Komunisme dan Pan-Islamisme: Pidato Tan Malaka pada Kongres Keempat Komunis Internasional 12 November 1922

Tan Malaka Bersama Anggota Komintern pada Kongres Komintern ke-4 tahun 1922

Tan Malaka Bersama Anggota Komintern pada Kongres Komintern ke-4 tahun 1922

Ini adalah sebuah pidato yang disampaikan oleh Tan Malaka pada Kongres Keempat Komunis Internasional di Moscow 12 November 1922. Mengambil masalah dengan tesis yang disusun oleh Lenin dan diadopsi pada Kongres Kedua, yang telah menekankan perlunya sebuah “perjuangan melawan Pan-Islamisme”, Tan Malaka berpendapat untuk pendekatan yang lebih positif. Tan Malaka (1897-1949) terpilih sebagai ketua Partai Komunis Indonesia pada tahun 1921, tetapi pada tahun berikutnya dia dipaksa untuk meninggalkan Hindia Timur oleh pemerintah kolonial. Setelah proklamasi kemerdekaan pada bulan Agustus 1945, ia kembali ke Indonesia untuk berpartisipasi dalam perjuangan melawan kolonialisme Belanda. Dia menjadi pemimpin dari Partai Murba (Partai Proletar), yang dibentuk pada tahun 1948 untuk mengatur oposisi kelas pekerja terhadap pemerintahan Soekarno. Pada Februari 1949 Tan Malaka ditangkap oleh tentara Indonesia dan dieksekusi. Baca lebih lanjut

Iklan

Sekolah Sarekat Islam Semarang: Pendidikan Yang Humanis

Where is Revolutions black white

Tan Malaka sebagai penggagas pendirian sekolah Sarekat Islam Semarang dan Sekolah Sarekat Islam Bandung memberikan penjelasan mengenai sistem pengajaran yang akan dilaksanakan bagi sekolah ini. Ada tiga tujuan yang hendak dicapai dengan didirikannya sekolah Sarekat Islam Semarang ini:

  1. Memberi coekoep banjak djalan (kepada para moerid) oentoek mendapatkan mata pencaharian di dunia jang kapitalistis (berhitoeng, menoelis, ilmoe boemi, bahasa Belanda, Melaju, Djawa).
  2. Memberi hak kepada para moerid oentoek mengikoeti kegemaran (hobi) mereka dengan membentoek perkoempoelan-perkoempoelan.
  3. Mengarahkan perhatian para moerid pada kewadjiban mereka jang akan datang terhadap djutaan keloearga Pak Kromo.[1]

Baca lebih lanjut

SI Semarang dan Onderwijs (1921)

Sekolah Lagere School di Jawa 1920 (Koleksi: http://www.kitlv.nl)

Kekuasaan Kaum – Modal Berdiri atas didikan yang berdasar kemodalan.
Kekuasaan Rakyat hanyalah bisa diperoleh dengan didikan kerakyatan.

Sarekat Islam Semarang menjadi model pergerakan yang memberikan pendidikan kepada masyarakat yang berbeda dari model pendidikan yang diberikan oleh pemerintah kolonial Belanda. Model pendidikan yang dirancang oleh Tan Malaka melalui brosur kecilnya pada tahun 1921 menunjukan pendidikan kerakyatan, pendidikan yang mendekatakan murid terhadap realitas sosial masyarakatnya. Pendidikan yang akan membawa murid-murid sekolah Sarekat Islam Semarang menjadi pemimpin-pemimpin pergerakan melawan kekuasaan kolonial Belanda.

Tulisan Tan Malaka mengenai sekolah Sarekat Islam Semarang dan pendirian sekolah Sarekat Islam ini, mengharuskan pemerintah kolonial Belanda untuk menangkap dan membuang Tan Malaka ke luar Hindia Belanda. Tan Malaka dianggap mengganggu ketertiban dan keamanan bagi kekuasaan kolonial Belanda. Brosur singkat ini member gambaran bagaimana sekolah Sarekat Islam Semarang didirikan dan dijalankan. Baca lebih lanjut

“Varwel” Malaka

Tan Malaka

Semarang  tahun 1921 terkenal sebagai kota pusat kaum merah di Hindia Belanda. Pada masa itu di Semarang terdapat markas VSTP  (Vereeniging van Spoor en Tram Personeel), serikat pekerja kereta api yang paling teratur dan terorganisir di seluruh Hindia Belanda yang didirikan tahun 1904 dengan hampir sekitar 17000 anggota yang secara rutin membayar iuran keanggotaan dan memiliki cabang diberbagai daerah serta memiliki surat kabar yang terbit secara teratur dan modern. Semarang kota tempat Partai Komunis Indonesia (PKI) yang diketuai oleh Semaoen dan sebagai partai kader karena massa rakyat berada pada organisasi Sarekat Islam (SI) Semarang yang telah berafiliasi bahkan telah menjadi bagian dari PKI. Kedua organisasi ini memiliki alat propaganda yang sama-sama modern yaitu surat kabar Het Vrije Woord dan Suara Rakyat (diketuai oleh Darsono) untuk PKI, sedangkan SI Semarang memiliki surat kabar Sinar Hindia.

Begitulah suasana pergerakan kota Semarang ketika pertamakali Tan Malaka datang, suasana jaman pergerakan yang sedang bergejolak akibat dari guncangan ekonomi, semakin represifnya pemerintah kolonial Belanda dengan mengeluarkan berbagai undang-undang yang sangat membatasi masyarakat untuk berserikat, berkumpul, menulis, bersidang dan berbicara. Dan yang lebih menakutkan bagi para aktivis pergerakan pada saat itu adalah exorbitante rechten hak istimewa gubernur jendral untuk membuang para aktivis pergerakan yang dianggap mengganggu keamanan dan ketertiban pemerintah Kolonial Belanda. Baca lebih lanjut

Nasibnya Anak SI School

Sinar Hindia, 16 Februari 1922

Oleh: Anak SI School

Anak yang melarat begini berat

Guru saya ke Bandung rasa sehat

Anak merasa senang dapatnya berkat

Tidaklah datang kabar ditangkap

Anak menangis tunggu papahnya

Papah ditangkap sebab apa salahnya

Salah dan betul baik ditanya

Guru SI School rumahnya Baca lebih lanjut