BEGINI UANG, BEGITU LAGI UANG, SEMUA UANG

Kediaman Gubernur Jendral Batavia (Foto Koleksi: Kraton Kasunanan Surakarta)

Kediaman Gubernur Jendral Batavia (Foto Koleksi: Kraton Kasunanan Surakarta)

Menurut kabar-kabar yang kita baca dalam surat kabar, maka dalam volksraad lamalah telah dibicarakan tentang perubahan peraturan pemilihan lid-lid dalam gemeenteraad.

Dalam pembicaraan-pembicaraan itu banyaklah perkataan-perkataan yang membikin goncangnya kepala dari pemimpin-pemimpin surat-surat kabar dari pihak Rakyat, sambil berkata dalam batinnya terhadap Rakyat “awaslah saku bajumu”. Baca lebih lanjut

Iklan

Pemogokan Besar Buruh di Surabaya 1925

Daerah Kali Mas Surabaya 1890 Pusat Industri dan Perdagangan Kota Surabaya (Koleksi: www.kitlv.nl)

Daerah Kali Mas Surabaya 1890 Pusat Industri dan Perdagangan Kota Surabaya (Koleksi: http://www.kitlv.nl)

Di waktu pemogokan besar ini dimaloemkan orang mesti putar kajoen di seluruh kota Surabaya dan orang nanti bisa dapat pemandangan luas tentang pabrik mesin yang dimogoki. Baca lebih lanjut

Rekest C.S.I tentang Inlandsche Verponding pada Gubernur Generaal

Kediaman Gubernur Jendral Batavia (Foto Koleksi: Kraton Kasunanan Surakarta)

Kediaman Gubernur Jendral Batavia (Foto Koleksi: Kraton Kasunanan Surakarta)

Tahun 1920-an merupakan tahun-tahun dimana kesulitan ekonomi mulai melanda Hindia Belanda setelah booming industri gula pada tahun-tahun sebelumnya. Penurunan pendapatan pemerintah kolonial Belanda membuat Gubernur Jendral Dirk Fock memberlakukan kebijakan ekonomi yang ketat dengan melakukan pemangkasan terhadap pengeluaran pemerintah dan menaikkan berbagai pajak salah satunya adalah dengan memberlakukan “Inlandsche Verponding”. Pajak baru ini ditentang oleh berbagai elemen kaum pergerakan karena dianggap semakin membuat rakyat terpuruk. Di bawah adalah rekest (petisi) dari Centraal Sarekat Islam yang berisi penolakan terhadap diberlakukannya pajak baru tersebut. Baca lebih lanjut

Iring-Iringan Pemakaman Pada Masa Kolonial

Pemakaman Warga Tionghoa di Tepekong Surabaya 1900 (Koleksi: www.kitlv.nl)

Pemakaman Warga Tionghoa di Tepekong Surabaya 1900 (Koleksi: http://www.kitlv.nl)

Pernahkan kalian terlibat dalam upacara kematian atau ikut mengantarkan jenazah ke peraduan terakhir yaitu tanah makam? Bagi sebagian besar pasti sudah pernah terlibat bahkan ikut serta dalam iring-iringan tersebut. Iring-iringan pemakaman merupakan salah satu prosesi dalam upacara pemakaman seseorang yang telah meninggal dunia. Proses perjalanannya merupakan keunikan tersendiri bila kita perhatikan, apalagi bila kita membandingkannya antara peristiwa masa kini dengan peristiwa yang sama tetapi pada masa lampau. Baca lebih lanjut

Tukang Becak Di Surabaya Tahun 1950 Dalam Jepretan Lex De Herder

Becak berjejer parkir di sebuah pasar di Surabaya tahun 1950 (Koleksi: www.geheugenvannederland.nl)

Becak berjejer parkir di sebuah pasar di Surabaya tahun 1950 (Koleksi: http://www.geheugenvannederland.nl)

Masih asyik berkutat dengan kota Surabaya, kota yang menjadi salah satu kota utama sejak masa lampau hingga saat ini. Banyak momen yang menarik untuk dibahas walaupun dengan cara yang sederhana. Kota Pelabuhan, Metropolitan, Industri, Jasa, dan Perdagangan sehingga menarik banyak masyarakat untuk hidup dan tinggal di kota Surabaya. Surabaya seperti hal-nya kota besar lainnya menjanjikan sebuah kehidupan yang lebih baik dalam bidang ekonomi. Tetapi, kehidupan memang tidak berjalan sesuai rencana, maksud hati ingin membawa mobil tetapi nasib mengantarkan untuk mengayuh becak. Baca lebih lanjut

Sisi Kota Surabaya Tahun 1950 Melalui Jepretan Lensa Lex De Herder

Pasar Blauran Surabaya 1950 (Koleksi: www.geheugenvannederland.nl)

Pasar Blauran Surabaya 1950 (Koleksi: http://www.geheugenvannederland.nl)

Surabaya, 5 tahun setelah kemerdekaan, telah banyak berbenah. Tentunya kita akan berpikir bahwa sisa-sisa bombardir tentara Inggris (Sekutu) masih menghiasi jalanan kota ini tetapi kenyataannya tidak tampak sama sekali. Kota Surabaya terlihat eksotis melalui jepretan foto karya Lex De Herder. Awal tahun 1949, Lex de Herder dikirim ke Indonesia sebagai wajib militer. Ia ditempatkan di Surabaya (Jawa Timur) dari 15 Februari sampai dengan 15 Juli 1950. Selain fotographer, ia adalah seorang penyiar radio untuk pasukan Belanda di Radio Republik Indonesia Serikat dan mengajar fotografi untuk para prajurit. Dari Hasil jepretan lensanya Lex De Herder menyajikan sisi kota Surabaya yang begitu berbeda pasca perang. Objek yang dihasilkan banyak berkisah mengenai kehidupan pinggir kota Surabaya yang mungkin tidak terpikirkan oleh kita. Baca lebih lanjut