk satu pasukan khusus. Setelah Perang Diponegoro usai, pada 4 Desember 1830 Gubernur Jenderal van den Bosch mengeluarkan keputusan yang dinamakan “Algemeene Orders voor het Nederlandsch-Oost-Indische leger” di mana ditetapkan pembentukan suatu organisasi ketentaraan yang baru untuk Hindia-Belanda, yaitu Oost-Indische Leger (Tentara India Timur) dan pada tahun 1836, atas saran dari Raja Willem I, tentara ini mendapat predikat “Koninklijk“.

Namun dalam penggunaan sehari-hari, kata ini tidak pernah digunakan selama sekitar satu abad, dan baru tahun 1933, ketika Hendrik Colijn –yang juga pernah bertugas sebagai perwira di Oost-Indische Leger- menjadi Perdana Menteri, secara resmi tentara di India-Belanda dinamakan Koninklijk Nederlands-Indisch Leger, disingkat KNIL. Baca lebih lanjut

KONDISI DAN PERKEMBANGAN PENDIDIKAN DI HINDIA BELANDA AWAL ABAD XX

Kampongschool. Kedoe. Village school. Central Java 1910 (Koleksi:www.kitlv.nl)

A. Kondisi dan Perkembangan Pendidikan Hindia Belanda

Sebelum pemerintah kolonial menguasai Indonesia, sejarah pendidikan di Indonesia sudah dimulai. Ketika itu pendidikan pribumi hanya mengenal satu jenis pendidikan yang biasa disebut lembaga pengajaran asli yaitu sekolah-sekolah agama Islam dalam berbagai bentuknya seperti langgar, surau atau pesantren. Di tempat tersebut murid-murid dilatih untuk belajar membaca Al-Qur’an dan mempelajari kepercayaan dan syariat agama Islam.[1] Kemudian pada awal abad XX, melalui peraturan pemerintah tahun 1818, maka pemerintah Belanda menetapkan bahwa orang-orang pribumi diperbolehkan masuk sekolah-sekolah Belanda. Pemerintah juga akan menetapkan peraturan-peraturan tata tertib yang diperlukan mengenai sekolah-sekolah bagi penduduk pribumi.[2] Baca lebih lanjut