Ronda Kampung

Pos Ronda di Jawa tahun 1853 (Koleksi: www.kitlv.nl)

Pos Ronda di Jawa tahun 1853 (Koleksi: http://www.kitlv.nl)

Malam semakin merayap, sementara kelelahan menghinggapi tubuh-tubuh yang seharian beraktifitas. Di dalam kelelahan terbentik niat untuk merebahkan diri melepaskan penat, tetapi tugas dan kewajiban dalam kehidupan sosial juga harus dipenuhi. Menjaga keamanan lingkungan secara bersama-sama atau biasa disebut juga “Ronda Kampung” menjadi kewajiban kita dalam menjaga keamanan lingkungan.

Sebenarnya ronda kampung dalam gambaran saya dan penafsiran saya adalah sebuah kegiatan ala militer dalam mengamankan base camp mereka. Dalam beberapa games strategi yang saya mainkan selalu ada opsi untuk membuat “Watch House” atau Pos Ronda. Tempat ini biasanya sebagai tempat berkumpul petugas ronda untuk mengintai para penyusup ataupun serangan musuh yang dilakukan secara diam-diam. Pos ronda juga memberikan pandangan yang luas atas wilayah yang dikuasai sehingga memberikan peringatan dini akan datangnya suatu bahaya.

Tugas ronda memang terkadang membosankan karena harus menunggu di sebuah pos setelah awalnya berkeliling lingkungan memastikan suasana aman, maka untuk melepaskan kebosanan maka biasanya di pos ronda disediakan makanan camilan dan teh hangat serta kopi sebagai teman ngobrol. Bahkan terkadang ada juga hiburan berupa TV dan Organ Tunggal ditambah kartu remi dan gaple, maka menjadi lengkaplah acara ronda malam. Kenyaman ini membuat petugas ronda betah untuk berlama-lama di pos ronda, bahkan hingga pagi hari.

Ronda memang mengasyikan, dan mari kita sedikit memundurkan waktu bahwa aktifitas ini mungkin sudah ada sejak manusia harus survival di lingkungannya. Mereka menjaga kelompoknya dari serangan hewan atau kelompok lain yang hendak mencelakakan mereka. Tetapi tentu saja tidak senyaman sekarang. Dan saya beruntung mendapatkan suasana yang mirip dengan jaman sekarang dari sebuah foto masa kolonial milik KITLV, walaupun banyak perbedaannya. Tetapi pada dasarnya bahwa aktifitas jaga Ronda mendekatkan kita kepada hubungan interaksi yang intensif dengan tetangga kita sehingga dapat memunculkan keakraban ditengah semakin individualisnya manusia. Dan kita sungguh beruntung masyarakat kita masih menjalankan budaya Ronda ini….

—————-0000000————-

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s