Pedagang Kecil dan Pergerakan

Para pedagang kecil di Jawa tahun 1900 (koleksi: tropenmuseum).

Para pedagang kecil di Jawa tahun 1900 (koleksi: tropenmuseum).

Semenjak timbulnya malaise yang tidak ada habisnya, maka kaum pedagang kecil mengerti, bahwa nasib mereka itu tidak berbeda dengan nasib kaum buruh biasa belaka. Pedagang-pedagang kecil itu tidak lain, melainkan kaum buruh dari kemodalan besar. Nasib mereka tergantung pada keadaan kaum buruh dan mereka pun tidak hindar dari hisapan kaum modal besar serta jadi bola permainan kaum modal. Mereka seolah-olah “schakel dan buffer” (besi gandengan dan tatapan) antara kaum kapital dan kaum buruh serta kaum tani. Baca lebih lanjut

Iklan

Iring-Iringan Pemakaman Pada Masa Kolonial

Pemakaman Warga Tionghoa di Tepekong Surabaya 1900 (Koleksi: www.kitlv.nl)

Pemakaman Warga Tionghoa di Tepekong Surabaya 1900 (Koleksi: http://www.kitlv.nl)

Pernahkan kalian terlibat dalam upacara kematian atau ikut mengantarkan jenazah ke peraduan terakhir yaitu tanah makam? Bagi sebagian besar pasti sudah pernah terlibat bahkan ikut serta dalam iring-iringan tersebut. Iring-iringan pemakaman merupakan salah satu prosesi dalam upacara pemakaman seseorang yang telah meninggal dunia. Proses perjalanannya merupakan keunikan tersendiri bila kita perhatikan, apalagi bila kita membandingkannya antara peristiwa masa kini dengan peristiwa yang sama tetapi pada masa lampau. Baca lebih lanjut

Festival Cioko Penghormatan Kepada Leluhur

Festival Rebutan (Cioko) di Surabaya tahun 1890 (Koleksi: www.kitlv.nl)

Festival Rebutan (Cioko) di Surabaya tahun 1890 (Koleksi: http://www.kitlv.nl)

Melihat-lihat hasil unduhan foto dari situs kitlv ada yang menarik hati, sebuah foto perayaan keagamaan di Surabaya. Dalam keterangan disebutkan dengan nama rebutan festival atau orang Tionghoa menyebutnya festival Cioko. Festival Cioko ini dilaksanakan oleh masyarakat Tionghoa sejak lama dan hingga kini masih terus dilakukan. Foto masa kolonial tersebut menunjukkan bahwa festival Cioko tersebut dilaksanakan pada tahun 1890 di kota Surabaya dengan kemegahan dan keramaian masa tersebut yang cukup mempesona. Tidak dipungkiri bahwa Festival Cioko ini juga menjadi kekayaan khasanah budaya Indonesia yang semakin beragam. Di bawah ini adalah sejarah muculnya Festival Cioko tersebut di negeri Tionghoa yang diambil dari berbagai sumber. Baca lebih lanjut

ETNIK TIONGHOA DI SURAKARTA

Etnik Tionghoa di Surakarta

Tulisan ini mungkin bukan sebuah tulisan tentang masyarakat Tionghoa di Surakarta yang komprehensif tetapi sekedar catatan kecil pengetahuan dari keberagaman masyarakat yang tinggal di Surakarta. Dan banyak serpihan-serpihan sejarah masyarakat Tionghoa di Surakarta dalam tulisan ini yang masih tercecer diluar belum terangkum menjadi satu. Tetapi itu menjadi bagian dari kita untuk terus mencoba melengkapi hingga menjadi rangkaian mozaik yang utuh dari keunikan masyarakat yang tinggal di Surakarta sehingga dapat menjadi pemahaman kita akan kehidupan yang beragam. Baca lebih lanjut

Pemukiman Tionghoa di Surakarta Masa Kolonial

Pemukiman Tionghoa di Surakarta Tahun 1901 (Koleksi: http://www.kitlv.nl)

Pemukiman masyarakat Tionghoa terletak di utara Sungai Pepe sekitar Pasar Besar ke timur di Ketandhan hingga Limalasan, ke utara sampai di Balong, ke sebelah utara menuju Warungpelem. Sedangkan pemukiman masyarakat Arab terletak di Pasar Kliwon dan Kedung Lumbu. Pemisahan ini menunjukan adanya sebuah politik segregasi yang diciptakan oleh pemerintah kolonial sebagai kontrol atas kekuasaan politiknya. Hingga saat ini pemukiman-pemukiman tersebut masih bertahan walaupun telah terjadi persebaran penduduk ke wilayah-wilayah lain di Surakarta. Sebagian besar etnik Tionghoa di Surakarta tinggal di kota, pada umumnya tempat tinggal mereka merupakan deretan rumah yang berhadap-hadapan di sepanjang jalan utama. Deretan rumah-rumah tersebut merupakan rumah-rumah petak di bawah satu atap dan tidak memiliki pekarangan. Bentuk rumah diperkampungan etnik Tionghoa juga dapat terlihat dengan jelas karena memiliki ciri-ciri yang khas yaitu pada ujung atapnya selalu lancip dan ada ukiran-ukiran yang berbentuk naga. Perumahan semacam ini nampak di daerah Pasar Legi, Pasar Gedhe dan daerah Secoyudan. Baca lebih lanjut

Sejarah Masyarakat Dan Judi

 

“Judi (judi), menjanjikan kemenangan
Judi (judi), menjanjikan kekayaan
Bohong (bohong), kalaupun kau menang
Itu awal dari kekalahan
Bohong (bohong), kalaupun kau kaya
Itu awal dari kemiskinan” (“Judi” karya Rhoma Irama)

Perjudian sebuah permainan yang mengasyikan dan banyak disukai oleh masyarakat diberbagai belahan dunia karena memberikan keuntungan.  Sejarah judi ada dan sama panjangnya dengan sejarah peradaban manusia itu sendiri. Para penjudi primitif adalah para dukun yang membuat ramalan ke masa depan dengan menggunakan batu, tongkat atau tulang hewan yang dilempar ke udara dan jatuh ditanah. Biasanya yang diramal pada masa itu adalah nasib seseorang pada masa mendatang. Baca lebih lanjut