Opas sang Penjaga dan Pelayan

Dua opas Asisten Residen di Jawa tahun 1870 (Koleksi: www.kitlv.nl)

Dua opas Asisten Residen di Jawa tahun 1870 (Koleksi: http://www.kitlv.nl)

Oppasser atau oppas dalam kamus bahasa Belanda-Indonesia dapat diartikan sebagai penjaga atau pelayan. Oppasser (opas) memang bagian dari kehidupan masa lampau Hindia Belanda. Oppasser dapat dikatakan bagian dari pekerja domestik bagi keluarga-keluarga Belanda maupun bangsawan dan pejabat pemerintahan kolonial yang tinggal di Hindia Belanda juga ia adalah para pegawai rendahan di instansi milik pemerintah kolonial Belanda. Baca lebih lanjut

Iklan

Para Propagandis

Semaoen dan Darsono Propagandis Sarekat Islam (Koleksi: Gambar pada buku DE COMMUNISTISCHE BEWEGING IN NEDERLANDSCH-INDIE karya J. TH. PETRUS BLUMBERGER)

Semaoen dan Darsono Propagandis Sarekat Islam (Koleksi: Gambar pada buku DE COMMUNISTISCHE BEWEGING IN NEDERLANDSCH-INDIE karya
J. TH. PETRUS BLUMBERGER)

“…Tinju gadis itu antara sebentar terangkat, kadang telunjuknya menuding. Telapak tangannya yang halus itu malahan pernah menggebrak meja podium. Mukanya yang pucat jadi merah berseri, kelelahan lenyap dari wajahnya.

Tiba-tiba terdengar pekikan keluar dari kerongkongan putrinya. Ia tak dengar apa yang dikatakannya. Dan kepala gadis itu menunduk takzim, memberi hormat pada hadirin.Tepuk tangan dan seruan Hidup Juffrouw Soendari berderai tiada kan habis-habisnya, mengiringinya turun dari podium.”[1]

Baca lebih lanjut

Mooi Indie atau Postkolonial

Pengolahan tembakau tradisional di Pajo Koemboeh Sumatra 1911 (Koleksi: www.geheugenvannederland.nl)

Pengolahan tembakau tradisional di Pajo Koemboeh Sumatra 1911 (Koleksi: http://www.geheugenvannederland.nl)

Sudah beberapa lama ini saya terlibat dalam berbagai group di FB yang berkaitan dengan sejarah kota dan saya sangat antusias melihat begitu bersemangatnya para admin group maupun anggotanya terlibat dalam memberikan info-info yang berkaitan dengan masa lalu sebuah kota maupun Indonesia secara umum dalam balutan foto-foto masa lampau. Mulai dari gedung-gedung tua, aktivitas masyarakat kota hingga perubahan-perubahan kota dengan membandingkan foto-foto masa lampau dengan masa kini.

Menurut saya hal tersebut sangat menggairahkan, tetapi juga membosankan. Menggairahkan, karena begitu banyak kawan-kawan yang terlibat aktif mencari sumber-sumber masa lampau dalam bentuk gambar digital maupun gambar-gambar foto yang diambil melalui berbagai kegiatan hunting foto di berbagai kota. Hal ini menambah wawasan dan juga semakin terdokumentasikannya artefak-artefak sejarah dalam bentuk bangunan-bangunan kuno dan bermanfaat untuk melestarikan bangunan-bangunan ini. Melalui foto-foto tersebut kita akan disuguhi keindahan masa lalu (Mooi Indie) melalui hasil jepretan kamera-kamera tersebut, membawa kita seolah-olah berada di sana dalam suasana masa lampau yang tenang, indah, tanpa hiruk pikuk masalah sosial politik yang berkembang pada masa tersebut. Pada mulanya istilah Mooi Indie pernah dipakai untuk memberi judul reproduksi sebelas lukisan pemandangan cat air Du Chattel yang diterbitkan dalam bentuk portfolio di Amsterdam tahun 1930. Namun demikian istilah itu menjadi popular di Hindia Belanda semenjak S. Sudjojono memakainya untuk mengejek pelukis-pelukis pemandangan dalam tulisannya pada tahun 1939. Dia mengatakan bahwa lukisan-lukisan pemandangan yang serba bagus, serba enak, romantis bagai di surga, tenang dan damai, tidak lain hanya mengandung satu arti: Mooi Indie (Hindia Belanda yang Indah). Lukisan-Iukisan Mooi Indie dapat dikenali dari penampilan fisiknya. Bentuk atau subyek maternya adalah pemandangan alam yang dihiasi gunung, sawah, pohon penuh bunga, pantai atau telaga. Selain itu kecantikan dan eksotisme wanita-wanita pribumi, baik dalam pose keseharian, sebagai penari, atau pun dalam keadaan setengah busana. Laki-Iaki pribumi juga sering muncul sebagai obyek lukisan, biasanya sebagai orang desa, penari atau bangsawan yang direkam dalam setting suasana Hindia Belanda.[1] Inilah yang sering digunakan sebagai pencitraan untuk menutupi eksploitasi kolonial Belanda.

Baca lebih lanjut

Tjerita dari Seboeah Gedong: Stadstuin Semarang

Stadstuin Semarang 1927 (Koleksi: http://www.kitlv.nl)

Gedong Stadstuin jang didiriken pada taon 1905 dan mengambil tempat sebagian dari aloon-aloon seblah Koelon, sekarang telah dibongkar. Dengen begitoe aloon-aloon Semarang jang di dalem tempo blakangan ini soeda djadi sempit lantaran tanahnja kena dimakan oleh pendirian-pendirian Postkantoor, Telefoonkantoor, Stadsverband (sekarang djadi autobussen staanplaats) dan pasar Djohar, djadi loeas poela.

Saja rasa ada baeknja kaloe di sini saja oelangken bebrapa kadjadian jang menjangkoet pada pendirian itoe boeat djadi satoe peringetan. Veereniging Stadstuin diberdirikan pada tanggal 2 Agustus 1904 oleh Resident Pietersijthof dengan maksoed teroetama boeat madjoekan kunst Barat, rapetkan persobatan di antara anggota-anggotanja serta boeat dapetken tempat mengaso jang baek, dengan kadang-kadang diadakan gezellige avond (kaja Planten & Dierentuin di Batavia). Segala bangsa bisa ditrima mendjadi anggotanja itoe perkoempoelan dan sebagi lid Tionghoa jang pertama saja ketemoeken namanja Majoor Tan Siauw Liep jang itoe Tempo pangkoe djabatan Luitenant. Baca lebih lanjut

Perkembangan Buruh dan Organisasi Buruh Awal Abad 20

Buruh Wanita di Pabrik Kapuk 1900 (Koleksi: Tropen Museum TMnr_60020393)

Tulisan ini adalah Cuplikan tulisan dari buku Gerakan Serikat Buruh Jaman Kolonial Hingga Orde Baru karangan Edy Cahyono dan Soegiri DS Terbitan Hasta Mitra yang berbentuk e-book. Dengan cuplikan ini kita dapat melihat bagaimana perkembangan transformasi petani menjadi buruh dan penderitaan buruh dibawah kekuasaan modal yang mulai masuk ke Hindia Belanda bagai banjir dengan perkebunan-perkebunannya hingga munculnya organisasi buruh yang mencoba untuk memperjuangkan kaum buruh yang tertindas pada masa kolonial Belanda. Baca lebih lanjut

“Varwel” Malaka

Tan Malaka

Semarang  tahun 1921 terkenal sebagai kota pusat kaum merah di Hindia Belanda. Pada masa itu di Semarang terdapat markas VSTP  (Vereeniging van Spoor en Tram Personeel), serikat pekerja kereta api yang paling teratur dan terorganisir di seluruh Hindia Belanda yang didirikan tahun 1904 dengan hampir sekitar 17000 anggota yang secara rutin membayar iuran keanggotaan dan memiliki cabang diberbagai daerah serta memiliki surat kabar yang terbit secara teratur dan modern. Semarang kota tempat Partai Komunis Indonesia (PKI) yang diketuai oleh Semaoen dan sebagai partai kader karena massa rakyat berada pada organisasi Sarekat Islam (SI) Semarang yang telah berafiliasi bahkan telah menjadi bagian dari PKI. Kedua organisasi ini memiliki alat propaganda yang sama-sama modern yaitu surat kabar Het Vrije Woord dan Suara Rakyat (diketuai oleh Darsono) untuk PKI, sedangkan SI Semarang memiliki surat kabar Sinar Hindia.

Begitulah suasana pergerakan kota Semarang ketika pertamakali Tan Malaka datang, suasana jaman pergerakan yang sedang bergejolak akibat dari guncangan ekonomi, semakin represifnya pemerintah kolonial Belanda dengan mengeluarkan berbagai undang-undang yang sangat membatasi masyarakat untuk berserikat, berkumpul, menulis, bersidang dan berbicara. Dan yang lebih menakutkan bagi para aktivis pergerakan pada saat itu adalah exorbitante rechten hak istimewa gubernur jendral untuk membuang para aktivis pergerakan yang dianggap mengganggu keamanan dan ketertiban pemerintah Kolonial Belanda. Baca lebih lanjut